Sedang Membaca
Kisah Blater Madura Durrahman yang Berani Mati demi Gus Dur
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Kisah Blater Madura Durrahman yang Berani Mati demi Gus Dur

Avatar

Ini cerita Durrahman. Nama Aslinya Abdurrahman. Barasal dari Desa Pinggir Papas, Kalinget Sumenep Madura. Seorang blater, semacam preman. Sejak tahun 2010 hingga 2015 lalu menjadi Komandan Banser Sumenep. Jauh sebelum menjadi komandan, ia juga sudah aktif di Banser, terutama pada sekitar tahun 2002. Durrahman menjadi satu di antara 600 Banser yang dikumpulkan oleh Kiai Rahem, untuk menjadi “pasukan berani mati” bagi Gus Dur.

Penuturan Durrahman ini yang membedakan Gus Dur dengan Erdogan di Turki. Ceritanya bermula dari gonjang ganjing Gus Dur akan diturunkan sebagai Presiden. Kiai Rahem mengambil alih komando. Kiai ini salah satu fans berat Gus Dur. Kata-katanya yang sulit saya lupakan, “ saya akan ikut Gus Dur kemana aja. Bahkan di ajak ke neraka pun, saya mau”.

Kiai Rahem mengumpulkan pemuda yang suka rela untuk berangkat ke Jakarta. Konsekuensinya jelas. Mati. Durrahman berani mati. Ia lalu pamit ke keluarganya. Mereka menangis dan mengizinkan. Sautu waktu, di antarlah Durrahman diiringi oleh keluarganya dengan iringan shalawat dan air mata.

Ibarat mau perang betul dan sudah direlakan oleh keluarganya, sebelum berangkat ia melakukan ritual tradisi “nyonok e bherumanah emak” (lewat di bawah selankangan orang tua dengan cara merangkak selama tiga kali). Ritual ini biasanya dilakukan oleh Blater yang mau melakukan carok. Sebagai bentuk permintaan maaf kepada orang tua sekaligus restu kepada ibu. dengan ritual itu akan dipercaya akan slamet.

Sebelum ke Jakarta, Durrahman dikumpulkan dulu di rumah Kiai Rahem. Ternyata Durrahman tidak sendiri. Ia bersama sekitar 600 orang dari Sumenep  yang siap mati dan berangkat ke Jakarta dengan niat membela Gus Dur. Durrahman dipercaya oleh Kiai Rahem untuk menjadi komandan pasukan berani mati Gus Dur.

Berangkatlah ke Jakarta. Sesampainya di Jakarta, bertemu dengan ribuan orang yang juga siap mati dan tinggal menunggu intruksi Gus Dur. Mereka menunggu keputusan selama  beberapa hari. Saban ada kesempatan, Durrahman dan yang lain berlatih senjata tajam. Ada yang menebas dirinya dengan pedang, celurit, bahkan pistol. Sementara di hadapan “pasukan” itu, tentara berbagai lapisan bersiap diri. Pasukan berani mati ini hanya menunggu intruksi dari Gus Dur. Hanya menunggu instruksi. Itu saja.

Suatu sore, Durrahman diminta berkumpul bersama para komandan pasukan dari daerah lain, terutama  dari daerah di Jawa Timur. Durrahman sudah senang. Karena ia akan berperang. Setidaknya kalau mati ia membela kiai, bukan hanya urusan carok yang biasa dilakukan oleh blater sejenis dirinya.

Saat sudah berkumpul dengan para komandan lain dan akan ada keputusan penting, ia menunggu dengan senang. Karena Gus Dur akan menyampaikan sesuatu yang penting. Selang beberapa waktu, Gus Dur berbicara di gagang telepon dan disambungkan melalui speaker. Salah seorang komandan melaporkan bahwa sudah banyak pasukan berani mati untuk Gus Dur. Tinggal menunggu intruksi saja untuk mempertahankan Gus Dur. Hanya intruksi saja. Tiba-tiba Gus Dur marah. Terlihat dari nadanya yang keras.

“ Pulang. Pulang. Pulang sana. Saya tak mau ada sedikit pun darah menetes hanya karena kekuasaan. Pulang, pulang, pula sana.”

Durrahman dan yang lain diam waktu itu. Hening sekali. Saat menceritakan ucapan Gus Dur itu kepada saya, mata Durrahman berkaca-kaca. Ucapannya mengandung magis. Karena bagi dia yang seorang blater di Madura, urusan mati tak lebih penting dari harga diri.

Ia beranggapan, bahwa saat Gus Dur akan ditumbangkan menjadi presiden, hal itu bukan hanya menyangkut harga diri Gus Dur, tetapi dirinya sebagai orang yang mencintai Gus Dur.

Dalam alam pikir Durrahman, bagaimana mungkin jabatan presiden itu tak penting disaat banyak politisi lain yang ingin mengejarnya? Di kampungnya saja, kerap terjadi carok saat urusan kepala desa. Tapi bagi Gus Dur, darah dan perang saudara itu harus terus dihindarkan. Kemanusiaan lebih utama dari sekadar jabatan duniawi semata.

Baca Juga
Hari Santri, Kita Baca Asal-Usul Pesantren di Jawa

Seketika Durrahman sadar. Latihan silat, kekebalan, dan ajian-ajian hizib itu bagi Durrahman akhirnya menjadi tidak penting lagi untuk menyerang orang lain. Hal yang utama adalah melindungi perang dalam diri sendiri.

Bagi Durrahman, Gus Dur telah memanangkan pertarungan itu dalam dirinya sendiri. Karena semuanya menjadi tidak penting dari pada mencintai orang lain. Gus Dur telah membuka mata hati Durrahman, seorang blater dari Madura.

Beberapa waktu kemudian, saya membaca buku milik dosen saya sewaktu masih S1 di Institut Ilmu Keislaman Annuqayah. Nama dosennya,  Dr. Wahid Hasan. Bukunya berjudul Mengarungi Jagad Spritualitas Bangsa, terbit tahun 2016. Buku ini berasal dari disertasinya di UIN Sunan Ampel Surabaya.

Sepritualitas Gus Dur adalah spritualitas humanis. Bahwa mencintai Tuhan adalah dengan mencintai manusia. Karena dengan rasa cinta terhadap manusia itulah Durrahman gagal mati atau membunuh orang lain. Jasad Durrahman memang tidak mati. Tetapi hawa nafsunya telah dibunuh oleh Gus Dur.

Bagi Durrahman, ini jejak penting yang sulit dilupakan. Durrahman memang tak banyak bertemu Gus Dur. Tak pernah tahu tentang teori politik, toleransi, dan humanisme. Tetapi teladan Gus Dur itu akan terus diwariskan kepada anak cucunya. Bahwa harga diri itu tak lebih penting dari cinta kepada manusia yang lain.

Catatan: Terlalu banyak kisah Gus Dur di Sumenep. Di antaranya ke Annuqayah, satu pesantren tertua di Madura. Gus Dur sering berkunjung juga ke Kiai Suhil di daerah Ambunten. Terlalu banyak cerita Gus Dur yang bersinggungan dengan para kiai, akadimisi, politisi, atau masyarakat kecil. Posisi blater di Madura adalah seperti preman, yang akrab dengan kekerasan. Carok di Madura biasa dilakukan oleh blater.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top