Sedang Membaca
Sepercik Kisah Masa Kecil Nabi Muhammad
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Sepercik Kisah Masa Kecil Nabi Muhammad

Abdillah Mubarak Nurin

Sekitar sepuluh tahun yang lalu, seorang sahabat saya pernah mengungkapkan keharuannya, bahkan tak jarang sampai meneteskan air mata tatkala dia mendengar syair maulid Wulidal Huda. Dia mengungkapkan, “Sepuluh kali lipat jahatnya seseorang dibanding kejahatan saya tentu akan menangis bila mendengar syair Wulidal Huda itu,” lirihnya.

Kebetulan, sebelum aktif dalam grup maulid kami, dia adalah preman di kampung kami. Syair maulid Wulidal Huda, entah mengapa, begitu berkesan baginya.

Belakangan, saya baru mengetahui dari salah satu buku Kiai Husein Muhammad, bahwa syair Wulidal Huda, yang selalu membuat sahabat saya terharu itu, merupakan puisi yang ditulis oleh Ahmad Syauqi Beiq, penyair terkemuka Mesir, dan pernah dilantunkan oleh penyanyi legendaris Mesir, Ummu Kulsum. Berikut sedikit petikan syair tersebut: “Telah lahir sang pembawa lentera/ Alam raya pun berpendar cahaya/Zaman tak henti-hentinya menebar senyum/Puja puji dan kekaguman kepadanya.”

Petikan syair di atas melukiskan tentang bagaimana semesta begitu gembira dengan kehadiran Baginda Nabi Muhammad saw Nabi Muhammad saw dilahirkan pada Senin, 12 Rabiul Awal atau 20 April 570. Tahun Gajah; Tepatnya 50 hari sesudah penyerangan Abrahah al-Asyram untuk menghancurkan Kabah di Mekkah.

Nabi Muhammad saw dilahirkan yatim dirumah Abu Thalib dari Bani Hasyim. Ayahnya, Abdullah, meninggal ketika Nabi masih dalam kandungan. Pada hari ketujuh kelahirannya, Abdul Muttalib, sang kakek minta disembelihkan unta. Kemudian diundanglah masyarakat Quraisy untuk makan bersama. Setelah mereka mengetahui bahwa sang bayi dikasih nama Muhammad, mereka bertanya-tanya kenapa dikasih nama itu. Sang kakek menjawab, “Aku ingin dia menjadi orang yang terpuji.”

Baca Juga:  Ihwal Ditinggal Istri: dari HB Jassin, Dawam Rahardjo hingga Opick

Di kota Arab, sudah menjadi kebiasaan masyarakatnya untuk menyerahkan seorang anak untuk dirawat. Tak terkecuali Nabi saw. Perawatan beliau diserahkan kepada Halimah binti Abi Dzua’ib as-Sa’diyah dari kabilah Bani Sa’d. Sebenarnya, sebelum kedatangan Halimah, Aminah telah menyerahkan Nabi saw kepada Tsuwaibah, budak perempuan pamannya, Abu lahab, untuk beberapa saat. Nabi saw. tinggal bersama Halimah selama empat tahun lebih.

Pada usia Nabi dua tahun, dia sudah pernah dibawa Halimah kepada ibundanya. Namun, akhirnya Nabi saw dibawa kembali oleh Halimah, diceritakan bahwa Halimah merayu Aminah agar membiarkan anaknya lebih lama lagi bersamanya.

Seperti halnya anak-anak kecil lainnya, Nabi saw pun bermain bersama dengan saudara-saudara sesusuannya, salah satunya, Syaima’. Bahkan Nabi saw. pernah menggigit Syaima’ ketika dia masih kecil. Hal tersebut dituturkan Syaima’ puluhan tahun kemudian, ketika ia ditahan bersama tawanan Hawazin lainnya. Saat itu, Syaima’ meminta untuk menghadap Nabi saw ketika sampai di hadapan Nabi saw, Syaima’ berkata,

“Wahai Rasulullah, aku ini adalah saudara sesusumu.” Lalu Nabi bertanya, “Kalau benar engkau saudara sesusuku, mana buktinya?” Syaima’ pun menjawab. “buktinya bekas gigitan di punggungku yang engkau gigit ketika aku menggendonggmu.” Nabi saw. pun mengenalinya.

M. Quraish Shihab menuturkan bahwa pertumbuhan Nabi saw di perkampungan Bani Sa’d sangatlah baik, dalam usia 9 bulan Nabi saw telah dapat berbicara dengan fasih, tidak rewel, juga tidak menangis, kecuali ketika telanjang karena malu dilihat orang. Selain itu, jika di malam hari dia gelisah, Halimah akan membawanya keluar kemah dan dia pun tenang kembali setelah memandang bintang-bintang langit, dan setelah itu dia akan menutup matanya hingga tertidur.

Baca Juga:  Ajaran Tasawuf dalam Serat Sastra Gendhing Sultan Agung

Salah satu peristiwa menakjubkan yang pernah terjadi pada Nabi saw di saat dia masih kecil ialah tentang pembelahan dadanya yang dilakukan Malaikat Jibril. Tidak lama setelah kejadian pembedahan dada Nabi saw, Halimah mengembalikan Nabi saw. kepada ibundanya. Dia pun diasuh oleh ibundanya sendiri untuk beberapa saat.

Annemarie Schimmel menuliskan bahwa riwayat tentang peristiwa pembelahan dada Nabi saw tersebut yang menjadikan hilangnya dia dari asuhan Halimah diyakini oleh para penyair sufi terkemuka sebagai bukti mukjizat Nabi saw dan peran beliau di masa mendatang sebagai pemimpin manusia dan jin. Jalaluddin Rumi menuliskan, ketika menafsirkan suara dari Yang Mahaghaib yang menenteramkan perasaan Halimah—wanita yang gundah itu: Jangan khawatir—dia tidak akan hilang darimu!/Dalam dirinyalah seluruh semesta akan hilang! (Annemarie Schimmel, 2012: 23)

Baca Juga

Nabi Muhammad saw diasuh oleh Aminah sekitar dua tahun. Hingga suatu hari, ketika Aminah dan sang anak pulang dari bepergian ziarah ke makam suaminya di Yatsrib. Sang ibu wafat di Abwa. Nabi saw. pun diasuh oleh kakekknya, Abdul Muthallib. Setelah sang kakek wafat, Nabi saw diasuh oleh pamannya, Abu Thalib.

Baca Juga:  Pesantren di Mata Rendra

Abdul Mun’im Al-Hafni, dalam Ensiklopedia Muhammad Saw-nya menuliskan beberapa sifat yang dimiliki Nabi saw sejak kecil, di antaranya audiensi dan karisma. Setiap kali seseorang berjumpa dengan Nabi saw, ia akan terkesan dengan beliau. Bahkan setiap beliau menghadiri sebuah pertemuan, perkataannya selalu didengar, dipercaya, dan ditaati.

Selain itu, sifat Nabi saw yang juga sangat menarik sejak kecil ialah bahwa beliau sangat menyukai kebersihan, dan beliau pun juga suka tampil sebaik mungkin.

Sewaktu dalam pangkuan Halimah, sebelum berusia lima tahun, Nabi saw tidak suka bermain di tanah, dan juga tidak suka menyantap makanan yang dihinggapi lalat. Begitu juga ketika diasuh oleh Abu Thalib, Nabi saw, sangat memperhatikan dengan tempat tidurnya. Apabila pagi hari, beliau sudah mandi dan menyisir rambutnya.

Begitulah sepercik kisah masa kecil Kekasih kita itu. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah untuknya.

Lihat Komentar (0)

Komentari