Sedang Membaca
Kisah Ajaib Kucing New York

Kisah Ajaib Kucing New York

Abraham Zakky Zulhazmi

Novel itu tipis belaka. Saya dapat di sebuah kios buku bekas di Blok M. Novel itu berkisah tentang Irving.

Irving, kucing ajaib kepunyaan Nona Summersby, bikin geger Amerika gara-gara bisa menyuap makanan dengan cakarnya. Seiring ketenaran Irving, makanan kucing Pussyfoot yang iklannya ia bintangi menaguk untung besar.

Semua bermula ketika, McGruder (kepala bagian iklan Pussyfoot) ‘menemukan’ Irving dalam sebuah audisi. Ia jelas terhenyak melihat kemampuan ajaib Irving. Tak ambil pusing, kontrak iklan segera ia sodorkan ke Nona Summersby.

Keberadaan Irving serupa berkah besar bagi McGruder dan Pussyfoot. Segalanya tampak baik dan menyenangkan hingga kabar buruk itu menyentak: Irving raib sesaat sebelum pengambilan gambar. Kontan seisi kantor panik. Faktanya, Irving diambil orang ketika Nona Summersby sakit dan harus dilarikan ke rumah sakit. McGruder, atas saran sekretarisnya (Maria Drake) menyewa detektif binatang kenamaan (Alain Pierre Bernheim) untuk mencari Irving.

Baca juga:

Singkat cerita, diketahui Irving diculik oleh dia orang yang masih kerabat dekat Nona Summersby. Sialnya, meski penculik berhasil ditangkap, Irving telah lebih dulu kabur dari markas penculik. Runyam. McGruder dan Maria sudah putus asa dan siap menerima keputusan buruk Tuan dan Nyonya Pattibone (pemilik Pussyfoot) ketika Bernheim menyarankan mereka untuk memeriksa apartemen Nona Summersby.

Baca juga:  Hamka Bercerita: Majikan dan Kaum Buruh Beriman

Benar saja, Irving ada di sana! Ia rupanya sedang hamil (ketika lima anaknya lahir, kelima anaknya juga bisa menyuap makanan dengan cakar!).

Tapi bukan di situ akhir novel besutan Art Buchwald ini. Tepat ketika pengambilan gambar dimulai, dokter yang merawat Nona Summersby mengabarkan jika saat ini pasiennya sedang sekarat. Tak ada jalan lain untuk kesembuhannya selain menghadirkan Irving. McGruder diambang dua pilihan: karier atau rasa kemanusiaan. Akal sehat menuntunnya untuk membawa Irving ke Nona Summersby. Tuan dan Nyonya Pattibone naik pitam.

McGruder dipecat. Di sini dapat ditangkap “pesan moral” novel ini: pemilik modal yang sewenang-wenang dan mengabaikan kemanusiaan mesti dilawan!

Pada pungkasan novel, gamblang terbaca bahwa pembela kemanusiaan akhirnya “menang”. Ketika Pussyfoot nyaris gulung tikar akibat ditinggalkan Irving, Tuan dan Nyonya Pattibone memohon McGruder kembali. McGruder sepakat dengan sejumlah syarat, di antaranya mengganti nama produk menjadi Irving’s Delight (sebagaimana judul asli novel ini). Lepas dari terang benderangnya amanat yang ingin disampaikan, sesungguhnya novel ini asyik, ringan dan menghibur. Tepat belaka jadi bacaan anak-anak.

Baca Juga

Humor bermutu, itulah merk Mahbub Djunaidi

Cara Mahbub Djunaidi menerjemahkan novel ini juga sangat kenes dan longgar. Ia gampang saja menerjemahkan you dengan sampeyan, atau oh my God dengan Ya Rabbi atau Ya Allah.

Mengingat latar novel ini New York, terjemahan macam begitu terasa menggelikan, tapi sah-sah saja. Kenapa tidak? (Eka Kurniawan pernah mengomentari cara Mahbub menerjemah. Menurutnya ketika Mahbub menerjemahkan Animal Farm jadi Binatangisme merupakan sebuah terjemahan yang “aneh”).

Baca juga:  Sabilus Salikin (13): Kalbu Rasul sebagai Tempat Wasilah

Di Cakar-cakar Irving, lanturan-lanturan khas Mahbub juga dapat dijumpai. Misalnya pada halaman 62 Mahbub menulis begini: Sementara tersebar sas-sus pagi ini bahwa Irving berada dalam sandera kelompok pecinta binatang yang fanatik.

Tuntutan yang diajukan adalah: lepas semua binatang apa saja dari kebun binatang Bronx (melata atau terbang, beranak atau bertelur, pemakan buah atau pemakan semut, berakhlak atau barbar, buas atau berkesadaran politik). Kalimat dalam tanda kurung merupakan cermin kemerdekaan Mahbub dalam menerjemah.

Terang kiranya, Cakar-Cakar Irving menjadi santapan sedap tidak semata lantaran ceritanya memang bagus, namun juga karena diterjemahkan oleh seorang Mahbub Djunaidi.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top