Sedang Membaca
Muhammad Ali dan Kampanye Islam Damai di Amerika
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Muhammad Ali dan Kampanye Islam Damai di Amerika

Abdulloh Hamid

Hawa dingin minus dua derajat menyelimuti Kota Louisville, negara bagian Kentucky Amerika Serikat. Jalan-jalan sepi. Jarang sekali terlihat orang berada di luar rumah, sekedar nongkrong, datang ke warung, atau berjalan seperti di Indonesia. Sepertinya, hanya saya beserta rombongan yang berada di luar.

Kami jalan kaki bergegas menuju bus penjemutan yang berada di ujung hotel. Ya, hari itu kami keluar menaiki bus, menembus dingin. Tujuannya, kota kelahiran petinju kulit hitam yang melegenda itu: Muhammad Ali.

Nama kota Louisville, mulai babad alas tahuan 1778 oleh George Rogers Clarck– diambil dari nama Raja Louis XVI dari Prancis. Selain terkenal sebagai kota kelahiran Muhammad Ali, kota ini merupakan pusat pacuan kuda internasional. “Kentucky Derby” adalah sebutan lomba pacuan kuda bergengsi tingkat dunia.

Lima belas kilo kami menaiki bus. Setelah kira-kira lima belas menit, kami sampai di bangunan bernama Muhammad Ali Center. Sesampai di sana, baliho cukup besar menyambut kami.

For many years I have dreamed of creating a place to share, teach and inspire people to be their best and to pursue their dreams.” Itulah kalimah Muhammad Ali yang terpampang di baliho, tentu saja lengkap dengan fotonya. “Selama bertahun-tahun saya bermimpi menciptakan tempat untuk berbagi, mengajar, dan menginspirasi orang untuk menjadi yang terbaik dan mengejar impian mereka,” begitu terjemah bebasnya. Mimpi Muhammad Ali, persis seperti mimpin kebanyakan santri di Indonesia: ingin punya tempat mengkader anak-anak untuk belajar.

Penulis di depan foto Ali dengan pukulan lurusnya (straight) yang mematikan itu.

Kami dipandu memasuki gedung, menitipkan barang-barang di tempat penitipan. Di ruang utama terdapat foto-foto berjejer rapi dan artistik (ini yang saya jarang sekali temui di pesantren-pesantren) tokoh-tokoh dunia dan tokoh Amerika yang pernah melakukan kunjungan ke sana.

Lukisan-lukisan Muhammad Ali gaya ekspresionis, dengan sorot mata tajam, dan tentu saja instagramable, mudah dijumpai. Pemandu mengantar kami menaiki eskalator menuju lantai empat.  Di sebalah kanan dan kiri eskalator terdapat ucapan “Welcome” dari berbagai bahasa di seluruh dunia, termasuk bahasa Indonesia “selamat datang”. Kami berasa disambut langsung oleh Muhammad Ali.

Baca Juga:  Noam Chomsky dan Gerakan Islam Progresif

Di lantai empat, kami masuk ruangan teater besar. Di situlah, film tentang kisah perjalanan Mohammad Ali dari kecil sampai wafat. Saya baru tahu, ternyata Ali kecil belajar tinju karena termotovasi ingin memukul pencuri sepeda BMX, yang baru dibeli dengan susah payah.

Dalam perjalanan, Ali bertemu seorang pelatih tinju di Lousville yang bernama “Joe Martin”. Martin bertanya alasan Ali berlatih tinju. Ali kecil, waktu itu umurnya 12 tahun, yang masih bernama Cassiaus Marcellus Clay Gepen K Bane, Jr. menjawab, “Saya ingin menghajar si pencuri sepeda BMX.”

Clay atau Ali kecil lahir 17 Januari 1942 (tiga tahun sebelum Indonesia merdeka) dari seorang ayah yang bernama Cassius Maecellus Clay Sr., seorang pelukis billboard dan rambu lalu lintas. Sang ibu yang bernama Odessa Grady Clay adalah seorang pencuci pakaian.

Ali yang masih bernama Clay mendapatkan penghargaan pertamanya pada tahun 1960, di Roma Italia. Dia meraih medali emas kelas berat ringan.

Tidak lama kemudian, 29 Oktober 1960 ia melakoni debut di ring profesional. Ia menang 6 ronde atas petinju Tunney Hunsaker. Pada 25 Februari 1964 dia merebut gelar juara dunia kelas berat dengan menang TKO ronde 7 dari 15 ronde yang direncanakan atas Sony Liston di Florida Amerika Serikat.

Setelah menang atas Liston, Clay memproklamirkan agama dan nama barunya “Muhammad Ali” dan dia masuk dalam kelompok Nation of Islam (NOI) yang kontroversial (pada buku biografi Ali (2004) Ali mengaku sudah tidak bergabung dengan NOI tetapi bergabung pada Islam Ahlussunnah wal Jama’ah (1975).

1967-1970 di skors dan gelarnya dicabut oleh komisi tinju karena menolak program wajib militer pemerintah Amerika Serikat dalam perang Vietnam kemudia ia berhasil mengajukan banding di Mahkamah Agung Amerika Serikat dan membalikkan hukumannya pada tahun 1971. Selama empat tahun tidak bisa bertarung dan kehilangan puncak karirnya sebagai atlit tinju.

8 Maret 1971 sempat kalah dari Joe Frazier di New York dan harus menyerahkan gelarnya. Namun di 30 Oktober 1974 Ali kembali merebut gelar juara kelas berat WBC dan WBA setelah menumbangkan Foreman di Kinsasha Zaire pada ronde ke 8.

Baca Juga:  Kiai Wahab Chasbullah, Negosiator Penuh Humor

Pada 15 September 1978 Ali mengalahkan Leon Spinks dengan 15 ronde di New Orleans dan dikukuhkan sebagai petinju pertama yang merebut gelar juara kelas berat sebanyak tiga kali. Setahun kemudian 6 September 1979 Ali Mengundurkan diri dari tinju dan gelar dinyatakan kosong.

2 Oktober 1980 Ali kembali ke ring tinju. Namun ia dikalahkan oleh Larry Holmes pada ronde kesebelas. di Ronde itu Ali lemas, tak berdaya dengan darah di mukanya.

Tidak lama setelah itu, Ali menderita gejala sindrom Parkison (seperti tangan gemetar, bicara lamban dan kerusakan pada selaput (membrane) di otak. Dokter pribadi Ali sudah memperingatkan. Tapi Ali tidak mau mendengarkan nasehatnya. Dokter pribadi akhirnya mengundurkan diri.

Setahun kemudian Ali masih mencoba kembali ke dunia tinju melawan Trevor Berbick di Bahama “Drama in Bahama”. Walaupun mampu tampil bagus, namun Ali yang sudah renta dan sakit-sakitan, akhirnya kalah angka 10 ronde. Setelah itu, Ali benar-benar pensiun.

Baca Juga
Noam Chomsky dan Gerakan Islam Progresif

Muhammad Ali sempat mengunjungi Indonesia dua kali, yaitu pada tahun 1973 dan 1996. Pada kunjungan pertama, 20 Oktober 1973 Ali melawan Rudie Lubbers. Pertandingan kelas berat tanpa gelar dilangsungkan di Istora Ssenayan Jakarta. Mereka bertarung selama 12 ronde. Pertandingan ini cukup mengobati rindu para penggemar Ali. “Terkesan pada sebuah negara yang unik yang penduduknya sangat bersahabat dan selalu tersenyum kepada siapapun,” kata Ali waktu itu.

Kegigihan Ali mengajarkan kita sikap pantang menyerah. Ia selalu bangkit dari kegagalan, melawan siapa saja yang tidak berlaku adil pada dirinya. Bahkan penyakit tidak membuat dia menyerah. Enam sifat dan prinsip hidup Ali diabadikan dalam Muhammad Ali Center.

Petama, confidence : keyakinan pada diri sendiri, kemampuan seseorang, dan masa depan seseorang. Kedua, conviction: keyakinan kuat yang memberi seseorang keberanian untuk berdiri di belakang keyakinan tersebut, meskipun ada tekanan untuk melakukan sebaliknya. Ketiga, dedication: tindakan mengabdikan semua energi, upaya, dan kemampuan seseorang untuk suatu tugas tertentu.

Baca Juga:  Nasruddin Hoja: Saya Yakin Anda Benar!

Keempat, giving: memberi, untuk hadir secara sukarela tanpa mengharapkan balasan. Kelima, respect: takzim, penghormatan, penghargaan, atau rasa harga atau keunggulan, diri sendiri dan orang lain. Keenam spirituality: rasa kagum, hormat, dan kedamaian batin diilhami oleh koneksi ke semua ciptaan dan atau yang lebih besar dari diri sendiri.

Tangisan dan kesan sangat mendalam sangat saya rasakan setelah melihat kisah hidup perjalanan Muhammad Ali, bagaimana menjadi minoritas muslim di negara mayoritas memeluk agama Kristen, bagaimana rasanya gelarnya dicabut dan tidak boleh bertanding, sedih pasti namun keteguhan iman dan perjuangannya membuat dia menjadi seorang petarung yang tangguh baik di dalam ring maupun di luar ring.

Pasca terjadinya serangan 11 September 2001, Amerika dilanda gejala Islamphobia. Ali seperti “bertarung” lagi, ia dengan gagah menentang pandangan Islam adalah terorisme. Sebaliknya, ia berkeliling, ceramah, dan bertemua dengan banyak kalangan, mengkampanyekan Islam sebagai agama damai.

Girah Muhammad Ali dalam Islam tinggi sekali, tapi tidak terjebak pada supremasi Islam. Begitu juga pembelaannya pada kulit hitam, bukan mengecilkan kulit putih. Ali hanya menyuarakan yang harus bergema, yakni keadilan untuk semua.

Karena itu, semua orang menghormatinya. Saat Ali wafat 3 Juni 2016, di usia 74 tahun, semua jenis orang berkumpul: Kristen, Islam, Yahudi, kulit putih, hitam, kuning. Ribuan orang menghadiri upacara pemakamannya. Karena itu pula, seorang Clinton dan seorang pendeta Yahudi merasa wajib berpidato di upacara pemakaman, dan petinju Mike Tyson dan aktor Will Smith merelakan diri memanggul keranda sang Petarung Sejati.

Di halaman Muhammad Ali Center sebelum pulang, hawa dingin tak terasa menusuk. Badan saya terasa hangat, oleh semangat dan perjuangan sosok Muhammad Ali. Sebelum memasuki bus, saya balik badan, lalu diam sejenak, mengirimkan kepadanya surah al-Fatihah.

Lihat Komentar (0)

Komentari