Sedang Membaca
Kisah Hubungan NU-Muhammadiyah
Abdul Gaffar Karim
Penulis Kolom

Dr. Abdul Gaffar Karim. Dosen FISIPOL UGM dengan minat riset utama tentang politik dan agama. Lahir di kota santri Sumenep, Madura, menyelesaikan pendidikan di Indonesia dan Australia.

Kisah Hubungan NU-Muhammadiyah

Logo Muhammadiyah Nu 1

Ini perihal hubungan NU dan Muhammadiyah, tapi tidak ada hubungannya dengan keributan “kekanak-kanakan” terkait urusan acara harlah dan Masjid Gedhe Kauman itu.

Yang saya mau ceritakan adalah tentang hubungan NU dan Muhammadiyah setelah adanya pihak ketiga, seperti yang saya alami di Perth.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Kita tahu, dulu NU dan Muhammadiyah itu mirip Tom and Jerry. Mereka selalu ribut kalau ada kesempatan. Apapun bisa dibikin ribut. Selain keributan klasik soal TBC, ada juga sindir-sindiran soal poligami. Membuat keributan, semudah masak mie instan.

Tapi semenjak ada PKS (apalagi ada HTI), NU dan Muhammadiyah jadi rada akur. Ketika sedang studi di Western Australia, kebetulan saya adalah ketua NU di sana. Salah satu problema yang saya hadapi adalah ekspansi politik PKS yang sangat ambisius. Tentu saja, menurut mereka itu adalah dakwah. Tapi dakwah itu disertai dengan target-target elektoral, yang membuat sebagian orang merasa tidak nyaman.

Kondisi ini membuat NU dan Muhammadiyah jadi mendekat satu sama lain. PKS di Perth (waktu itu ya) telah menjadi semacam “musuh bersama” bagi NU dan Muhammadiyah. Ini saya beri tanda petik, sebab PKS bukan musuh beneran bagi NU dan Muhammadiyah; lebih sebagai “rival” ketimbang “enemy” sebenarnya. Musuh kami yang permanen adalah kaum abangan, hehehe… (bercanda boy, bercandaaa…)

Baca juga:  Living Al-Qur'an dan Pesan Kemanusiaan (6): Tragedi 10 November

Anyway, pokoknya segala kiprah politik elektoral-nya PKS di Perth itu terasa tidak appropriate bagi kami, sejumlah orang NU dan Muhammadiyah.

Jadi untuk urusan politik, NU dan Muhammadiyah merapat, sementara PKS berada di seberang sana. Untuk urusan politik lho ini ya. Urusan lain-lain sih beda lagi.

Tapi suasana harmonis antara NU dan Muhammadiyah ternyata tidak menyeluruh. Masalah mulai datang ketika Ramadan menjelang.

Muhammadiyah dengan percaya diri mengumumkan bahwa berdasarkan hasil hisab, hari Valentine, eh maksud saya, hari pertama Ramadlan akan jatuh pada tanggal anu. Cara menyampaikan pengumuman itu terasa jemawa bagi kami para penggemar rukyatul-hilal.

NU yang tadinya mesra-mesraan dengan Muhammadiyah, mendadak sewot. Apalagi kalau mendengar metode rukyat disindir-sindir sebagai metode yang ketinggalan jaman. Wo itu debat bisa jadi panas.

DI tengah kejumawaan itu, kami tetap putuskan akan melakukan pengamanat hilal di penghujung bulan Sya’ban. Setelah menentukan lokasi pengamatan hilal, yakni sebuah titik di pantai barat, maka tanggal 29 Sya’ban itu kami pengurus NU berangkat berombongan.

Demi ukhuwah Islamiyah, kami tentu saja tak berangkat sendirian. Kami berangkat dengan kalangan lain sesama umat Islam. Dengan siapa kami berangkat? Dengan pengurus PKS.

Urusan politik kami akur dengan Muhammadiyah, urusan awal Ramadlan kamu akur dengan PKS. Ini namanya pola-pola koalisi non-permanen yang gampang bergeser.

Baca juga:  Memahami Istilah Kafir dengan Sederhana
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
1
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top