Sedang Membaca
Amar Ma’ruf, Nahi Munkar, dan Mualaf

Direktur Pusat Studi Pesantren IAIN Tulungagung, juga aktif di Pengurus Cabang Lembaga Dakwah NU Tulungagung, Jawa Timur

Amar Ma’ruf, Nahi Munkar, dan Mualaf

Screenshot 20200122 134437~2

Siapa yang tak pernah mendengar ungkapan Amar Ma’ruf Nahi Munkar (AMNM) dalam dunia dakwah Islam? Mayoritas umat Islam bahkan non-muslim juga sering membaca dan mendengar ungkapan masyhur tersebut. AMNM merupakan ajaran prinsip dalam dakwah umat Islam.

Ajaran tersebut mejadi fondasi dalam melaksanakan syiar Islam di muka bumi ini, dan dipastikan semua dai, ulama, tokoh muslim berupaya memaksimalkan nilai mulia tersebut. AMNM pada dasarnya merupakan dua metode berdakwah yang terdiri dari dua sisi yang berbeda. 

Amar Ma’ruf memiliki definisi mengajak kepada kebaikan. Hal ini memiliki implikasi bahwa berbagai upaya yang dilakukan dalam kaitannya dengan masyarakat diorientasikan pada tujuan amar ma’ruf tersebut. Hal-hal yang dirasa belum tertata dengan baik dalam masyarakat dari berbagai sisi kehidupan dilandasi prinsip amar ma’ruf.

Sebagai misal: sisi sosial bermasyarakat masih permisif atau “semau saya” diarahkan pada upaya kebahagian dan keharmonisan bersama. Dari kondisi ini dapat dipastikan bahwa amar ma’ruf menginginkan terciptanya kondisi masyarakat yang penuh kebersamaan dan kebenaran yang universal.

Kebenaran universal adalah kebenaran sebuah nilai yang dapat diterima oleh semua pihak dengan tidak memberi ruang membedakan apapun backgroundnya. Kebenaran ini tidak ada perbedaan agama, kepercayaan, bahasa, warna kulit, negaranya dan lainnya. Setiap manusia pasti menginginkan terciptanya kondisi yang aman, damai, sejahtera, bahagia dan toleran. Nilai-nilai seperti itu menjadi kebutuhan semua orang di muka bumi ini tanpa membedakan siapa dan bagaimana dia. Sehingga, Islam harus bisa mewujudkan kondisi tersebut, dan prinsip ini sering disebut dengan Islam rahmatan lil ‘alamin.

Kembali pada konsep amar ma’ruf, maka dapat dikatakan betapa mulia tujuan dari prinsip dalam dakwah amar ma’ruf. Semua manusia pasti sepakat dengan kebaikan apapun bentuknya. Dari pemahaman ini maka dapat difahami bahwa semestinya setiap orang menjadi agen atau pelaksana dari amar ma’ruf. Sehingga nantinya terbentuk keuarga yang penuh dengan kebaikan, terciptanya masyarakat yang dilingkupi oleh kebikan sehinga semua sisi kehidupan memberi ruang dan tempat untuk menjadi bahagia. Semua berupaya mendorong terkonstruknya masyarakat yang baik.

Pada kutub yang lain-selain amar ma’ruf– terdapat prinsip nahi munkar. Nahi artinya mencegah dan munkar artinya kejelekan, keburukan dan kejahatan. Jadi nahi munkar adalah upaya yang dilakukan manusia untuk mencegah muncul dan berkembangnya praktek-praktek kriminal ataupun bentuk kejahatan dan keburukan lainnya. Nahi munkar sebaiknya dipahami sebagai upaya preventif guna mendukung tercapainya cita-cita mulia dari amar ma’ruf. Ketika upaya mengajak pada kebaikan kemudian disempurnakan dengan mencegah pada keburukan, maka niscaya terwujudnya masyarakat yang baik lebih memungkinkan untuk tercapai. 

AMNM ini merupakan kesatuan yang utuh dan saling mendukung. Mengajak bisa jadi adalah sudah mencakup pada mencegah, karena jika seseorang sudah diajak pada kebaikan dan mau untuk mengikutinya maka kejahatan nantinya tidak terjadi. Nahi munkar tidak terlaksana manakala amar maruf tercapai. Ketika keluarga dan masyarakat sudah mau mengikuti jalan kebaikan, maka kejahatan yang mungkin muncul tidak akan pernah ada. Orang yang sudah ke masjid untuk sholat tentunya pada saat itu dia telah meninggalkan berbuat jahat pada orang lain. Kondisi masyarakat seperti ini yang mustinya diihtiarkan oleh semua fihak.

 

Baca juga:  Moderasi Lintas Agama ke Ideologi

Realitas Dakwah Kaum Radikalis

Namun demikian, saat ini masih sering kita saksikan adanya sekelompok orang atau beberapa organisasi belum memahami konsep dasar AMNM tersebut. Atau mungkin saja sudah memahami namun tidak mengindahkan tujuan mulia dari AMNM. Mereka adalah gerakan atau orang yang sering disebut dengan ekstrimisme, radikalisme, dan bahkan sampai pada terorisme. Masih saja terlihat bahwa dakwah mengambil jalan pada nahi munkarnya daripada mendahulukan amar ma’rufnya. Dakwah yang menimbulkan kesan kasar seperti sweeping tempat hiburan, penutupan warung makan saat puasa, demo penistaan agama, melarang ucapan dan perayaan natal, dan yang lainnya seringkali terlihat di negeri ini. 

 Dakwah dengan membawa “penthungan”, tongkat, batu maupun alat lainnya menjadi contoh betapa dakwah masih seringkali belum memanusiakan manusia. Mereka yang belum memunculkan sikap-sikap dan nilai beragama dianggap manusia yang salah dan sah untuk dihukum dengan begitu saja. Memukuli, menghanguskan tempat tinggal dan usaha, bahkan menghilangkan nyawa tidaklah menjadi beban berat yang semestinya dipikirkan terlebih dahulu sebelum dilakukan. Fenomena seperti ini akhir-akhir ini sering terlihat di berbagai media, bahkan seolah semakin menemukan tempatnya di negeri ini. 

Bukan hal yang salah dengan keinginan dakwah tersebut, namun cara yang dipergunakan perlu dipertimbangkan lagi. Apakah memang benar lebih baik mendahulukan nahi munkar daripada amar ma’rufnya. Apakah benar mereka yang belum islami sah untuk dianiaya dan disakiti? Apakah dengan nahi munkar mereka akan mengikuti dakwah kita? Apakah tidak lebih baik mengajak mereka kepada kebaikan dengan cara-cara yang baik? Apakah kita lupa bahwa kita hanyalah ‘anta mudzakkir” yakni orang yang mengingatkan saja dan bukan orang yang memiliki hak untuk memberikan hidayah kepada manusia “lasta ‘alaihim bi musyaitirin”.

Perlu diingat bahwa hidayah sepenuhnya milik Allah. Allah-lah yang Kuasa untuk menjadikan seseorang mukmin maupun kafir. Manusia hanya berusaha mengajak orang lain untuk menuju jalan-Nya, sementara hasil apakah mereka mau ikut atau tidak manusia tidak bias memaksakannya. Terlebih dalam beragam tidak diperbolehkan memaksa sebagaimana dalil “laa ikraha fi al-diin” (tidak ada paksaaan dalam beragama).

Pada sisi yang lain, beragama adalah hak masing-masing orang. Dalil yang biasa digunakan adalah “lana a’maluna wa lakum a’malukum” (bagi kami amal kami dan bagi kalian amal kalian) atau “lakum dinukum wa li al-diin” (bagimu agamamu dan bagiku agamaku). 

Dalil-dalil tersebut semestinya menjadi pegangan setiap pendakwah. Sehingga ketika dihadapkan pada masyarakat yang memang belum mau untuk mengamalkan ajaran agama tidak begitu saja langsung mengamalkan prinsip nahi munkar. Selain itu semua, perlu difahami adanya prinsip besar Nabi Muhammad dalam berdakwah yakni menyebarkan Islam rahmatan lil ‘alamin (Islam menjadi rahmat bagi semesta alam). Prinsip besar ini harus menjadi ruh dalam semua dakwah, karena memang itu yang diajarkan rosul. 

Bagaimana Dakwah Rasulullah?

Baca juga:  Asal-usul Salib

Betapa tantangan dakwah rasul begitu berat kala itu, bahkan rosul diludahi, dilempari kotoran, dan bahkan hendak dibunuh. Namun demikian, tak pernah ada dalam data sejarah Rasulullag langsung membalasnya dengan kekerasan pula ataupun membunuh dengan cara apapun. Betapa akhlak mulia rosul saat itu Malaikat Jibril turun untuk memberi bantuan dengan tawaran gunung akan diangkat dan ditimpakan kepada kaum kafir dan rosul menolak. Bahkan keluar dari mulut mulia rosul doa “allahummahdi qaumi fa innahum laa ya’lamun” (ya Allah beri hidayah kaumku karena mereka belum mengetahui agamaMu). Rosul memang beberapa kali memimpin perang melawan kaum kafir, namun itu merupakan jalan terakhir yang sudah tidak mungkin ditinggalkan. 

Gambaran Negara Madinah yang dibangun rosul kala itu sering dilupakan beberapa orang dan ormas seperti HTI. Potret masyarakat yang harmonis, multikultur dan toleran menjadi karakteristik masyarakat Madinah. Mereka yang beragama Yahudi, Nasrani, agama/kepercayaan lokal pun bisa eksis dan berdampingan secara damai. Konstruk masyarakat yang ideal menjadi contoh untuk siapapun. Dari contoh ideal tersebut, rosul lebih mendahulukan amar ma’ruf daripada nahi munkarnya. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, mereka yang lebih suka dakwah dengan kekerasan itu meniru siapa? Sementara mereka yang selalu menggembor-gemborkan meniru sunnah rosul?

Nusantara ini sudah mengajarkan cukup lama bagaimana dakwah dilakukan oleh para ulama seperti Wali Songo. Mereka selalu merangkul dan bukan memukul, dakwah yang ramah dan bukan marah. Bahkan dahwah mereka selalu menyatu dengan masyarakat apapun kondisi mereka, bukan malah menjauhi dan menghancurkan tatanan yang selama ini ada. Bagaimana dakwah mereka yang menjadikan banyak saluran dakwah termasuk dengan budaya dan adat. Estafet model dakwah ini yang terus dipertahankan dan dikembangkan oleh para ulama di negeri ini.

Bagaimana dengan Muallaf?

Baca juga:  Berharap Tuah Singa-Singa Muda

Belum lagi jika ditanya bagaimana dengan dakwah untuk para mualaf? Mualaf adalah merka yang baru memulai untuk beragama, mereka baru mengenal agama dan menjalankan nilai dan ajaran agama. Agama bagi mereka adalah bak ibarat menu makanan baru. Ketika di awal mereka mengenal menu tersebut sudah simpati, maka sangat memungkinkan bagi mereka untuk terus melanjutkan mengkonsumsinya. Senang tersebut bisa jadi karena kesan positif yang mereka terima, entah karena bentuknya, rasanya, warnanya dan bisa jadi harganya. Agama apapun itu pastinya mengajarkan kasih sayang dan rahmat bagi manusia.

Ajaran rahmatan lil alamin menjadi karakter menu yang dibawa Islam. Sehingga di manapun dan kapan pun berada, Islam selalu dapat diterima oleh ummat. Wajah Islam yang simpatik perlu dimunculkan sehingga umat tidak takut dan merasa senang untuk mendekatinya. Wajah yang simpatik ini bukan berarti mempermudah atau meremehkan agama, namun lebih pada sisi cara berdakwah di tengah masyarakat yang multikultural. Kesan pertama ini perlu dibangun dengan baik, terlebih untuk mereka yang belum mengenal Islam dan baru memulai. Konsep Yassiru wa laa tu’assiru” bisa menjadi pegangan dalam berdakwah. Selain itu, seorang dai mustinya mempertimbangkan adanya tahap dalam menjelaskan agama kepada mereka, tidak memulai dengan hal yang berat dan mendalam. 

Jika mereka dikenalkan dengan kemudahan-kemudahan, ajakan-ajakan dan kemurahan Allah untuk manusia, sangat dimungkinkan mereka tertarik dan akhirnya menjalankan agama dengan senang hati. Jika mereka sudah menjalani sesuatu dengan senang hati, niscaya mereka akan komitmen dan konsisten dalam beragama. Karena manusia dibekali Tuhan dengan nafsu dan akal, sehingga tidak menutup kemungkinkan mereka akan mempertimbangkan apa yang mereka dapatkan dengan logika dan nafsu mereka. Baru nanti jika mereka sudah mulai mendalam dalam beragamanya, maka apapun yang mereka dapatkan dalam ajaran agama tidak banyak pengaruh terhadap keberagamaan mereka bahkan semakin memperkuat.   

Dari semua gambaran di atas, maka perlu jawabantepat dari pertanyaan mendahulukan amar atau nahi dalam berdakwah? Ataukah bisa keduanya berjalan bersama-sama?

Jawaban pertanyaan tersebut dapat menentukan tipe dakwah seseorang. Jika Anda menjadi pendakwah, maka perlu kiranya memperhatikan sekilas dari ide tulisan ini, agar nantinya tidak salah dalam menjalankan dakwah dan akhirnya merugikan diri Anda sendiri juga orang lain bahkan negara. Sekali lagi yang perlu diingat bahwa dai adalah orang yang mengajak, itu makna utamanya. Dai bukanlah Tuhan yang memiliki otoritas menjadikan orang lain bisa menjadi baik bahkan beragama. Hak perogratif itu hanya milik Tuhan semata. 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
1
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top