Sedang Membaca
Tatimmah, Dua Jilid Pamungkas Metode Cepat Baca Kitab Kuning Amtsilati
Zaim Ahya
Penulis Kolom

Lahir di Batang, 1989. Penulis Lepas, Pegiat di Idea Institut Semarang. Tinggal di Kendal, Jawa Tengah.

Tatimmah, Dua Jilid Pamungkas Metode Cepat Baca Kitab Kuning Amtsilati

82797847 2828274060565404 1033592400997515264 N

Dua buku ini, yang berjudul Tatimmah jilid 1 dan 2, adalah pamungkas dari pada kitab Amtsilati karya Kiai Taufiqul Hakim yang fenomenal itu.

Setelah khatam, hafal dan paham Rumus Qoidah, Khulasoh Alfiyah dan 5 jilid kitab Amtsilati, santri-santri baru menerima dua jilid buku ini, yang akan memandu mereka dalam menerapkan materi nahwu-sorof yang telah dipelajari sebelumnya.

Seperti judulnya, Tatimmah, yang berarti kesempurnaan, dua buku ini menawarkan hal yang penting dalam rangka menguliti teks berbahasa Arab, sekaligus menjadi jawaban bagi santri yang sudah hafal dan paham nahwu sorof namun belum bisa menerapkannya.

Di halaman 13 jilid 1 kitab Tatimmah, kita akan dikenalkan dengan “Tiga Langkah Penting dalam Praktik”. Begini rincian tiga langkah tersebut:

1. Menentukan titik atau koma beserta awal kalimat.

Dalam bahasa Arab klasik, simbol titik atau koma sulit ditemukan, atau bahkan belum digunakan pada saat itu. Mungkin ini pula yang membuat kita sulit untuk menentukan awal kalimat. Padahal menentukan awal kalimat itu menjadi titik awal untuk mengetahui apakah kalimat ini berupa jumlah ismiah atau fi’liah.

Amtsilati hadir mencoba memecahkan kebuntuan itu. Dengan kepiaweannya dan ketekunannya, Kiai Taufiq menghimpun beberapa huruf seperti اما، ف،و،لكن dan lain sebagainya sebagai bayangan titik atau koma, tentu selain kesempurnaan kalimat.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Baca juga:  Sabilus Salikin (47): Ketetapan Malamatiyah

2. Membahas kata perkata sampai pada titik atau koma berikutnya, dengan selalu memperhatikan empat hal:
a. Wazan dan jenisnya
b. Arti atau makna
c. Bayangan dhomir (pada isim atau fi’il)
d. Qoidah (hukum) perkata

Langkah ke dua ini, detailnya telah dipelajari di lima jilid Amtsilati, seperti menentukan wazan dan jenisnya dengan tanda-tandanya.

3. Merangkai dan menerjemahkan dengan memperhatikan:
-Penyaringan dan pentarjihan
-Qoidah perangkaian
-Bayangan dhomir
-Dzauq dan siyaqul kalam
-Uruf/kebiasaan

Pesan Kerudung Bergo

Kalau langkah kedua adalah menentukan kata demi kata, target langkah ke tiga adalah memahami kata dalam konteks rangkaiannya, dan lalu menerjemahkannya. Ketika sudah sampai di langkah ke tiga, tak menutup kemungkinan apa yang telah ditentutan di langkah ke dua akan digugat dan diganti, lantaran tidak cocok secara struktur atau pun makna.

Tahapan di langkah ke tiga yang pertama adalah penyaringan dan pentarjihan. Mungkin Anda bertanya-tanya, apa dan kenapa harus disaring dan ditarjih?

Tentang penyaringan, ini diterapkan ketika terjadi keserupaan, yakni menemui suatu kata yang berpotensi menjadi bermacam-macam jenis seperti memungkinkan kalimat fi’il sekaligus juga kalimat isim.

Cara menyaring dengan memperhatikan Qaidah perkata maupun perangkaian, bayangan dhamir, siyaqul kalam, dzauq, kamus dan uruf atau kebiasaan.

Sedangkan mentarjih, itu dilakukan saat kita menemui kalimat bisa menjadi bermacam-macam namun masih dalam satu jenis, seperti berpotensi menjadi isim fa’il dan isim maf’ul sekaligus, bisa menjadi fi’il ma’lum dan majhul sekaligus dan semacamnya.

Baca juga:  Jelang Munas Alim Ulama (6): Ulama Sumbawa dan Upaya Rekonstruksi Sejarah Kesultanan Islam Sumbawa

Adapun langkah tarjih adalah:

-Antara majhul dan ma’lum yang didahulukan adalah ma’lum
-antara…

Dan seterusnya.

Mendahulukan sesuatu atas sesuatu yang lain juga bukan paten, dalam arti ketika tidak cocok dalam makna atau terjemahan, maka bisa geser menggunakan opsi yang ada.

Selain hal di atas, kitab Tatimmah juga berisi tentang bentuk-bentuk rangkaian huruf yang berpotensi menjadi banyak jenis maupun macam. Contohnya rangkaian kata yang terdiri dari huruf mim dan nun (من).

Dalam Tatimmah dijelaskan, bahwa rangkaian dua huruf itu bisa dibaca:

-“min” sebagai huruf jer yang bermakna sangking atau dari dan setelahnya kalimat isim
-“man” sebagai isim mausul bermakna wong kang dan setelahnya silah
-“manna” sebagai fi’il madhi berdhomir “huwa” bermakna nganugrahake/menganugrahkan
-dan seterusnya…

Tidak hanya rangkaian dua huruf di atas, ada banyak tabel tentang kata-kata lain yang berpotensi menjadi berbagai jenis dan macam.

Begitulah kira-kira secuil uraian tentang kitab pamungkas dari pada Amtsilati. Dilihat dari pencetusan rumus, langkah-langkah, bahkan sampai tabel, menandakan pengarangnya adalah seorang yang tekun, teliti dan kreatif. Bukankah begitu? (RM)

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
2
Senang
3
Terhibur
0
Terinspirasi
2
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top