Sedang Membaca
Perdebatan Ahli Mantiq Perihal Cara Memuji Allah
Zaim Ahya
Penulis Kolom

Lahir di Batang, 1989. Penulis Lepas, Pegiat di Idea Institut Semarang. Tinggal di Kendal, Jawa Tengah.

Perdebatan Ahli Mantiq Perihal Cara Memuji Allah

Img 20201209 062749

Kalau kita amati lebih detail, di dalam beberapa kitab kuning ada perbedaan perihal cara memuji Allah. Ada yang menggunakan jumlah ismiyah  (kalimat nominal), ada juga yang memilih menggunakan jumlah fi’liyah (kalimat verbal).

Perbedaan ini secara  sekilas ini tampak biasa saja, dan terlihat hanya persolan perbedaan mendayagunakan kalimat (jumlah). Namun ternyata tidak demikian, perbedaan para penulis (mushannif) atas pemilihan kalimat (jumlah) perihal cara memuji Allah berdasarkan argumentasi yang memiliki titik tekan yang berbeda.

Argumentasi pemilihan kalimat yang berbeda itu bisa ditemukan dalam dua kitab ilmu Mantiq (logika) yang dipelajari di pesantren Indonesia, yakni kitab Sulamul Munawraq dan kitab Isaghuji.

Sebelum membahas perdebatan mereka perihal cara memuji Tuhan, akan sedikit saya ceritakan perihal dua kitab Mantiq  tersebut.

Dari pada Ishaguji, Sulamul Munawraq lebih familier di kalangan pesantren. Kitab yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahman al-Akhdhari ini umumnya diajarkan di tingkat akhir dari madrasah pesantren, setelah santri mengkhatamkan Alfiyah Ibnu Malik.

Kitab ini biasanya juga diajarkan bersama kitab Idhahul Mubham, penjelas (syarah) kitab Sulamul Munawraq yang ditulis oleh Syaikh Ahmad Damanhuri. Selain itu, kitab ini juga banyak diterjemahkan oleh pemerhati ilmu mantiq di Indonesia. Misalnya terjemah Arab Pegon atas Nazam Sulamul Munawraq yang ditulis oleh Kiai Haji Bisri Mustofa, yang tak hanya menerjemahkan tapi juga memberi penjelasan yang khas dengan contoh-contoh alam pikir orang Nusantara.

Baca juga:  Belajar Toleransi dari Halalbihalal dan “Dugderan”

Salah satu fakta menarik dari kitab ini adalah ditulis ketika Syaikh Abdurrahman al-Akhdhari masih berumur dua puluh satu tahun. Usia yang sangat muda bagi penulis yang karyanya masih dibaca sampai sekarang. Fakta yang lain: Syaikh Abdurrahman al-Akhdhari, selain ahli mantiq juga terkenal sebagai seorang sufi besar sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Ahmad Damanhuri.

Kendati tak sepopuler kitab Sulamul Munawroq, bukan berarti kitab Isaghuji tak dikenal sama sekali di kalangan pesantren. Saya sendiri mengenal Isaghuji dari kitab Isaghuji milik almarhum ayah yang dulu belajar di Pesantren al-Hidayat Lasem yang menangi era Kiai Haji Ma’shum.

Menurut catatan Ahmad Baso dalam buku Pesantren Studiesnya, kitab Isaghuji pernah dipelajari kalangan pesantren dulu, kendati yang terkenal di pesantren sekarang adalah kitab Sulamul Munawraq.

Kitab Isaghuji yang ditulis oleh Syaikh Atsiruddin al-Abhari ini juga memiliki beberapa fakta menarik. Salah satunya adalah perihal arti nama Isaghuji itu sendiri.

Dalam kitab al-Mathla’, penjelas dari kitab Isaghuji, Syaikh Zakaria al-Anshari menampilkan beberapa pendapat perihal nama atau kata Isaghuji.

Salah satu pendapat menyatakan bahwa nama Isaghuji berasal dari bahasa Yunani yang bermakna kulliat yang lima: jinis, nau’, fasl, khossoh dan aradh am. Selain pendapat ini masih ada beberapa pendapat yang dikutip oleh Syaikh Zakaria al-Anshari: Isaghuji bermakna tempat memasuki ilmu mantiq; Isaghuji adalah nama dari filsuf yang memelopori dan membukukan ilmu mantiqIsaghuji adalah panggilan guru kepada muridnya ketika mengajar.

Baca juga:  Pemutaran Perdana Film AMD di Hari Film Nasional 2019

Pendapat lain perihal nama atau kata Isaghuji ini dijelaskan pula oleh Syaikh al-Hafna dalam kitab Hasyiah al-Hafna, penjelas atas penjelas kitab Isaghuji. Menurut pendapat ini, Isaghuji adalah gabungan dari tiga kata Yunani: (1) Isa yang bermakna kamu, (2) Aghu yang bermakna aku, (3) Aki yang bermakna di sini. Sehingga secara keseluruhan Isaghuji bermakna: “aku dan kamu di sini membahas kulliat yang lima.”

Sebagaimana yang telah kita bahas di awal, kedua kitab ini kendati sama-sama membahas ilmu mantiq, namun memiliki perbedaan perihal cara memuji Allah.

Dalam memuji Allah di pembukaan kitabnya, Syaikh Abdurrahman al-Akhdhari menggunakan jumlah ismiyah atau kalimat nominal: الحمد لله. Berbeda dengan  Syaikh Atsiruddin al-Abhari yang menggunakan jumlah fi’liyah: نحمدالله.

Syaikh Ahmad Damanhuri dalam kitabnya menjelaskan, alasan memuji Allah dengan jumlah ismiah bukan fi’liyah, karena dalam memuji  Allah, titik tekannya adalah dzatnya Allah yang tetap (tsabit mustamirrah), dan ini sesuai dengan jumlah ismiyah yang mengandung makna tetap (tsubut) dan selamanya (dawam).

Dengan membaca penjelasannya ini, memuji Allah dengan jumlah ismiyah tampak lebih unggul dari pada yang menggunakan jumlah fi’liyah yang tak memiliki faedah tetap dan selamanya. Lalu, kenapa beberapa ulama, salah satunya adalah Syaikh Atsiruddin al-Abhari dalam kitab Isaghuji, memilih menggunakan jumlah fi’liyah?

Dalam kitab al-Mathla’, penjelas kitab Isaghuji, Syaikh Zakaria al-Anshari menjelaskan, alasan Syaikh Atsiruddin al-Abhari memilih menggunakan jumlah fi’liyah tak lain lantaran ketidakmampuan untuk merealisasikan apa yang terkandung dalam jumlah ismiyah: tetap dan selamanya. Singkatnya, Syaikh Atsiruddin menitik beratkan perihal memuji kepada Allah ini kepada dirinya sebagai seorang manusia, yang tak mungkin bisa selalu memuji kepada Allah secara tetap dan selamanya sebagaimana makna yang terkandung dalam jumlah ismiyah.

Begitu kira-kira perdebatan dan argumentasi para ahli mantiq ini perihal cara memuji Allah. Menarik bukan?

Baca juga:  Mengenang Gus Yasin
Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
1
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top