Sedang Membaca
Alay, Masih Zaman?
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Alay, Masih Zaman?

Eva Mintarsih

Pengantar: Sejak 21 Januari 2019, kami menurunkan 20 esai terbaik Sayembara Menulis Esai Tingkat SMA/Sederajat 2018. Setelah pemuatan lima terbaik, 15 esai berikutnya dimuat menurut urutan abjad nama penulisnya.

—-

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Alay. Label itu sudah tidak asing di telinga kita, karena sudah sering digunakan dalam masyarakat. Kata itu saya dengar ketika seseorang melihat ada anak yang berpakaian berlebihan dan berbicara dengan menggunakan bahasa gaul. Mereka  mengatakan “ Alaaaay, tinggal ngomong biasa aja, terus ngga usah pake pakaian yang berlebihan begitu”. Saya juga pernah melihat tayangan di televisi pada acara musik mengenai anak alay ini. Julukan itu biasanya ditujukan untuk kaum remaja yang berlebihan dalam mengekspresikan diri.

Perilaku tentu dipengaruhi oleh lingkungan. Merujuk Ensiklopedi Amerika, perilaku diartikan sebagai suatu aksi dan reaksi organisme terhadap lingkungannya, hal ini berarti bahwa perilaku baru akan terwujud apabila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan tanggapan yang disebut rangsangan. Dengan demikian maka suatu rangsangan tertentu akan menghasilkan perilaku tertentu pula, Adapun menurut Robert Y. Kwick seperti dikutip Soekidjo  Notoatmodjo dalam buku Pendidikan dan Perilaku Kesehatan, perilaku adalah tindakan atau perbuatan suatu organisme yang dapat diamati dan bahkan dipelajari.

Sebagian besar remaja saat ini telah terkena “virus alay”. Mengapa remaja? Karena pada masa itu remaja sangat mudah sekali erpengaruh oleh semua hal dan memiliki emosi yang labil. Dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari seperti di acara televisi biasanya anak alay menjadi penonton bayaran yang sangat heboh, ramai.

Baca juga:  Jelang Munas Alim Ulama (1): Lima Riwayat Sunan Kalijaga di Pulau Lombok

Bukan hanya itu tak jarang juga dari mereka yang menggunakan bahasa gaul, seperti “Eh cyiinn rempong amat lu”, ada juga yang digunakan dalam sosial media seperti Facebook, BBM, Twitter, Instagram, dan Whatsapp, atau hanya sekedar mengirim pesan pendek kepada teman-temannya seperti, “ Nt4r Qw x3 rmhx lu d3ch”.

Bahkan sampai ada kamus bahasa alay. Sehingga memudahkan anak remaja yang ingin mempelajari bahasa yang biasanya digunakan oleh anak-anak alay lainnya. Untuk mengetahui apakah dia anak alay atau bukan kita tidak perlu bertanya apakah kamu anak alay atau bukan,. Kita dapat mengetahui dengan mudah hanya dengan cara melihat penampilannya saja karena penampilan mereka memang beda, misalnya  memakai aksesoris yang berlebihan.

Yang lebih mengejutkan, hal itu bukan hanya terjadi kepada remaja yang tinggal di daerah perkotaan, tetapi remaja desa juga, bahkan ternyata lebih parah. Hal ini terjadi karena kealayan ini  sangat mudah dan cepat sekali menyebar.

Enggan Berbahasa Daerah

Anak-anak alay juga enggan menggunakan bahasa daerahnya sendiri seperti Bahasa Jawa, Bahasa Sunda, dan Bahasa Batak. Mereka akan menggunakan bahasa gaul atau Bahasa Indonesia yang tidak baku dan disisipi dengan bahasa gaul. Terkadang malah ada yang mencela temannya sendiri ketika ada salah seorang yang masih mengggunakan bahasa daerahnya sendiri dengan perkataan “ehh masih jaman pake bahasa begituan, pake bahasa gaul dikit dong biar keliatan modern dan nggak ketinggalan jaman!!”

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Baca juga:  Hijrah: Pendulum dan Gasing

Mereka yang disentil lantas  menggunakan bahasa gaul yang dinilai lebih modern dan tidak ketinggalan zaman supaya tidak dicemooh oleh temannya sendiri. Kejadian itu dapat dijumpai di sekolah,dan “persaingan” yang seperti itu sudah tidak asing lagi.

Secara tidak langsung hal itu yang membuat hilangnya kebudayaan bangsa Indonesia dalam hal bahasa. Seperti yang kita ketahui bahwa Indonesia sangat luas, memiliki lebih dari 17 ribu pulau dari Sabang hingga Merauke dan memiliki bahasa yang berbeda-beda pada setiap daerahnya. Kebudayaan yang beragam itulah yang menjadi keunikan Indonesia.

Semua itu dapat terjadi karena berbagai macam faktor, seperti masuknya kebudayaan asing. Faktanya budaya asing telah menjadi kiblat bagi generasi muda, mulai dari cara berpakaian, gaya hidup, hingga berbahasa. Budaya asing sangat mudah masuk ke dalam
kehidupan para remaja dengan didukung oleh teknologi yang super canggih.

Para remaja akan sangat dimudahkan dalam hal mengakses internet, untuk mencari tahu hal hal yang membuat kita menjadi tidak ketinggalan zaman atau yang disebut dengan gaul. Mengakses bahasa gaul, trend baju, riasan wajah. Bukan berarti budaya Barat itu semuanya jelek, tapi pengabaian bahasa daerah itulah perkaranya.

Kita tidak bisa menolak adanya teknologi, tetapi kita harus menyikapi teknologi dengan sebaik mungkin jangan sampai kita mati karena teknologi yang sekarang ini sudah masuk hingga kepelosok negeri. Lalu, rasa ingin tahu yang tinggi, karena pada masa ini remaja ingin mencoba berbagai macam hal baru dengan diikuti rasa penasaran yang sangat besar tanpa memikirkan dampak positif atau negatif yang akan ditimbulkan jika melakukan hal itu, apakah akan merugikan atau menguntungkan baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Baca juga:  Dari Redaksi: Workshop Jurnalisme Sastrawi dengan Tema Menulis Biografi Ulama

Selain itu, peran orang tua dalam mengawasi anak-anaknya juga sangat diperlukan. Jangan sampai anak salah langkah dalam melakukan berbagai hal. Kesibukan orang tua yang kadangkala menjadikan anak kurang perhatian dan pengawasan. Seorang remaja yang tadinya biasa-biasa saja, bisa saja tiba-tiba berubah menjadi berlebihan, baik itu dalam hal berpenampilan, sikap, hingga penggunaan bahasa aneh yang sudah dimengerti itu. Semua itu dapat terjadi karena pengaruh pergaulan.

Maka itu, orang tua haruslah memberi perhatian dan pengawasan kepada anak terutama remaja seperti kita, seperti saya, karena di tangan kitalah masa depan Indonesia. Seperti, menanamkan nilai patriotisme dan nasionalisme agar lebih mencintai negeri sendiri. Yang paling penting adalah menanamkan pendidikan karakter kepada para remaja, baik itu di sekolah maupun dirumah.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Jika remaja memiliki karakter yang kuat, maka tidak akan dia melakukan suatu hal yang dapat merusak negaranya sendiri. Hal tersebut bukan hanya kewajiban dari peran sekolah atau orang tua saja untuk mendukung, tetapi masyarakat dan lingkungan juga harus ikut dan terlibat dalam menanamkan karakter kepada remaja.

Menjunjung bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia yang telah tercantum dalam isi sumpah pemuda 1928. Jangan sampai bahasa persatuan hilang karena kesalahan kita sendiri. Kita sebagai pemuda pemudi generasi penerus bangsa sudah seharusnya memiliki semangat perjuangan dalam menjaga dan mempertahankan NKRI

Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top