Sedang Membaca
Pada Mulanya adalah Surat: dari Imam asy-Syafi’i hingga RA Kartini
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Pada Mulanya adalah Surat: dari Imam asy-Syafi’i hingga RA Kartini

Zaim Ahya

Suatu hari Gubernur Asia Tengah Abdurrahman al-Mahdi kirim surat kepada Imam asy-Syafi’i. “Syaikh, saya ingin memahami Islam yang komplit” tulis Gubernur dalam surat, sebagaimana cerita Kiai Said.

Imam asy-Syafi’i memanggil muridnya, Robi’ bin Sulaiman al-Murodi. “Ambil pulpen dan kertas, ayo kita menulis surat untuk Gubernur” pinta sang Imam.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Mulailah Imam asy-Syafi’i berkata, dan Robi’ mencatat, sampai akhirnya tertulis surat berjumlah tiga ratus halaman. Surat tersebut sekarang kita kenal dengan nama kitab ar-Risalah, kitab yang pertama secara sistematis menjelaskan tentang ilmu Usul Fikih.

Lantaran kitab ar-Risalah, Imam asy-Syafi’i ditasbihkan sebagai perumus ilmu Usul Fikih, kendati embrionya sudah ada sebelum ulama yang bernama lengkap Abu Abdillah Muhammad bin Idris ini merumuskannya. Syaikh Syarofuddin Yahya al-Amrithi dalam kitab Tashilut Thuruqot berkata:

Segala puji bagi Allah yang telah menjelaskan # Ilmu usul (fikih) kepada makhluk dan memasyhurkan

Melalui lisan asy-Syafi’i, Allah memudahkan # Maka asy-Syafi’i adalah yang pertama membukukan

Demikian juga, suatu hari salah satu murid Imam al-Ghazali, yang telah lama berkhidmah dan belajar berbagai ilmu kepadanya, merenung dan terlintas dalam hatinya:

“Aku telah membaca dan belajar berbagai macam ilmu dan mengumpulkannya. Sekarang, baiknya aku mengetahui mana ilmu yang bermanfaat bagiku di hari esok dan mendamaikanku di tempat peristirahatanku? Dan mana pula yang tak bermanfaat, sehingga aku meninggalkannya”

Baca juga:  Kisah Ibrahim bin Adham Makan Tanah

Murid itu mengingat munajat Nabi, “Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tak bermanfaat”

Runungan itu ia tuliskan dalam sepucuk surat. Lalu ia kirimkan kepada gurunya, Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad al-Ghazali.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Dalam suratnya, ia bertanya perihal masalah-masalah, meminta nasehat dan doa. “Walaupun karya-karya guru seperti kitab Ihya memuat solusi dari masalah-masalahku. Tapi, aku berkeinginan guru menulis perihal kebutuhanku dalam lembaran-lembaran yang akan selalu ada bersamaku selama hidupku, dan aku amalkan sepanjang umurku, insya Allah,” sang murid meminta.

Imam al-Ghazali pun menulis sebuah risalah, yang juga bisa diartikan dengan makna surat. Sampai sekarang risalah tersebut dipelajari di berbagai pesantren. Santri-santri menyebutnya kitab Ayyuhal Walad. Kitab yang memuat kira-kira dua puluh empat halaman ini, berisi nasehat-nasehat untuk para pencari ilmu supaya bisa belajar dan membedakan ilmu yang bermanfaat dari selainnya.

Tiap kali memulai nasehatnya, Imam al-Ghazali memanggilnya dengan sebutan “walad”, yang berarti anak. Dalam tradisi pesantren memang demikian, guru adalah orang tua murid. Saat dulu masih di pesantren, penulis sering mendengar Kiai Taufiq (penulis kitab Amstilati) menjelaskan, bahwa orang tua itu ada tiga:

Pertama, orangtua yang menyelamatkan kita dari api dunia (orangtua yang melahirkan dan membesarkan kita).

Baca juga:  Islam, Agama yang Menyerukan Perdamaian

Kedua, orangtua yang menyelamatkan kita dari api neraka (guru atau kiai kita, yang mengajarkan kita tentang Tuhan dan untuk apa kita diciptakan).

Ketiga, orangtua pasangan kita, yakni mertua.

Ketiganya harus dihormati dan dipatuhi dan menurut kitab Wasoya, guru lebih dimuliakan melebihi orangtua.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Seperti dalam karya-karyanya yang lain, Al-Ghazali menggunakan perumpamaan-perumpamaan dalam menyampaikan nasehatnya. Misalnya, saat beliau mengritik orang-orang yang beranggapan akan selamat dengan ilmunya tanpa harus diamalkan.

“Seseorang laki-laki pemberani dan ahli berperang, lengkap dengan persenjataan suatu hari berada di hutan bertemu dengan seekor singa yang hendak menyerangnya. Apakah ia akan bisa selamat dari serangan singa, tanpa menggunakan senjatanya?” tulis al-Ghazali—dengan improvisasi dari penulis.

Perihal nasehat, al-Ghazali juga berkata, “Nasehat itu mudah, yang sulit itu menerimanya.”

Mirip dengan kitab ar-Risalah dan kitab Ayyuhal Walad, buku Habis Gelap Terbitlah Terang yang terkenal itu, pada mulanya adalah surat RA Kartini kepada para sahabat penanya di Eropa seperti Nona Estella H Zeehandelaar, Nyonya Ovink-Soer, Nyonya RM Abendanon Mandri, Tuan Prof Dr GK Anton dan Istrinya di Jena Jerman, dan Nyonya Van Kol, sebagainya tercatat dalam kata pembimbing di buku Habis Gelap Terbitlah Terang terbitan Balai Pustaka cetakan 2009.

Surat-surat tersebut kemudian dikumpulkan dan diumumkan pertama kalinya oleh Mr. Abendanon pada tahun 1911 M, dengan judul Door Duisternis Tot Licht, yang oleh Empat Saudara pada tahun 1922 dan Armijn Pane pada tahun 1938 diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang (Imron Rosyadi, dalam RA Kartini: Biografi Singkat 1879-1904)

Begitulah beberapa karya besar, yang pada mulanya adalah surat. Di era kita ini, tampaknya tak banyak orang yang masih menulis surat, namun di era ini pula semangat menulis sangat kuat, seperti menulis status Facebook, story WhatsApp, kicauan Twitter. Singkatnya menulis di media sosial.

Baca juga:  Sabilus Salikin (11): Mursyid Sebagai Khalifah Rasul

Pertanyaannya, apakah catatan-catatan kita di media sosial kelak juga akan menjadi karya, yang dibaca dan bermanfaat bagi generasi selanjutnya, seperti surat-surat asy-Syafi’i, al-Ghazali dan Kartini?

Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top