Sedang Membaca
Spirit Doll: Gaya Hidup Masyarakat Urban dan Hakikat Kebahagiaan
Penulis Kolom

seorang pembelajar garis keras dari Sukoharjo. Mahasiswi di UIN Raden Mas Said Surakarta. Bergiat di Kelas Puisi Alit, COMPETER, dan Kelas Menulis Daring.

Spirit Doll: Gaya Hidup Masyarakat Urban dan Hakikat Kebahagiaan

Ilustrasi Boneka Spirit

Melihat keisengan para artis yang sedang gandrung dengan spirit doll seharga puluhan juta bagi saya bukan menjadi hal biasa. Dalam hati kecil saya yang terdalam sedang bertanya-tanya kira-kira dengan uang puluhan juta dapat mengenyangkan perut berapa orang yang sekarang terdampak pandemi?

Bagi saya, uang itu tak lebih mulia dibandingkan dengan ucapan terima kasih orang-orang di luar sana yang disodori sebungkus nasi kucing secara cuma-cuma, lebih-lebih di masa pandemi. Saya berpikir kembali ketika melihat beranda instagram yang telah disesaki konten video maupun foto spirit doll.

Jujur, berawal dari kekepoan, saya telusuri sampai mendapat informasi kebenarannya secara akurat. Setelah saya melihat dan berpikir kemudian saya merenungkan kembali dari beberapa informasi yang telah saya serap dengan baik-baik. Selama saya bolak-balik menonton setiap konten, tiba-tiba ada sebuah video sosok kakek penjual cilok yang sedang berjalan menjajakan dagangannya. Di sana terlihat beliau kelelahan sekali, beberapa kali beliau duduk beristirahat sejenak.

Saya membaca kolom komentar ada banyak ajakan warganet turut serta mengumpulkan donasi untuk beliau. Saya kembali menyimpulkan secara samar berarti hidup di era sekarang ini semata-mata dinilai dari pandangan mata bukan lagi dari hati nurani. Barangkali ada tetapi hanya segelintir saja orang-orang berhati malaikat berkenan menolong. Apakah benar kehidupan selamanya bergantung pada gaya hidup? Sementara orang-orang yang membutuhkan dianggurkan begitu saja, sebatas melihat pemandangan lauk pauk enak tanpa bisa mencicipi.

Berangkat dari gaya hidup manusia modern zaman sekarang membuat saya bergidik ngeri. Keanehan diliputi keganjilan saya rasa melebihi tingkat kewarasannya sebagai manusia. Fenomena mengadopsi spirit doll saya kira bukan menjadi solusi atas ledakan penduduk di Indonesia. Bukan pula solusi atas banyaknya anak-anak jalanan yang putus sekolah.

Justru sebaliknya, spirit doll membuat gairah para dukun-dukun, paranormal, dan sejenisnya kembali mencuat mengobarkan panji-panji magis mereka setelah sekian lama tenggelam. Spirit doll yang menduduki layar bioskop tanah air dulu itu Annabelle si gadis malang dan Chunky si badut pembunuh. Masyarakat justru terpukau dengan kemunculan keduanya sehingga melupakan kejayaan Jalangkung dan Nini Thowok. Padahal di masa tembang dolanan masih berlaku, Jalangkung maupun Nini Thowok ini menjadi andalan anak-anak ketika dimainkan pas suasana padhang bulan.

Baca juga:  Islam dan Hak Asasi Manusia (2): Rasulullah SAW sebagai Representasi Islam dalam Memandang HAM

Namun, masyarakat selalu latah demi mengikuti trend yang ada tiap episodenya, mereka terlalu tega menanggalkan tradisi di masa lalu. Saya kira sudah tidak ada lagi dukun milenial yang mewarisi keilmuan gaib di masa lalu. Kalau pun memang ada pasti sudah terkonfirmasi positif condong kebarat-baratan, profesi dukun barangkali malah makin dibutuhkan. Barangkali mantra-mantra mereka cukup untuk menyembuhkan jiwa-jiwa yang tengah kesepian di tengah kota metropolitan.

Ivan Gunawan menjadi sosok yang pertama kali disoroti media pada pandangan pertama. Dia mengadopsi dua spirit doll bernama Miracle Putra Gunawan dan Marvelous Putra Gunawan sekaligus diperlakukan layaknya anak sungguhan. Seperti yang sudah saya jelaskan di awal, mengadopsi spirit doll entah berapa pun jumlahnya tidak akan pernah menyelesaikan permasalahan ledakan penduduk atau kasus anak jalanan. Isu-isu yang berseliweran pernah saya dengar, mereka yang mengadopsi spirit doll sama halnya merawat arwah anak-anak yang mati secara tidak wajar.

Ada pula yang mempercayai adanya reinkarnasi anak-anak. Seperti halnya Queen Athena, perempuan asal Malang, Jawa Timur, yang kini tinggal di Jimbaran, Bali. Sejak dua tahun lalu, Queen mengaku telah mengoleksi spirit doll, di mana saat ini jumlahnya telah mencapai 70 boneka.

Perempuan 31 tahun itu mengklaim boneka-boneka yang ia koleksi memang berisi arwah, namun tidak terikat. Para arwah itu disebut bisa pergi bila memang sudah waktunya untuk reinkarnasi sesuai keyakinannya. Bukan hanya itu, Queen menyebut dirinya tidak memiliki ritual khusus seperti yang disebut-sebut di media sosial. Semua boneka arwah itu, disebutnya, murni hanya ia jaga. (Diakses dari Kompas.com 1/1/2022)

Baca juga:  Menjaga Amanat Kekhalifahan

Apabila dengan merawat spirit doll membuat kondisi kejiwaan makin membaik maka itu sah-sah saja, ini sebagai sarana penyembuhan mental. Terutama bagi orang tua yang stress belum bisa merelakan kepergian si buah hati. Tetapi sulit dipercaya bahwa merawat spirit doll justru sama dengan merawat arwah-arwah anak-anak agar mereka bahagia.

Dalam ajaran Islam, kami sendiri tidak diajarkan untuk mempercayai keberadaan arwah yang bersarang pada benda mati. Dalam tayangan melalui kanal YouTube Al-Bahjah TV Buya Yahya menjelaskan bahwa dalam Islam kita dilarang percaya adanya arwah bayi meninggal dapat dimasukkan dalam boneka, itu termasuk syirik. Beliau menegaskan pula sebagai sosok muslim, jangan pula memperdebatkan soal reinkarnasi karena itu menyangkut kepercayaan agama lain. Pesan beliau sebagai seorang muslim kita diharuskan untuk saling mengingatkan saudara-saudara yang belum tahu hukumnya tentang spirit doll ini.

Anak-anak generasi kelahiran tahun 2000-an pasti tak asing lagi dengan sosok Ria Enes. Beliau sosok pelopor perempuan pertama atas kemunculan tenarnya boneka di tanah air. Beliau pendongeng tersohor di era 2000-an, sosoknya dikenal luas setelah berhasil memanjakan mata anak-anak lewat bonekanya bernama boneka Suzan.

Kebetulan saya sendiri mengidolakan beliau dan sering melihat tayangan beliau ketika mendongeng maupun menyanyi. Suara khas beliau masih tergiang-giang di kepala ketika menyanyikan lagu Ada Kodok bersama boneka Suzan. Penampilan keduanya begitu khas dan terlihat sepadan juga unik karena selalu seragam.

Jadi sebelum generasi Annabelle dan Chunky hadir, boneka cantik Suzan sudah hadir lebih dulu menghibur anak-anak di tanah air, tidak seperti keduanya malah menakuti lewat serial horor. Meski ketenaran Suzan terbilang sementara tetapi meninggalkan bekas dengan banyaknya karya lagu-lagu yang telah dihasilkan. Tidak malah hanya membekaskan rasa takut yang ditanamkan pada anak-anak. Efeknya ketakutan mereka memperdaya imajinasi sehingga merasa diawasi akhirnya merasa stress dan tidak mandiri.

Baca juga:  Ekstrimisitas Beragama dalam Kacamata Sufisme Nusantara  

Spirit Doll murni sekadar hanya tren, buktinya eksistensi spirit doll milik Ivan Gunawan tak bertahan lama setelah banyak hujatan menghampirinya. Alhasil boneka itu didonasikan entah ke mana tidak disebutkan. Mungkin masih banyak para pengadopsi spirit doll yang masih bertahan seperti Roy Kiyoshi, Helen Junet, dan sebagainya. Mereka bertahan karena ada alasan kuat barangkali memang murni ingin merawat atau keperluan konten saja itu di luar dari sifat kepo warganet.

Saya sendiri berharap fenomena spirit doll lantas tidak membuat warga Thailand mentertawakan kita karena telat viral soal spirit doll. Di negara mereka telah lama ada budaya Luk Thep, intinya mereka menganggap spirit doll mengundang keberkahan. Di negeri Gajah Putih ini, benda mati macam spirit doll dilayani layaknya manusia sungguhan bukan sekadar mainan anak-anak.

Mengoleksi boneka boleh asal bukan spirit doll. Sebelum mengoleksi juga harus pilah-pilih dahulu, jangan sampai tergiur iming-iming label mengundang keberuntungan kemudian memborong. Ada kalanya kita juga berbagi dengan mereka yang membutuhkan. Sejatinya kebahagiaan bukan tentang apa yang kita bisa miliki tetapi hakikat memberi tanpa mengharap pamrih sesuai ketulusan hati. Di sinilah momentum rasa syukur itu dinilai untuk diberkahi dari langit. Tidak ada kesia-siaan terhadap pinjaman harta dan kesementaraan nikmat duniawi yang telah Allah berikan terhadap kita sebagai makhluk-Nya.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top