Sedang Membaca
Sufi dan Sufisme di Barat
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Sufi dan Sufisme di Barat

Ulil Abshar Abdalla

Mark Sedgwick, profesor kajian Islam dan Arab di Aarhus University di Denmark, muncul dan mayshur di gelanggang kesarjanaan Barat melalui bukunya yang menurut saya dahsyat, “Against the Modern World” (terbit 2004).

Buku ini sangat menarik karena dialah karya pertama yang dengan mendalam dan “ngulik” membahas biografi René Guénon, tokoh misterius yang mengilhami gerakan-gerakan “perennialisme” (perennialisme bisa kita sejajarkan dengan sufisme; bentuk lahiriahnya ya tarekat) di Barat.

Saya mengenal pertama nama Guénon melalui buku-buku Seyyed Hossein Nasr. Prof. Nasr menampakkan simpati dan kekaguman pada sosok ini, selain sosok lain, yaitu Frithjof Schuon. Dalam bukunya yang sudah klasik, “Knowledge and the Sacred” (1981), Prof. Nasr membahas dengan mendalam arus pemikiran yang ia sebut dengan “tradisionalisme” dan “sophia perennis” (filsafat abadi/perennial) yang ada baik di Timur maupun di Barat.

Kata Prof. Nasr, kebijaksanaan abadi ini tergerus total dengan kehadiran modernitas. Para pengikut filsafat ini, termasuk Prof. Nasr sendiri, menampakkan rasa ketaksukaan yang tanpa tedeng aling-aling kepada segala hal yang sifatnya modern. Dunia modern bersifat destruktif terhadap “sophia perennis” ini.

Dalam hal antipati terhadap modernitas, pengikut filsafat perennialisme mungkin memiliki kesamaan dengan kelompok-kelompok lain seperti salafi, HTI, atau para musuh modernitas yang lain. Tetapi dua kelompok ini memiliki perbedaan mendasar dalam hal solusi.

Baca juga:  Sabilus Salikin (18): Nama-Nama Tarekat Sedunia

Kelompok perennialis memiliki solusi atas “kekacauan ontologis” yang ditimbulkan oleh modernitas dengan mengajak kembali kepada “sophia perennis”, filsafat tradisional. Pendeknya, mereka mengajak kita kembali kepada TASAWUF.

Sementara kelompok-kelompok “politis” seperti HTI mengajak kita kembali ke “orde politik perennis” yang namanya KHILAFAH. Kelompok salafi memiliki solusi lain: kembali ke jalan kehidupan Nabi Muhammad yang pristin, suci, yang tak terkotori oleh bid’ah yang datang dari kebudayaan-kebudayaan lokal.

Semangat yang mencirikan semua kelompok “tradisionalis” yang mengikuti “sophia perennis” adalah antipati dan ketidaksukaan pada modernitas. Semangat mereka sejajar dengan kelompok romantik di Eropa yang muncul pada abad ke-18.

Sebagaimana kelompok tradisionalis modern, kaum romantik Eropa (salah satu figurnya adalah Jean-Jacques Rousseau) juga membenci modernitas, sebab modernitas telah menghancurkan “ketenangan alamiah” yang mencirikan dunia pra-modern.

Setelah buku “Against the Modern World”, Prof. Sedgwick hadir dengan buku lain yang dirilis pada 2017 tentang gerakan tasawwuf di Barat. Buku barunya Prof. Sedgwick ini (berjudul “Western Sufism: From the Abbasids to the New Age”) tak kalah menarik dari buku yang pertama. Buku yang kedua ini mengulas dengan menarik jaringan tarekat di dunia Barat.

Baca Juga
Sejarah Singkat Kopi Pertama di Dunia

Tasawwuf dan sufisme memang memiliki daya tarik yang luar biasa di dunia Barat. Salah satu bab dalam bukunya Sedgwick ini (bab ke-14, hal. 237 dan seterusnya) mengulas dengan menarik sosok muallaf dari Scotlandia, Ian Dallas; belakangan berubah nama menjadi Abdulqadir al-Sufi. Ian Dallas adalah pengikut tarekat Darqawiyyah, salah satu cabang dari tarekat Syadziliyyah.

Baca juga:  Pulang Haji: Jubah dan Ilmu

Buku ini bermanfaat sekali, karena memberi informasi tentang “arus Islam” yang sama sekali beda dengan arus-arus Islam lain yang lebih berwatak “politis” dan sering muncul di koran dan TV. Ini adalah arus Islam yang lebih berorientasi pada penyempurnaan batin (dalam babasa al-Ghazali, “riyadlat al-nafs”), bukan merebut kekuasaan politik.

Jika kelompok-kelompok ini dominan di Barat, Islam tak akan lagi dipandang lagi sebagai ancaman atas Eropa atau dunia Barat. Meski kelompok-kelompok sufi ini memiliki antipati atas modernitas, tetapi mereka menyatakan antipatinya itu bukan lewan gerakan politik seperti HTI atau Ikhwan, melainkan melalui gerakan spiritual.

Saya benar-benar menikmati sekali membaca buku ini. Meski ada bagian dari buku ini yang membikin saya agak sedikit “galau”. Tetapi, perkara ini tak usah saya bahas di sini.

Lihat Komentar (0)

Komentari