Sedang Membaca
Sowan Mbah Maimun Zubair
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Sowan Mbah Maimun Zubair

Ulil Abshar Abdalla

Lebaran tahun ini (sebagaimana tahun-tahun sebelumnya), saya, alhamdulillah, masih berkesempatan untuk sowan kiai paling sepuh dan paling ‘alim dalam ilmu-ilmu keislaman, terutama ilmu fekih (ini pelafalan ala Kiai Sahal Mahfudh yang saya sukai: fekih). Kiai itu, tiada lain, adalah Kiai Maimun Zubair, pengasuh pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang.

Yang selalu menyenangkan saat sowan Mbah Mun (begitu warga Nahdliyin biasa memanggil beliau) adalah satu ini: kita bisa duduk berjam-jam di hadapan beliau, sementara beliau medhar (mengurai) banyak hal yang menarik, mulai dari kisah para kiai, sejarah Islam di Indonesia, sejarah politik Islam.

Terakhir sowan Mbah Mun dua hari lalu, saya beruntung bisa menikmati suasana njagong yang santai dengan beliau. Saya sengaja sowan beliau agak akhir, seminggu setelah lebaran, menunggu “banjir” tamu agak reda, sehingga ada waktu yang agak senggang untuk bercakap-cakap dengan beliau.

Sejam lebih saya berada di ruang tamu Mbah Mun, menikmati “ceramah gratis” beliau tentang banyak hal, terutama, yang menarik, mengenai sejarah berdirinya kerajaan Saudi dan pemberontakan bangsa Arab (dalam sejarah modern kerap disebut Arab’s rebellion) terhadap Turki Usmani.

Pada umurnya yang ke-94 tahun, Mbah Mun masih memiliki ingatan yang tajam dan jernih. Bahkan, bulan puasa kemaren, masih ngaji selama sebulan kitab tasawuf yang kondang, Ar-Risalah al-Qusyairiyyah. “Aku iki wis tua. Alhamdulillah aku ya isih kuat mulang. Wingi jarene sing melok ngaji ana wong enem ewu,” kata Mbah Mun. Artinya, Aku ini sudah tua. “Alhamdulillah aku masih kuat ngajar. Puasa kemarin kata anak-anak, yang ikut ngaji ada enam ribu orang.”

Baca juga:  Gus Baha dan Otoritas Keilmuan Ulama NU

Kalau Anda tahu lanskap pesantren Al-Anwar asuhan Mbah Mun, pasti akan kaget: enam ribu orang berdesak-desakan di musala sempit yang biasa dipakai ngaji selama ini oleh Mbah Mun. Saya bayangkan, santri sebanyak itu akan mengular sampai jalan-jalan kampung menuju ke jalan besar: Jalan Daendels atau Jalan Raya Pos.

Kopian naskah berisi sanad kitab Al-Risalah al-Qusairiyah

Sebelum pulang, saya diberi dua hadiah oleh Mbah Mun. Satu: saya dihadiahi kitab karangan beliau yang berjudul Al-‘Ulama’ al-Mujaddidun: Majalu Tajdidihim wa Ijtihadihim (Para Ulama Pembaharu: Cakupan Pembaharuan dan Ijtihad Mereka).

Yang kedua: saya dihadiahi sanad kitab Ar-Risalah al-Qusyairiyyah yang bulan puasa kemaren dibalah atau dikaji oleh Mbah Mun. Saat saya menerima sanad itu, Mbah Mun memerintahkan saya untuk mengucapkan kata “qabiltu” (saya terima).

Baca Juga

Qabiltu, Mbah Maimun,” kata saya dengan perasaan kegembiraan yang tak terlukiskan. Tak terkira suka-citanya saya mendapatkan dua hadiah yang berharga ini.

Sebelum saya minta diri, Mbah Mun masih sempat melontarkan komentar tentang ayah saya, almarhum Kiai Abdullah Rifai. “Ora ana wong sing fanatik karo bapakku kaya Kiai Abdullah Rifai, bapake sampeyan.” (Tak ada orang yang fanatik keoada ayah saya melebihi ayah kamu, Kiai Abdullah Rifai).

Baca juga:  Kiai Wahid Hasyim, Maha Guru PMII

Ayahanda Mbah Mun adalah Kiai Zubair, sosok yang memang selalu disebut-sebut dengan penuh kekaguman oleh ayah saya dalam pengajian yang saya ikuti.

أطال الله بقاء الشيخ العالم العلامة كياهى ميمون زبير…

Lihat Komentar (0)

Komentari