Sedang Membaca
Nur al-Huda, Karya Guru Hasan Anang Yahya Jambi
Ubaidillah
Penulis Kolom

Mahasiswa S2 Interdiciplinary Islamic Studies UIN Sunan Kalijaga.

Nur al-Huda, Karya Guru Hasan Anang Yahya Jambi

Img20190119075124

Tuan Guru Hasan Anang Yahya adalah salah satu ulama yang paling berpengaruh di Jambi pada awal abad 20. Tuan Guru Hasan Anang Yahya lahir pada tahun 1895 dari seorang ayah yang cukup kaya di Kampung Tengah, Seberang Kota Jambi. Pada tahun 1919/1920 ia berangkat ke Mekah untuk melaksanakan haji sekaligus melanjutkan studi agama.

Pada masa ini pendidikan Islam di Seberang Kota Jambi sedang bertumbuh dengan kembalinya beberapa ulama dari Mekah seperti Tuan Guru Ibrahim Keramat, Tuan Guru Ahmad Syakur, Tuan Guru Utsman, Tuan Guru Kemas Muhammad Saleh dan Hoofd Penghulu Abdussamad. Mereka adalah perintis pendidikan Islam formal di Jambi.

Di antara madrasah yang didirikan oleh ulama-ulama tersebut adalah Nurul Iman di Ulu Gedong yang berada tepat di sebelah hulu Kampung Tengah. Madrasah Nurul Iman sempat mendatangkan guru-guru dari Mekah seperti Syekh Arif At Tulubusi dan Syekh Mahmud Bukhari. Bahkan Syekh Mahmud Bukhari sempat menjadi mudir pada 1922 hingga 1927.

Tuan Guru Hasan kembali ke Jambi pada 1927 dan langsung mengajar di Madrasah Nurul Iman. Syekh Mahmud Bukhari yang saat itu menjabat mudir di Nurul Iman merasa bahwa sudah saatnya ia kembali ke Bukhara karena merasa sudah ada yang menggantikannya. Orang yang dimaksud adalah Tuan Guru Hasan Anang Yahya yang oleh murid-muridnya dikenal sebagai Guru Hasan Gemuk.

Baca juga:  Fikih Kuliner: Aisyul Bahri, Kitab Ulama Batang yang Hilang

Pada masa Tuan Guru Hasan Nurul Iman mengalami beberapa kemajuan seperti menentapkan kurikulum belajar dan beberapa guru giat menulis kitab untuk menjawab permasalah umat Islam di Jambi. Salah satunya adalah Nur al-Huda karya beliau sendiri.

Nur al-Huda adalah sebuah respon atas pergerakan kaum muda yang sedang masif di Palembang. Karena Jambi dan Palembang adalah dua wilayah yang saling terikat satu sama lain maka isu yang sedang hangat di Palembang juga sampai ke Jambi.

Salah satu gerakan yang sedang masif di Palembang adalah Syamsul Huda. Gerakan ini tercium oleh Tuan Guru Hasan ketika seorang bernama Abdul Muttalib dari Pulau Pandan, Jambi membawa sebuah kitab perihal mengurusi mayit ke hadapannya. Setelah ia baca, ia kemudian sadar bahwa banyak kandungan dari kitab tersebut yang mengharamkan praktik-praktik yang umum dilakukan di Jambi seperti talqin hingga tawasul.

Tuan Guru Hasan merasa perlu untuk membentengi masyarakat Jambi dari faham tersebut dengan menulis kitab yang dipenuhi dengan dalil-dalil. Begitulah latar belakang ditulisnya kitab Nur al-Huda.

Kitab Nur al-Huda adalah kitab tipis dengan tebal dua puluh tiga halaman dengan muatan isi hingga halaman tujuh belas. Dari halaman tujuh belas hingga halaman dua puluh tiga berisi tashih guru-guru di Jambi seperti Hoofd Penghulu Abdussamad, Kemas Muhammad Yasin, Haji Abdurrahman dan sejumlah guru di Nurul Iman.

Baca juga:  Kitab Tasawuf: Al-Hikam Jawa ala Kiai Soleh Darat Semarang

Kitab ini ditulis dengan huruf jawi berbahasa Melayu, dicetak oleh cetakan Al-Ahmadiyah no. 82 jalan Sultan Singapura pada tahun 1929. Tertulis di cover:

Kitab yang bernama (Nur al-Huda) buat menolak perkataan kaum muda dan kaum Syams al-Huda yang di Palembang yang mengatakan oleh mereka itu tiada boleh membacakan talqin bagi mayit karangan hamba al-fakir Hasan ibn al-marhum al-haj Anang Yahya yang telah mengajar di Masjid al-Haram di Mekah dan yang jadi mudir sekarang di Madrasah Nur al-Iman di Jambi. ghaffar Allah lahu wali walidaihi wa al-masyaikh hi wa al-jami’ al-muslimin amin

Dari cover kitab ini terlihat jelas bahwa kitab ini ditulis untuk tujuan apa. Pada tahun 1935, Tuan Guru Abdul Majid Ghaffar yang merupakan murid Tuan Guru Hasan kembali menulis kitab dengan tujuan yang sama dengan judul Bahjat al-Hidayah fi Masail al-khilafiyah. Kitab ini ditulis sedikit lebih tebal dengan lima puluh tiga halaman.

Sepertinya upaya Tuan Guru Hasan dan ulama Jambi lainnya berhasil dalam menolak gerakan kaum muda sehingga tidak terlalu bersinar di Jambi. Bahkan hingga sekarang, gerakan seperti wahabi masih sulit menembus atmosfir masyarakat Jambi.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top