Sedang Membaca
Menilik Keberadaan Tuhan dengan “Tarjîh bilâ Murajjih”

Santri di Al-Azhar Cairo & Rumah Syariah Mesir.

Menilik Keberadaan Tuhan dengan “Tarjîh bilâ Murajjih”

Tentang Tasawuf

Ketika mempelajari ilmu tauhid, setidaknya ada tiga objek pembahasan yang kerap kali kita jumpai, Ilahiat, Nubuwat dan Sam’iat. Tetapi, sebelum memasuki objek tersebut, ada satu pembahasan yang cukup penting, yaitu mengenai dalil tentang keberadaan Tuhan. Salah satunya akan menjadi titik poin dalam tulisan ini.

Kata Murajjih berasal dari kata ­rajjaha-yurajjihu bermakna penguat. Sedangkan Tarjih dari bentuk masdarnya (keduanya memiliki makna yang sama). Maka, Tarjih bila Murajjih secara harfiah bisa kita artikan sebagai “Penguatan tanpa adanya (hal) penguat”.

Untuk memahami Tarjih bila Murajjih, para teolog mendahului dengan penjelasan mengenai hukum aqly (kaidah rasional). Salah satu bagian dari hukum aqly tersebut yaitu (mereka menyebutnya dengan istilah) al-Ja’iz atau al-Mumkin.

Al-mumkin adalah sesuatu yang bersifat seimbang dari segi ada dan ketiadaannya. Untuk lebih jelas, Imam Sanusi dalam karnyanya Ummu al- Barahin mendefinisikannya sebagai (31):

ما يصح في العقل وجوده وعدمه أي ما استوى طرفاه وجودا و عدمأ

Sesuatu, ada dan tidaknya, bisa diterima oleh akal”. Yakni sesuatu, yang seimbang antara ada dan ketiadaan.  

Nah, lebih jelasnya perhatikan contoh dari al-Mumkin di bawah ini:

Saya mempunyai teman bernama Watra Sarajeva. Ia terlahir pada tahun 2005. Maka, secara otomatis, sebelum tahun 2005 ia belum dilahirkan. Sehingga, ia dikatakan sebagai sesuatu yang belum berwujud. Di saat Watra belum dilahirkan atau belum berwujud, maka akal kita akan menerima ketiadaan Watra. Begitu pula ketika ia sudah dilahirkan atau dalam keadaan wujud.

Baca juga:  Cadar dan Retorika Anti-Radikal Islam

Dari contoh di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa ada dan tiadanya Watra adalah sesuatu yang bisa diterima oleh akal. Sehingga ada dan tiadanya Watra adalah dua sisi kemungkinan yang bersifat setara.

Oleh karena Watra memiliki dua kemungkinan yang bersifat setara, mungkin ada atau mungkin tidak ada. Maka, manakala dia ada, pasti ada sebab yang menghendaki dia ada. Begitu pula ketika dia tidak ada, pasti ada sebab yang menghendaki ketiadaannya.

Seandainya ada dua sisi yang setara, lantas satu sisi lebih kuat dari yang lain tanpa adanya sebab. Maka, itu termasuk kemustahilan. Karena, serperti yang saya jelaskan di atas, Manakala ada yang lebih kuat salah satu sisinya dari yang lain, maka kita pastikan di sana terdapat penyebab.

Contoh di atas saya ibaratkan dengan sebuah timbangan yang setara dua sisinya, apakah bisa salah satu sisinya menjadi berat tanpa adanya sebab? Pastinya, akal kita mengatakan tidak mungkin. Bahkan sebaliknya, akal kita justru menuntut adanya sebab jika timbangan tadi menjadi berat sebelah. Para teolog menyebutnya dengan istilah Tarjih bila Murajjih. Dan hal itu tidaklah mungkin terjadi atau mustahil. Karena, seperti yang saya katakan sebelumnya, bahwa tidak ada dua sisi yang setara, lantas salah satunya lebih kuat tanpa penyebab.

Baca juga:  Polemik Gus Muwafiq: Semakin Besar Nafsu, Maka Semakin Kecil Akal Budinya

Hal itu lantas menjadi sebuah dalil, bahwa alam semesta adalah sesuatu yang Mumkin. Keberadaan dan ketiadaannya adalah dua hal yang setara. Tetapi, pada detik ini kita melihat bahwa alam semesta benar-benar ada. Sehingga, adanya alam semesta ini terjadi dikarenakan adanya suatu sebab atau yang disebut dengan Murajjih.

Maka, dapat kita simpulkan, bahwa penyebab atau Murajjih alam semesta ini ada ialah Allah SWT. Karena ada dan ketiadaannya dalam porsi yang setara. Sehingga, tidak bisa diterima oleh akal sehat, jika alam semesta ini ada dengan sendirinya tanpa adanya sebab atau Murajjih. Sekali lagi, karena alam semesta adalah sesuatu yang mumkin, yaitu ada dan tiadanya dalam porsi yang setara.

Demikian yang dinamakan Tarjih bila Murajjih (kuatnya salah satu sisi dari sisi yang lain tanpa adanya sebab atau Murajjih yang menguatkannya). Dan hal itu bersifat mustahil. Wallahu A’lam.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top