Sedang Membaca
Kaum Delusif di Jumat Agung
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Kaum Delusif di Jumat Agung

Syafa Haack

Saya dan keluarga bukan penganut Nasrani. Tapi setahu saya, hari Jumat Agung kemarin (19/4/19) adalah hari suci yang diperingati kaum Nasrani dalam kekhusyukan. Beberapa negara, termasuk Jerman, malah ada larangan untuk mengadakan pesta dan aksi senang-senang di hari suci itu.

Tak perlu menjadi Nasrani untuk bisa merayakan hari libur suci ini dalam ketenangan. Toh, saat umat Islam melakukan ibadah puasa, umat non-muslim pun disarankan untuk turut menghormati. Banyak aktivitas di hari biasa diminta untuk dikurangi. Warung-warung makan disuruh tutup. Dalam rentang yang cukup lama pula. Sebulan. Ini sekadar menenangkan diri sehari saja, beratkah?

Apalagi di negara yang warganya baru saja selesai melakukan hajat akbar yang melelahkan. Pemilihan umum yang menguras emosi jiwa dan raga.

Menenangkan diri sambil menunggu hasil kiranya lebih baik dilakukan untuk kesehatan jiwa. Bukannya terus melakukan aksi provokasi. Apalagi dengan memobilisasi massa atas halusinasinya sendiri.

Ok, “to the point” saja, saya ingin bilang apa yang dilakukan Prabowo dengan klaim kemenangannya itu bagian dari aksi orang yang kesehatan mentalnya patut dipertanyakan.

Lebih tak waras lagi ia memobilisasi massa untuk merayakan klaim halusinasinya. Mencuci otak pengikutnya bahwa apa yang dilakukan pihak lain termasuk lembaga negara adalah tipu daya belaka.

Baca juga:  Arab Pegon dan Nasionalisme Pesantren

Upaya untuk mendelegitimasi lembaga-lembaga negara sesungguhnya tak beda dengan ideologi HTI yang menganggap negara dan aparatnya sebagai “taghut”. Harus diperangi. Mengobarkan api perang terus-menerus terhadap negara yang sah.

Padahal ia pernah menyanggah pendukungnya adalah para simpatisan kelompok “hard liners” Islam yang tak percaya pada Pancasila. Buktinya, ia terus-menerus melakukan aksi provokasi untuk mendelegitimasi lembaga negara. Menuduh aparat dan pihak lain melakukan kecurangan. Menggerogoti kedaulatan negeri sendiri.

Baca Juga

Kalau perlakuan denial ini terus dimaklumi, bahkan didukung, kiranya gangguan mental ini bisa jadi wabah yang sulit untuk diatasi.

Sepengalaman saya mendidik anak, bahkan permakluman pun tak bisa dilakukan terus-menerus oleh orang dewasa kepada anak kecil. Ia harus diajarkan untuk tau aturan. Tak boleh gampang merengek. Kalau menginginkan sesuatu, utarakan dengan jelas. Bila kehendaknya tak dituruti, menangis bukanlah jalan terbaik untuk meluluhkan hati orangtua.

Didikan “keras” macam itu, membuat tugas orangtua menjadi lebih mudah. Anak lebih mandiri. Mampu melakukan sesuatu dengan tanggung jawab. Ia pun akan menyadari: kecuali ia sakit jiwa dan mengidap mental yang tak sehat, tak selayaknya aksi-aksi tak masuk akal yang dilakukannya harus didukung.

Lihat Komentar (0)

Komentari