Noam Chomsky dan Gerakan Islam Progresif

Supriansyah
Noam Chomsky dan Gerakan Islam Progresif

Saat ini, rakyat Kulonprogo, DIY, menjerit karena berhadapan dengan tindakan represif dari pemerintah. Warga jember dikerangkeng karena menanam cabai di lahan PT Perhutani. Seorang kiai dan temannya yang membela warganya ditekuk di pengadilan.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Negara seperti ini seperti tidak punya mata. Negara dalam hal ini mengabaikan penderitaan rakyat dengan mengusir mereka dari lahan yang selama ini ditempati oleh mereka. Pembangunan bandara baru di Yogyakarta, misalnya, seakan-akan harus mengorbankan mereka untuk ditempatkan ke posisi yang merugikan.

Gerakan rakyat ini semakin ditekan dengan ditangkapnya beberapa orang dari masyarakat yang dituduh sebagai provokator oleh aparat keamanan. Gerakan-gerakan seperti ini sebenarnya bukanlah satu-satunya gerakan rakyat yang selama ini menjadi suara melawan penindasan atas mereka.

Ideologi pembangunanisme yang dianut negara saat ini memang perlu dikawal dan diawasi terus-menerus. Apa sebab?

Sebab, pembangunan akan selalu lapar akan lahan, produktifitas akan selalu diukur dengan seberapa berfungsinya suatu lahan dalam bingkai kemodernan. Bukan lagi dengan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi acuan dalam setiap kebijakan pemerintah, padahal sebuah dawuh dari Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bahwa, “Tak ada yang lebih penting, kecuali kemanusiaan itu sendiri.”

Dalam buku How the World Works, Noam Chomsky pernah menjelaskan ketika ditanya apa yang terjadi dalam pertumbuhan ekonomi di Asia Tenggara, Tiongkok, dan lain-lain? Apakah ini contoh lain eksploitasi kapitalis, atau apakah akan ada perubahan dalam kesadaran mereka?

Chomsky menjawab dengan cukup lugas, bahwa yang terjadi di sana adalah “bencana”.

Baca juga:  Kidung Jawa: Catatan Santri Tahun 1809

Sebab pertumbuhan ekonomi yang terjadi di Asia Tenggara disulut kebanyakan oleh para investor multinasional yang sangat tidak ramah terhadap lingkungan. Dalam sudut pandang para investor adalah bila Anda merusak hutan atau alam, itu tidak jadi soal sepanjang Anda bisa menghasilkan keuntungan jangka pendek darinya.

Chomsky malah menegaskan bahwa keadaan tidak akan ada perubahan selama rakyat tidak bergerak. Jika kekuasaan dibiarkan berada dalam genggaman para investor transnasional, rakyat hanya akan (selalu) menjadi korban.

Siapakah gerangan Noam Chomsky?

Avram Noam Chomsky adalah seorang akademisi asal Amerika Serikat. Chomsky merupakan profesor linguistik di Institute Teknologi Massachusetts (MIT). Salah satu teorinya di bidang linguistik, yaitu tentang tata bahasa generatif.

Selain itu, Chomsky juga aktif sebagai kritikus sosial dan politik. Chomsky kerap mengkritik kebijakan pemerintah Amerika Serikat. Karena hal itulah pada tahun 1970-an, dia masuk dalam daftar musuh Presiden Richard Nixon.

Pada 2013, melalui tabloid Jubi, Chomsky pernah mengkritik soal situasi di Papua Barat sebagai sebuah skandal besar. Chomsky menyatakan bahwa aktor utama di balik ketidakstabilan itu adalah Amerika Serikat. Tulisan-tulisan Chomsky menulis tentang peran Amerika Serikat di negara-negara lain seperti Nikaragua, Vietnam, dan Timur Tengah. Chomsky sudah menulis lebih dari 50 judul buku sejak 1955. Salah satu bukunya yang laris berjudul Power and Terror: Post 9-11.

Adapun pandangan politik yang dianut pria kelahiran  Pennsylvania 7 Desember 1928 ini mengungkap bahwa dia adalah seorang anarkis tradisional, yang berasal dari Masa Pencerahan dan liberalisme klasik. Chomsky juga memuji sosialisme libertarian. Pandangan politik beserta kritiknya dianggap sebagai seorang disiden politik Amerika Serikat. Salah satu pandangan Chomsky yaitu mengenai kekuasaan, kecuali dapat dijustifikasi, tidak dapat dilegitimasi.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Baca juga:  Surah Al-Ikhlas dan Keutamaannya

Chomsky memperjuangkan demokrasi sebagai tempat kita semua manusia untuk hidup bersama. Oleh sebab itu, Chomsky sangatlah geram dan mengajukan kritik kepada mereka yang menyamakan antara kapitalisme dengan demokrasi, bahwa keadaan sekarang yang dikuasai neoliberalisme dan kapitalisme sangat merusak demokrasi. Sebab bagi Chomsky, demokrasi yang partisipatoris tidak mungkin bisa bersatu dengan keadaan yang menjadi kampiun adalah kapitalisme atau sebagian kecil masyarakat yang terbagi dalam kelas-kelas.

Chomsky dan Islam
Kritik Chomsky ini sebenarnya senafas dengan ajaran Islam, sebab wujud Islam yang progresif secara sosial-politik, untuk membebaskan rakyat dari jerat subordinasi kekuatan negara dan pasar. Dua kekuatan ini mencerabut kemerdekaan rakyat dalam berbagai wujud, baik secara politik, ekonomi, budaya, dan lainnya, karena ketidakadilan struktur sosial yang diciptakannya.

Di sini, Islam progresif memiliki misi untuk menegakkan tauhid, baik secara personal mapun sosial. Sistem sosial bertauhid penuh dengan keadilan, sedangkan sistem sosial syirik dipenuhi dengan ketidakadilan (kelas-kelas sosial).

Keberpihakan terhadap kaum marginal (mustadlafin), menjaga alam dari berbagai kerusakan yang disebabkan perilaku koersif dari manusia, dan melawan syirk kapitalisme adalah bagian penting dari gerakan Islam progresif. Di sinilah juga bertemunya apa yang diperjuangkan oleh Chomsky dengan gerakan Islam progresif.

Jika sekarang banyak kasus ketidakadilan yang dihadapi oleh rakyat dalam kasus agraria–baik oleh sebab pembangunan atau ekstraksi sumber daya alam–maka sudah menjadi panggilan bagi seluruh kaum Muslimin untuk melawannya. Seperti dikatakan Chomsky:

Baca juga:  Evolusi, Manusia, hingga Gus Baha

“Bila kau beraksi layaknya tak ada perubahaan yang lebih baik, maka kau menjamin bahwa tidak ada perubahan yang lebih baik. Pilihan ada pada kita, pilihan ada pada Anda.”

Itulah yang ditegaskan dalam Alquran bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib seseorang jikalau dia bengong saja. Membaca karya-karya Chomsky adalah makan santapan bergizi bagi mereka yang ingin melawan atas semua ketidakadilan dan kemenangan kapitalisme.

Gerakan melawan kapitalisme juga disuarakan oleh gerakan fasisme religius yang sedang mengalami pasang naik di Indonesia. Padahal gerakan fasisme religius ini cuma mereduksi perjuangan melawan kemenangan kapitalisme ini menjadi ke persoalan identitas yang sempit. Inilah yang kemudian dimanfaatkan oligarki politik sebagai alat untuk meraih kekuasaan atau untuk merawat kekuasaan yang telah mereka raih.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Isu identitas yang sempit memang jualan yang sangat laku di tengah mayoritas umat Muslim yang belum memahami agama secara substantif. Inilah yang merupakan sumber daya yang sengaja dipelihara oleh kelompok oligarki yang mencoba mengakali isu ini untuk tujuan politik kekuasaan kelompok. Padahal Chomsky maupun Islam progresif telah menginginkan bahwa: kekuasaan itu digunakan untuk kemaslahatan umat manusia, bukan sekadar terbagi dalam sekat kelas-kelas sosial semata.  di hari HAM ini, refleksi Chomsky sangat relevan. Semoga beliau dipanjangkan umurnya. Fatahallahu alaihi futuhal arifin.

 

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top