Sedang Membaca
Memanfaatkan “Media Sosial” dengan Bijak
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Memanfaatkan “Media Sosial” dengan Bijak

Sam Edy Yuswanto

Era sekarang, masyarakat seolah tak bisa terlepas dari media sosial. Di era yang kian maju dan berkembang pesat ini, media sosial (medsos) seolah telah masuk dalam jenis kebutuhan primer. Seolah-olah hidup terasa kosong dan hampa bila dalam sehari saja tak membawa gawai dan bermain medsos. Facebook, Twitter, Instagram, adalah tiga jenis media sosial yang banyak digunakan masyarakat di berbagai belahan dunia.

Menurut pengamatan Nurudin, perkembangan medsos pada kenyataannya sangat menentukan perilaku masyarakat. Bila ada orang yang langsung memercayai setiap informasi yang ditampilkan di medsos, tanpa mau mengecek kebenaran informasi tersebut, berarti ia telah menganggap keberadaan medsos sebagai agama. Pernyataan ini bukan meremehkan peran agama dalam masyarakat, melainkan justru ingin mengembalikan ajaran agama yang suci dan murni.

Salah satu dampak medsos, sebagaimana diungkap Nurudin dalam buku ini, adalah munculnya perang hashtag. Sebagaimana diketahui, akhir-akhir ini, jagad dunia medsos begitu riuh dengan hashtag (#) #2019PresidenBaru dan #Jokowi2Periode. Dua hashtag ini menunjukkan adanya dua polarisasi pembagian kelompok masyarakat; pendukung dan penentang presiden Joko Widodo (Jokowi). Jika dirunut ke belakang, hal tersebut merupakan dampak dari Pilpres 2014 yang masih membekas. Dua hashtag tersebut bergerak liar untuk menentukan titik tujuan tertentu dari masing-masing kelompok. Pendukung #Jokowi2Periode tentu ingin Jokowi terpilih kembali pada periode ke-2 sebagai presiden. Sementara hashtag #2019PresidenBaru mewakili mereka yang menginginkan Asal Bukan Jokowi (ABJ).

Baca Juga:  Kisah Ajaib Kucing New York

Perseteruan hashtag nyatanya membuat sebagian orang merasa cemas. Namun, sebenarnya tak ada yang perlu dicemaskan. Hal tersebut merupakan konsekuensi logis kehidupan demokrasi. Hashtag adalah cerminan sejauh mana kedewasaan masyarakat dalam menyikapi banyak hal di sekitarnya. Hashtag adalah fenomena wajar sebagai dampak perkembangan teknologi komunikasi dan akan hilang setelah tujuan politik pembuatan hashtag tercapai atau tidak tercapai (halaman 22).

Setiap orang tentu dituntut bijak menyikapi keberadaan media sosial yang di satu sisi dapat memunculkan dampak positif, sementara di sisi yang lain berdampak buruk bagi kehidupan bermasyarakat. Nurudin dengan tegas mengatakan, “Media sosial tanpa digunakan secara bijak hanya akan berfungsi sebagai racun pembius (narcotizing dysfunction).

Propaganda perang menjadi salah satu bukti konkret bagaimana media sosial digunakan secara tidak bijak. Menggunakan medsos untuk berperang memang tidak salah, hanya tidak seratus persen benar. Oleh karena itu, informasi yang disebarkan lewat media sosial belum bisa digaransi kebenarannya. Jangan sampai seseorang menjadikan semua hal yang diberitakan medsos sebagai satu-satunya referensi atau harga mati yang diyakini kebenarannya (halaman 65).

Baca Juga:  Sabilus Salikin (34): Sebaik-baik Ulama

Salah satu dampak buruk medsos adalah kurangnya jalinan komunikasi para penggunanya. Konflik antara Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) DKI Jakarta beberapa waktu silam misalnya, telah melenceng bukan pada inti pesan komunikasi, tapi pada cara komunikasi mereka. Awalnya Ahok mempermasalahkan dana siluman Rp12 triliun terkait Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI tahun 2015. Persoalan lantas berkembang ke arah lain. Mereka sama-sama ngotot bahwa perilakunya paling benar. Ahok bisa jadi benar, tapi mengeluarkan kata-kata kasar juga bukan sikap bijak. Demikian juga dengan DPRD, kenapa harus sewot dan dianggap menurunkan wibawa anggota dewan di mata eksekutif daerah saat disorot masalah? Di sinilah pesan komunikasi telah mengalami pemutarbalikan fakta (halaman 160).

Buku ini berupaya merekam jejak pasang surut pengguna media sosial dan dampaknya di tengah masyarakat serta menawarkan solusi apa saja yang harus dilakukan.

Buku yang ditulis oleh Nurudin, dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini menguraikan tentang perkembangan media sosial di era kekinian seperti sekarang. Buku ini mengajak pembaca agar berusaha menggunakan media sosial dengan bijak. Jangan sampai keberadaan media sosial membuat kita terbuai, apalagi sampai ketergantungan padanya. (RM)

Baca Juga:  Sejarah Prostitusi di Dunia

 

 

Judul Buku      : Media Sosial; Agama Baru Masyarakat Milenial

Baca Juga

Penulis             : Nurudin

Penerbit           : Intrans Publishing

Cetakan           : I, Desember 2018

Tebal               : xviii + 184 halaman

ISBN               : 978-602-6293-65-7

Lihat Komentar (0)

Komentari