Sedang Membaca
Kisah-kisah Romantis dari Masjid
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Kisah-kisah Romantis dari Masjid

Setyaningsih

Tatkala Pemerintah Kabupaten Klaten mengusulkan dana tiga miliar demi kelanjutan proyek pembangunan menara masjid megah di Klaten, Masjid Agung Al Aqsha (Solopos, 19 Oktober 2017), sebuah buku bersahaja tentang cerita bermasjid lahir. Buku berjudul Memoar Bermasjid (2017) menghimpun 27 serpihan ingatan orang-orang dari pelbagai kalangan dan tempat, dieditori pengasuh Langgar Soeka Batja, Klaten, Muhammad Milkhan.

Kita pastikan penerbitan buku kecil ini tidak berongkos sampai puluhan juta, apalagi miliaran. Para penulis bersedia memanggil kembali langkah-langkah girang masa kecil di masjid, perangkat lawas khas langgar atau masjid, acara seru nan terkenang, panggilan kudus beribadah, protes getir saat masjid terlalu maskulin, kegembiraan belajar mengaji, sampai sengketa kelompok agama yang berbeda.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Mereka juga tidak luput menjadi pengabar masa kini atas perubahan yang seringkali mengasingkan masjid seiring waktu menderukan renovasi.

Sejak di judul, pembaca telah disuguhi kekocakan, kesenduan, sekaligus rasa panoramis bermasjid. Dikemas dalam nuansa biografis, pengalaman-pengalaman para penulis berhasil memantik para jemaah beringatan masjid.

Kita cerap beberapa judul dalam buku tersebut; Sandal Jepit Sumpel Padasan (Anhar), Bermula dari Masjid, Cintaku Ditolak (Agus Yulianto), Nyanyian dan Tas Kresek Putih (Febri Ariyanti), Ada “Alif  Kawin” di Masjid (Dodi Alaska). Ada juga judul yang berkesan serius “ngintelek”; Masjid: Lembaga Sosial Ekonomis (Beyrul An’am) atau Masjid dan Arsitektur Sosial (Priyadi).

Tentu, yang cukup sangar adalah pengantar dari editor sebagai pembubuh pengalaman bermasjid di negeri asing, Amerika Serikat. Kebetulan, editor pernah mengikuti program “International Visitor Leadership Program (IVLP) FY 16 on Civil Society in Muslim Communities” pada April-Mei 2016.

Baca juga:  Gelak Tawa Orang Madura di Tanah Suci

Editor berkesempatan mengunjungi lima negara bagian Amerika dan berbincang dengan banyak komunitas muslim di sana. Inilah yang membuat editor fasih bercerita tentang Masjid Darul Hijrah di Cedar Riverside, Minnesota yang dikatakan lebih mirip ruko serta masjid di komplek Islamic Cultural Center, New York.

Dua masjid menjadi pusat kegiatan keagamaan sekaligus rekonsiliasi perbedaan. Pengalaman menakjubkan bermasjid di Amerika ini menjadi semacam perbandingan melihat masjid di Indonesia yang sering hanya menerima kegiatan beraroma agama saja.

Deru Perubahan

Kebanyakan peristiwa masa kecil di masjid, akan selalu mengutarakan kegembiraan bermain dan berteman. Kita pun bisa mengingat cendekiawan muslim Jalaluddin Rakhmat (2013) yang pernah menuliskan memoar:

“Pada masa kecil dulu saya melaksanakan shalat tarawih memang bukan untuk pengalaman keagamaan, akan tetapi menjadi semacam hiburan. Saya kira tidak ada anak-anak yang merasakan pengalaman keruhanian di dalam shalat tarawih selain kebahagiaan, kegembiraan, dan keceriaan.”

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Anak-anak jarang dengan sengaja dan langsung menganggap masjid sebagai ruang sembahyang apalagi meraup pahala. Keriuhan bermain disampaikan oleh perintis kelas bahasa Indonesia di Kampung Inggris, Pare, Uun Nurcahyanti di tulisan Bersurup di Masjid yang menyetarakan bermain sebagai jalan beriman. Kita cerap:

“Jelang waktu asar adalah masa sakral bagi para bocah. Mereka meluruskan saf dan merapatkan barisan kanak-kanak mereka mereka dengan langkah kaki dan gerak tubuh dalam bermain bersama. Permainan lain yang mendulang tegang adalah betengan. Ada dua tim bermain dengan jumlah seimbang. Bila ganjil, satu orang menanti teman datang agar menggenapkan barisan.”

Baca juga:  Melihat-lihat Arsitektur Masjid Cambridge, Masjid Ramah Lingkungan Pertama di Eropa

Masjid meriuh bukan hanya karena suara mendaras kitab suci atau seruan azan dan iqamat. Sebelum merapatkan saf salat, anak-anak merapatkan diri dalam barisan permainan.

Peristiwa ruhani bermain di masjid tentu terjadi sebelum masjid kekinian membubuhkan banyak aturan, seperti melarang membawa anak kecil ke masjid demi alasan kekhusyukan. Kasihan, anak kecil disetarakan dengan pengganggu. Pembuat aturan ini sepertinya imannya terlalu lemah sampai tidak tahan godaan.

Perubahan diungkapkan sebagai kepastihan dan kepedihan tersembunyi, salah satunya saat membaca tulisan Masjid dan Arsitektur Sosial garapan Priyadi.

“Barangkali istilah padasan akan segera dipahatkan dalam kuburan bahasa. Sebab istilah itu sudah jarang digunakan bahkan hampir tak pernah. Kami dulu menyebut tempat wudhu dengan padasan…Strukturnya juga sederhana karena berupa gentong yang ditaruh di tempat yang agak tinggi. Di bawahnya ada lubang tempat mengalirkan air wudhu,” begitu Priyadi menulis.

Priyadi tidak luput membawa kita memanoramakan tutup lubang air yang biasanya dibuat dari potongan karet sandal jepit atau bila terpaksa hilang, ranting pohon siap menjadi pengganti. Ada nuansa kejumudan nan ndeso saat mendengar kata padasan, dibandingkan saat diri menghadapi keran atau istilah tempat wudhu.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Perbedaan ‘aliran’ dan masjid tampak dalam tulisan Akmalul Khuluq berjudul Masjid dalam Ingatan Masa Kecil. Berlatar di Dusun Paciran, Lamongan, Khuluq kecil sebenarnya tidak merasakan perselisihan karena ia tidak mengalami pendoktrinan dan pelarangan berteman beda aliran.

Baca juga:  Sabilus Salikin (26): Akhlak Mulia (Husnul Khuluq)

Namun, perbedaan merayakan Lebaran seperti menjadi tradisi mengatakan ‘kita beda’. Khuluq bercerita sebuah kejadian di masjid besar,

“Ketika warga Muhammadiyah melaksanakan lebaran lebih dulu, salah seorang jemaah mengumandangkan takbir. Entah bagaimana, masalah itu melebar dan berbuntut perselisihan bahkan nyaris terjadi benturan fisik. Namun, situasi bisa terkendali berkat keterlibatan para pemuka agama dari masing-masing ormas tersebut.” Bagi anak, masjid tetaplah risalah cinta damai tanpa perbedaan.

Memoar Bermasjid sebentuk usaha kecil mendokumentasikan sekitaran yang berubah. Masjid telah menjadi bagian dari pembentukan biografi kultural, intelektual, religiusitas, dan sosial. Membaca buku ini memang tidak langsung menjamin diri masuk surga dan menjauhkan dari neraka.

Namun, paling tidak membaca buku ini akan jauh lebih bermanfaat ketimbang membaca seruan bernasihat copasan dari grup sebelah, mendengar tausiyah yang lebih mirip ajakan perang, atau mengikuti pengajian bersama ustaz seleb yang membikin studio televisi lebih suci dari seribu masjid.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top