Suci Amaliyah
Penulis Kolom

Penulis aktif sebagai kontributor NU Online

Mimpi Bertemu Gus Dur

2009 12 31 04 24 02 G

Pada Haul KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ke-11, saya memberanikan diri merangkum kejadian yang saya alami beberapa tahun ini.

Saya tidak ingat persis, apakah kejadian ini ada di penghujung tahun 2017 ataukah awal 2018. Yang pasti peristiwa ini terjadi bermula dari kerinduan saya kepada sosok KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Kerinduan itu justru mengantarkan saya pada mimpi–mimpi berikutnya yang terekam jelas hingga saat ini.

Waktu itu saya bersama teman- teman ada lima orang bertemu Gus Dur muda dalam sebuah ruangan yang dipenuhi dengan tumpukkan buku di atas meja. Sebelum pamit pulang satu per satu dari kami diberi hadiah satu buku oleh Gus Dur, hanya saya yang terakhir diberi dua buah buku karya Gus Dur sendiri dan karya ulama NU Kiai Muchit Muzadi dan Gus Dur berkata “Jaga Indonesia,” sontak saya kaget dengan ucapan Gus Dur saat itu.

Kemudian 2018, saya tiga kali didatangi Gus Dur. Pertama, saat saya sedang asyik santai dengan teman- teman di mushola rumah nenek saya. Gus Dur datang tersenyum dan pergi begitu saja kali ini ada yang aneh Gus Dur muncul tiba- tiba dan pergi begitu saja tanpa meninggalkan pesan. Tidak lama setelah mimpi itu saya bertemu dengan teman- teman dari Komunitas Gusdurian Bekasi dan saya mulai gabung dengan komunitas tersebut.

Kedua, saat itu saya dan dua orang yang saya sendiri tidak mengenal siapa mereka, pergi ke sebuah rumah dan saya ditunjukkan pada sebuah ruangan cukup besar, saya diminta untuk membersihkan ruangan tersebut, disitu ada bu Nyai Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid istri Gus Dur yang mendampingi kami bertiga. Namun ada kejadian unik sebuah kursi roda di depan pintu berjalan sendiri mengikuti saya ketika sedang membersihkan ruangan, lalu ada seseorang yang mengatakan itu adalah Gus Dur.

Baca juga:  Logika Beragama Manusia Indonesia

Belakangan saya tahu tempat itu adalah Puan Amal Hayati yang sudah lama tidak dihuni sejak Gus Dur meninggal 2009 lalu. Itu saja saya ketahui setelah dimintai tolong oleh Mbah Tri yang sudah lama tinggal di kediaman Gus Dur untuk membantu membersihkan Puan menjelang Haul Gus Dur 2018 .

Tahun 2019 saya menghadiri gedung KPK RI bersama adik perempuan saya yang juga aktivis di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sesampainya di lokasi, saya melihat kerumunan massa mahasiswa di depan Gedung KPK. Saya sendiri tidak tahu para mahasiswa itu melakukan aksi dalam rangka apa. Adik saya pergi memasuki Gedung tersebut sedangkan saya tidak mau masuk gedung tersebut, Gus Dur rupanya tengah berdiri di samping saya. Dua hari setelah mimpi itu saya mendapatkan kabar aksi mahasiswa di Gedung KPK, entah kenapa bisa secara kebetulan seperti itu.

Kemudian pada 30 Juli 2020 ketika malam takbiran saya mimpi menemukan makam baru, baunya masih wangi tapi makam tersebut terletak di sudut kamar saya. Kata orang–orang yang saya jumpai makam itu adalah makam Gus Dur yang baru, saya heran Gus Dur meninggal 10 tahun lalu dan dimakamkan di Jombang kok makamnya pindah ke kamar saya. Tak lama saya datangi makam tersebut dan terdengar suara Gus Dur ia mengatakan “tenang, insya Allah aman.” Kemudian saya ngobrol lama dengan Gus Dur bercerita tentang pandemi yang sedang menimpa Indonesia dan banyak ulama yang meninggal. Seketika itu saya diundang Gus Baha untuk ikut tahlil dan memimpin doa di pemakaman tersebut, ketika saya pamit untuk mengambil air wudlu, Gus Baha sedang menemui kiai- kiai di teras rumah. Dua hari setelah mimpi itu tersiar kabar duka pada 1 Agustus 2020, adik kandung Gus Dur yakni Gus Im wafat.

Baca juga:  Cium Tangan: Sebuah Ritual Politik yang Dahsyat

Selanjutnya di tahun yang sama, saya sedang berada dalam sebuah istana. Saat itu Istana tengah ramai oleh kepungan militer bersenjata. Saya diminta seseorang yang tak dikenal untuk membawa anak kecil dari dalam istana untuk dibawa ke tempat yang aman, ia akan membantu saya melewati jalan yang sepi dari militer melalui petunjuk peta. Dengan mengendarai sepeda onthel saya mengajak anak tersebut dan ditengah jalan saya jatuh dari sepeda, Gus Dur tersenyum dan mengatakan “ayo bangkit, kamu bisa,” setelah itu Gus Dur pergi dan meminta saya untuk melanjutkan perjalanan sampai ke sebuah rumah seorang ulama yang digadang rumah tersebut aman dari pasukan militer.

Kejadian terakhir ketika saya sedang membaca buku tentang Gus Dur kemudian tertidur dan bermimpi bertemu sekelompok pemuda mengepung Muhammad Rizieq Shihab saat pulang ke Indonesia dan berniat membunuh Muhammad Rizieq Shihab, kemudian saya dan teman- teman mendatangi kerumunan dan menyampaikan pesan dari seseorang yang entah itu siapa untuk tidak main hakim sendiri dalam mengadili Muhammad Habib Rizieq, namun tidak ada satu orang pun yang mendengarkan.

Akhirnya saya diajak ke sebuah pesantren yang dihuni oleh kaum dhuafa dan orang- orang yang menginginkan keamanan dan keselamatan keluarganya dari perang saudara saat itu, mereka takut jadi korban. Kata pengasuh dari pesantren itu “di pesantren ini kami menampung mereka gratis tanpa biaya sedikitpun, pesantren ini aman, saya meminta mereka hidup bersama kami supaya belajar agama lagi.” Bahkan pesantren itu juga sedang membangun lagi karena semua kamarnya penuh”. Tak lama dari mimpi itu tersiar kabar soal Muhammad Rizieq sedang ditangani oleh polisi.

Baca juga:  Living Al-Qur'an dan Pesan Kemanusiaan (2): Masa Khulafaur Rasyidin

Dari semua alur mimpi di atas saya kira hanya halusinasi saja, namun mimpi itu seolah nyata hadir dan relevan dengan kejadian akhir-akhir ini. Sebagai orang awam saya kerap menanyakan tafsir mimpi tersebut ke beberapa kawan yang saya pikir bisa membantu. Sampai detik ini saya kerap bingung dengan mimpi yang saya alami. Untukmu Gus Dur, seluruh doa dan penghormatan. Lahu al fatihah.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
1
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top