Rojif Mualim
Penulis Kolom

Alumni Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta. Suka Mengkaji dan Meneliti Pendidikan dan Keislaman. Ta'mir Masjid Jami' Ash-Shofaa, Kartasura, Sukoharjo. Owner Blackjava Indonesia. Tinggal di Surakarta.

Manusia dan Tuhan (1): Refleksi atas Manusia sebagai Tujuan Penciptaan

Whatsapp Image 2021 04 20 At 21.34.30

Allah Swt telah menciptakan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini dengan sempurna, termasuk manusia, dan Allah Swt dalam menciptakan sesuatu pastilah memiliki tujuan yang mulia. Begitupun dalam hal menciptakan manusia. Tetapi apakah dalam hal ini memang benar Allah menciptakan manusia memang sebagai tujuan akhir penciptaan makhluk? Mari kita coba menelaahnya lebih dalam.

Menyoal penciptaan manusia, apakah tuan dan puan ingat dengan sebuah hadis Qudsi yang bunyinya begini: Lau laka, walau laka, ma khalaqtu al-a’lam kullaha, yang artinya “kalau bukan karena engkau (ya Muhammad) tidak akan AKU ciptakan alam semesta”.

Nah, berangkat dari itulah kemudian para sufi mencoba menafsirkannya. Kata para sufi, meskipun kata ‘engkau’ itu yang dimaksud adalah Nabi Muhammad, tetapi Nabi di sini ditafsiri oleh para filsuf sebagai manusia yang sempurna atau al-insal al-kamil, yakni orang yang telah mengaktualkan seluruh potensi kemanusiaannya secara sempurna.

Untuk mendeskripsikan, bahwa manusia memang benar adanya menjadi sebuah tujuan akhir penciptaan alam ini, saya mengawali dengan mengutip dari bukunya Mulyadhi Kartanegara (2006) bahwa Rumi menganalogikan manusia dengan buah. Walaupun buah itu tumbuhnya setalah batang dan ranting, tetapi pohon secara keseluruhan justru tumbuh untuk menghasilkan buah tersebut, begitulah yang diungkapkan penyari populer sepanjang masa itu. Rumi menyampaikan lagi bahwa “kalau tidak mengharap buah, betapa seorang petani akan menanam pohon? Sesungguhnya seorang petani menanam pohon agar dapa menghasilkan dan mengharap buah dari pohon tersebut.

Maka, hemat saya, benar juga apa yang telah dianalogikan oleh Rumi tersebut, bahwa manusia dalam hal ini benar-benar diberi kedudukan yang tinggi, baik dalam kaitannya dengan alam semesta maupun dengan Tuhannya.

Baca juga:  Ustaz Tionghoa Ini Ingin Hubungan Antaragama Rukun Selamanya

Manusia dan Alam Semesta

Dalam kaitannya dengan alam semesta, manusia adalah “buah” seperti yang dianalogikan oleh Rumi di atas, artinya, manusia adalah boleh dikatakan sebagai hasil akhir atau buah evolusi biologis alam.

Selanjutnya, apa yang Tuan dan Puan pikirkan ketika mendengar kata buah? Ya, tentu sama dengan apa yang ada di pikiran saya, bahwa buah mengandung seluruh unsur pohon, dari mulai akar, batang, cabang, dahan, dan runting. Maka, manusia ketika dikatakan sebagai tujuan akhir penciptaan alam ya ada benarnya, sebab manusia sebagaimana buah tadi dalam hal ini juga mengandung seluruh unsur alam semesta.

Nah, tetapi dalam hal ini ada yang lebih spesial lagi, bahwa manusia tidak hanya mengandung seluruh unsur alam semesta seperti unsur pada tumbuhan, hewan atau yang makhluk lainnya, tetapi manusia juga memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh mereka, yaitu diberi kecakapan berbicara dan berpikir atau istilah kerennya rasionalitas. Ini berarti manusia diberi sesuatu kelebihan melebihi makhluk biologis lainnya.

Masih dalam Mulyadhi Kartanegara (2009) bahwa Rumi juga menganggap ketika manusia telah menjacapai tujuan penciptaannya, manusia bukan lagi mikrokosmos, tetapi makrokosmos sendiri. Sebagai hasil evolusi terakhir, manusia adalah yang terbaik dari segi bentuk, fungsi dan kompleksitasnya, atau dalam bahasa al-Qur’an ia disebut “ahsan al-taqwim.”

Manusia dan Tuhan

Dalam kaitanya dengan Tuhan, maka manusia adalah sebagai khalifah fi al-ardh yaitu seorang wakil Tuhan di muka bumi yang sangat dimuliakan-Nya, sebagai makhluk yang dianggap muliah sampai diberi tugas untuknya yaitu mengelola dan memakmurkan bumi. Terlepas itu semua, Allah pun juga telah menyediakan semuanya seluruh yang ada di bumi untuk kesejahteraan manusia sendiri.

Baca juga:  Syekh Sya'rawi dan Buku-Buku yang Dinisbatkan Kepadanya

Sebagai khalifah, ia mempunyai tugas yang amat penting yakni menyampaikan berita dari dunia gaib agar dapat dipahami dan dirasakan manfaatnya oleh seluruh manusia. Sebab, bahwa tidak semua manusia pada praktiknya bisa menerima pesan-pesan ilahi ini, maka Tuhan mengutus para Nabi dan Rasul-Nya untuk membawa kabar tersebut. Maka hemat saya ini sekaligus menjadi pembukti, bahwa Allah sangat memberikan kemuliaan kepada manusia. Bentuk pemuliaan itu bisa Tuan dan Puan lihat bagaimana tanggung jawab-Nya untuk menciptakan segala sarana dan prasarana yang Dia ciptakan di bumi ini.

Pada praktisnya, bahwa Allah telah menciptakan segala apa yang ada di bumi ini dengan lengkap dan sempurna untuk manusia, demi lancarnya menjalankan perannya sebagai kholifah di muka bumi ini.

Terlepas Manusia diciptakan Allah Swt. untuk beribadah kepada-Nya dan menjadi khalifah Allah Swt. di muka bumi. Bahwa dalam menjalankan kedua misi tersebut, manusia juga diberi beban yang cukup berat yaitu berupa amanah atau beban taklif.

Mari coba kita refleksikan kepada kondisi yang ada sekarang ini. Dalam suasana musibah pandemi Covid-19 yang melanda seluruh makhluk termasuk kehidupan manusia, seharusnya manusia mengingat kembali kepada tujuan manusia diciptakan oleh Allah Swt.

Misalnya, Pertama manusia menjadi seorang khalifah di muka bumi. Di dalam suasana pandemi seperti ini, sebagai khalifah tidak boleh berhenti untuk terus mencari ilmu, sebab sebagai manusia mempunyai banyak tanggung jawab, tidak hanya pada diri sendiri kepada Tuhannya saja, tetapi mempunyai tujuan saling mengajarkan kebaikan kepada sesama manusia, masyarakat luas, terlebih manusia mempunyai tanggung jawab kepada alam semesta ini, dalam rangka pemahaman atas musibah pandemi Covid-19 ini agar musibah ini cepat diselesaikan.

Baca juga:  Untuk Apa Kiai Bisri Menipu Setan?

Kita bisa melihat, Pandemi Covid-19 telah merusak tatanan kehidupan, sehingga manusia sebagai khalifah, seharusnya juga menjadi penolong atau saling membantu dan kerjasama dalam menyelesaikan masalah pandemi ini.

Sebagai tujuan penciptaan, manusia harus tetap beribadah kepada-Nya. Terlebih seharunya manusia menjadikan momentum untuk meningkatkan kesadaran beribadah kepada-Nya, meningkatkan kehambaan, agar pandemi ini segera dihilangkan dari muka bumi, dan seluruh makhluk yang ada bisa selamat.

Maka pandemi ini kira-kira diciptakan oleh Allah Swt. untuk sebuah momentum manusia berevaluasi, sejauh mana tingkat keimanan atau sejauh mana tingkatan kita dalam bertaqwa kepada Allah Swt.

Yang terakhir kiranya manusia sebagai tujuan penciptaan, maka mengemban amanah juga dibebankan padanya, oleh sebab itu dalam situasi Covid-19 seperti ini seharusnya manusia terus menerapkan dan saling mengingatkan dalam proses penjagaan keselamaatan semuanya, terlepas itu manusia juga harus senantiasa mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Mari kita fahami, Semoga.

Wallahu a’lam…

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top