Sedang Membaca
Mengenal Kitab Pesantren (80): Kitab Hidāyatul Qārī ilā Tajwīd Kalām al-Bārī dan Pentingnya Sanad al-Qur’an
Avatar
Penulis Kolom

Rohmah Mutiati menimba ilmu di beberapa pondok pesantren, di antaranya Pondok Darul Huda Ponorogo, al-Munawir Krapyak Yogyakarta, Murattilil Qur’an Qadran Kediri, dll. Saat ini sedang tabarukan di Pondok Pesantren Tahfidzul Quran al-Muqorrabin Ponorogo.

Mengenal Kitab Pesantren (80): Kitab Hidāyatul Qārī ilā Tajwīd Kalām al-Bārī dan Pentingnya Sanad al-Qur’an

Screenshot 20220419 012337

Al-Qur’an menempati posisi sentral dalam kehidupan umat muslim. Mempelajarinya dinilai sebagai sesuatu yang terbaik dalam ajaran Islam. Pada titik ini, membaca Al-Quran adalah langkah pertama guna dapat memahaminya. Lebih lanjut, dalam beberapa hadis mengabarkan kepada kita keutamaan membaca Al-Quran, misalnya pahala yang banyak, pemberi pertolongan (syafĪ’an) kelak di hari kiamat, menyembuhkan penyakit hati, dan masih banyak lainnya.

Bila kita berkaca pada ayat al-Qur’an, ternyata membacanya itu tidak seenak dan semau kita lho! Tapi harus dibaca dengan tartil. Sebagaimana perintah Allah dalam ayat 4 surat al-Muzammil. Lalu apa itu tartil?

Sayyidina ‘Ali sebagaimana dikutip Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitabnya al-Itqān fī ‘Ulūm al-Qur’ān memaknai tartil sebagai “memperbagus pengucapan huruf dan mengetahui waqof (tajwīd al-hurūf wa ma’rifah al-wuqūf)”

Sementara itu, para ahli tafsir semisal Imam Fahruddin ar-Razi (w. 606 H) dalam tafsirnya Mafātīh al-Ghāib, Imam ath-Thabrisy (w. 548 H) dalam tafsirnya Majma’ al-Bayān fī Tafsīr al-Qur’ān, dan lainnya menafsirkan kata tartil sebagai pembacaan dengan jelas. Lebih lanjut, Imam al-Qurthuby dalam kitabnya tafsīr al-jāmi’ li-ahkām al-qur’an mengartikan tartil tidak membaca al-Qur’an secara tergesa-gesa, tetapi membacanya secara pelan-pelan dan jelas serta dengan merenungkan makna-maknanya.

Baca juga:  Keunikan Manuskrip Ilmu Fikih Baubau Sulawesi Tenggara Koleksi La Ode Zaenu

Syaikh Abdul Fattāh al-Murṣafy dalam kitabnya Hidāyatul Qārī ilā Tajwīd Kalām al-Bārī lebih jelas lagi mengartikan tartil sebagai pembacaan dengan tidak tergesa-gesa dan tenang serta merenungi makna-maknanya dan menjaga hukum-hukum tajwid berupa makhorijul huruf, panjang-pendek, maupun sifat-sifat hurufnya.

Dengan demikian, membaca al-Qur’an harus dilandasi dengan kaidah-kaidah tajwid. Pada poin ini, mari kita renungi elemen dasar guna membaca Qur’an menurut Syaikh Abdul Fattāh al-Murṣafy.

Syaikh Abdul Fattāh al-Murafy dan kitab Hidāyatul Qārī ilā Tajwīd Kalām al-Bārī

Sebelum membicarakan elemen dasar dalam membaca al-Qur’an dalam pandangan Syaikh Abdul Fattāh al-Murṣafy, mari terlebih dahulu kita mengenal sosok ulama dari Mesir yang ahli dalam al-Qur’an ini.

Beliau dilahirkan di Murshafa Mesir pada 5 Juni 1923 M. Syaikh Abdul Fattāh terlahir dari keluarga yang ahli al-Quran. Ayah beliau Sayyid ‘Azamy merupakan ulama besar yang telah melahirkan ulama besar di masanya. Syaikh Abdul Fattāh mengkhatamkan hafalan al-Qur’an dibawah bimbingan Syaikh Zaky Muhammad ‘Afify diumur yang kurang dari 10 tahun.

Syaikh Abdul Fattāh memiliki banyak guru yang punya sanad kepada para imam qiraat. Dalam kitab  Hidāyatul Qārī ilā Tajwīd Kalām al-Bārī beliau menjelaskan ketersambungan bacaan beliau kepada Imam Hafs dari Imam ‘Ashim. Beliau mendapatkan sanad tersebut dari beberapa guru di antaranya Syaikh Zaky Muhammad ‘Afify, syaikh Rifā’i dan banyak guru lainnya.

Baca juga:  Tentang Perasaan dan Hal yang Tabu

Elemen Dasar dalam Membaca al-Qur’an

Dalam kitab  Hidāyatul Qārī ilā Tajwīd Kalām al-Bārī Syaikh Abdul Fattāh menekankan tiga hal penting yang menjadi elemen dasar dalam membaca al-Qur’an (arkānul qur’ān). Pertama, ketersesuaian bacaan dengan sudut pandang bahasa Arab. Hal ini penting, mengingat al-Qur’an sebagaimana dalam ayat 3 surat az-Zukhruf.

Kedua, kecocokan bacaan dengan rasm utsmaniy meski itu secara global. Ketiga, sanad bacaan yang bersambung sampai ke Rasulullah. Elemen ketiga ini menurut Syaikh Abdul Fattāh merupakan elemen kunci yang menyempurnakan kedua elemen sebelumnya.

Pada elemen ketiga ini, keberadaan seorang guru yang memiliki sanad bacaan adalah suatu keharusan. Di mana menurut Syaikh Abdul Fattāh dengan bimbingan guru secara langsung maka bacaan seseorang tepat. Hal ini berbeda bagi orang yang hanya belajar dari buku tanpa bimbingan guru. Di mana hal itu akan membuat seseorang terjerumus dalam kesalahan yang nyata dalam bacaan.

Dalam kaitannya dengan pentingnya seorang guru dalam membimbing bacaan al-Quran, Syaikh Abdul Fattāh menukil syair Syaikh Muhammad ‘Ali bin Kholaf al-Husainy:

من يأخد العلم عن شيخ مشافهة # يكن عن الزيغ والتصحيف في حرم

ومن يكن اخذا للعلم من صحف # فعلمه عند اهل العلم كالعدم

Baca juga:  Menelisik Wahabi (7): Inilah Buku Terbaru Tentang Wahabi Berbahasa Indonesia

Barangsiapa mengambil ilmu dari seorang guru secara lisan, maka akan mencegah dari penyimpangan dan salah baca. Dan barang siapa mengambil ilmu dari buku (shuhuf), maka ilmunya menurut ahli ilmu seperti tidak ada

Dengan demikian, menjadi jelas bagi kita bahwa membaca al-Qur’an perlu sanad yang kita peroleh secara langsung dari bimbingan seorang guru guna menghindari kesalahan dalam pembacaan. Kalau membacanya saja perlu sanad, apalagi memahaminya, ya kan? Wallahu a’lam.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top