Pendaftaran Workshop Menulis

Tafsir Surah Quraisy dan Khasiatnya (Bagian 2)

Rizal Mubit

Kemudian Allah berfirman,

فَلْيَعْبُدُوْا رَبَّ هذَا الْبَيْتِ

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Hendaklah mereka menyembah Tuhannya Rumah ini, ini telah menjaganya dan menambah tinggi kedudukannya dalam hati manusia.

Menurut Tafsir Jailani, ayat ketiga ini bermakna anjuran untuk beri‘tikaf di sekitarnya, bertawakal kepada-Nya, dan tidak bepergian untuk berniaga. Artinya hendaknya meluangkan waktu untuk i’tikaf di sekitar Kakbah dan tidak bepergian untuk berniaga sejenak.

Yang memberi mereka makan, demi menjauhkan mereka dari kelaparan…, di samping meluaskan rezeki-Nya bagi mereka. Tanpa itu, niscaya mereka akan berada dalam kelaparan atau kesempitan kehidupan. Wa aamanahum min khauuf. Dan mengamankan mereka dari ketakutan. Yakni ketakutan dari pelanggaran terhadap diri dan keluarga serta harta benda mereka. Dan seandainya tidak demikian halnya, niscaya mereka akan senantiasa diliputi ketakutan yang mengancam dari segala penjuru.

Tafsir Jalalain menyebutkan bahwa ayat terakhir artinya supaya mereka tidak merasa takut lagi. Sesungguhnya mereka sering mengalami kelaparan, karena di Makkah tidak terdapat lahan pertanian, sebagaimana mereka pun pernah dicekam oleh rasa takut, yaitu ketika tentara bergajah datang kepada mereka dengan maksud untuk menghancurkan Ka‘bah.

Sementara itu Ibnu Arabi mengatakan bahwa ayat ini merupakan perintah untuk menyembah dengan tauhid dan mengkhususkan ibadah semata-mata untuk-Nya serta sepenuhnya menghadapkan diri kepada-Nya setelah mencapai makrifat.

Sebab Allah s.w.t. adalah Dzat Yang Maha Kuasa dan Maha Mampu (الَّذِيْ أَطْعَمَهُمْ) [yang telah memberi makanan kepada mereka] dan mengenyangkan mereka (مِّنْ جُوْعٍ) [dari kelaparan] yang menimpa mereka hingga mereka terpaksa memakan bangkai dan tulang yang terbakar, (وَ آمَنَهُمْ مِّنْ خَوْفٍ) [dan mengamankan mereka dari ketakutan] yang datang akibat serangan musuh-musuh mereka yang berkali-kali, dengan keberkahan Ka‘bah. Mereka harus tetap tinggal di sekitar Ka‘bah dan bertawakkal kepada-Nya, maka Dia akan mencukupi kebutuhan rezeki mereka dengan daya dan kekuatan-Nya, sebagaimana Dia telah memberikan kecukupan kepada mereka sebelumnya.

Baca juga:  Alay, Masih Zaman?

Maka dengan menyadari bahwa semua ini, kata Muhammad Abduh, adalah karunia dari Tuhannya rumah ini, mengapa mereka masih saja menjadikan berbagai “perantara” kepada-Nya yang mereka agungkan? Padahal tidak ada sedikit pun campur tangan para perantara itu dalam kenikmatan besar yang mereka peroleh: kenikmatan keamanan- dan itu tentunya merupakan kenikmatan terbesar- dan kenikmatan rezeki serta kecukupan dalam setiap keperluan. Maka tidakkah seharusnya mereka mengesakan-Nya dalam pengagungan, dan mengkhususkan-Nya dalam keikhlasan?

Sementara itu Ibnu ‘Arabi mengatakan maksud ayat ini adalah, Dia yang telah memberi makan mereka (daya-daya ruh) dengan “makanan” makna-makna keyakinan dan pengetahuan-pengetahuan hakiki serta hakikat-hakikat Ilahi; sedemikian rupa sehingga fitrah mereka tidak kelaparan pada tahun-tahun kebodohan awal (sewaktu fitrah suci belum terisi). Allah juga mengamankan “mereka” (daya-daya ruh) dari ketakutan akan dikuasainya mereka oleh “tentara Habsyah” daya-daya jiwa. Allah juga mencegah daya-daya ruhani itu untuk patuh pada “tentara Habsyah” untuk menghancurkan berbagai negeri, memasung kebebasan dan melakukan pembasmian. Allah-lah yang memberi pertolongan semua ini.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Disebabkan makna tersebut di atas, sebagian dari para mufassir berpendapat bahwa surah ini merupakan kelanjutan dari Surah Al-Fiil sebelumnya. Misalnya dalam mushḥaf Ubay, dua surah terakhir ini (al-Fīl dan Quraisy) digabung dalam satu surah, dan sebagian tokoh-tokoh besar sahabat biasa membaca kedua surah ini di rakaat kedua salat Maghrib secara berbarengan.

Baca juga:  Mengenal Para Mufasir Perempuan

Dan bahwa kita li atau karena dari firman-Nya li iilaa fi quraisy, masih berkaitan dengan firman-Nya di akhir surah Al-Fiil maka Dia jadikan mereka seperti dedaunan yang dimakan (ulat).  Yakni, Allah Swt mengirimkan kawanan burung berbondong-bondong kepada tentara bergajah, melempari mereka dengan sijjiil: tanah yang membatu, sehingga mereka terkena wabah penyakit cacar dan binasa karenanya. Semua itu demi menjaga kebiasaan kaum Quraisy melakukan perjalanan di musim dingin dan musim panas.

Khasiat ayat ini menurut Imam Abu Muhammad Abdullah bin As’ad al-Yamani As-Syafii dalam kitab ad-Duur an-Nazhim fi khawas al-Qur’an al-Azhim adalah bisa membuat orang aman dari bahaya makanan. Cara pengamalannya adalah dengan membacakannya pada makanan yang hendak dimakan. Insya Allah mujarab.

Di dalam kitab Mujarrabat ad-Dairabi Kabir, surah ini bisa menghindarkan seseorang dari rasa takut dan kejahatan orang zalim. Caranya sebagai berikut: Pertama, membaca surah Al-Fatihah sekali. Kedua, membaca Ayat Kursi sekali. Ketiga, membaca Surah Al-Qadr sekali. Keempat, membaca Surah Quraisy sekali. Kelima, membaca surah Mu’awidzatain sekali dan terakhir memperbanyak zikir mengingat Allah. Insya Allah apabila amalan tersebut diamalkan maka akan selamat dari kejahatan orang zalim dan hilanglah rasa takut terhadapnya.

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menutup tafsir surah ini dengan menyebutkan bahwa orang yang berjalan menuju Allah s.w.t. dan bergantung pada kedermawanan dan kebaikan-Nya, hendaknya harus mengerjakan semua yang diperintahkan-Nya, menyerahkan semua urusanmu kepada-Nya, ridha’ dengan segala ketentuan-Nya, dan meyakini bahwa segala perkara berada dalam genggaman-Nya. Dia bebas melakukan sesuatu yang dikehendaki-Nya dan menghukumi sesuai dengan keinginan-Nya. Dia tidak ditanya tentang perbuatan-Nya karena Dialah Dzat Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. (RM)

Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top