Sedang Membaca
Tafsir Sosial dalam Kisah Nabi Isa
Stick Banner Nucare
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Abad Badruzaman
Penulis Kolom

Wakil Rektor III IAIN Tulungagung. Alumnus Universitas Al-Azhar Mesir. Penulis Buku-buku Keislaman.

Tafsir Sosial dalam Kisah Nabi Isa

Salah satu topik dalam bidang ‘Ulum Alquran adalah Qashash Alquran (Kisah-kisah dalam Alquran). Topik ini dikaji dengan dasar pemikiran bahwa salah satu isi kandungan Alquran yang cukup menonjol serta memiliki fungsi praktis dalam dunia tarbiyah dan dakwah adalah kisah-kisah. Alquran menuturkan kisah sejumlah nabi dan rasul yang diutus ke kaum mereka masing-masing.

Kepada kaumnya para nabi dan rasul mengajak untuk menyembah hanya kepada Allah dan menjauhi berhalaisme (watsaniyah); tuhan-tuhan palsu bikinan khayalan mereka sendiri. Para nabi dan rasul juga menyeru umatnya untuk menjalankan aturan (syariat) yang telah diturunkan-Nya guna mengatur kehidupan mereka dengan segala seginya: politik, ekonomi, sosial dan budaya. Para nabi dan rasul membawa misi membimbing manusia ke arah kemajuan dan kematangan berpondasikan nilai-nilai ilahiah.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Penggalan-penggalan kisah dalam Alquran berada dalam naungan “rumah besar” bernama al-hady Alqurani (hidayah, petunjuk, arahan Alquran). Semua penggalan itu, dengan segala ragamnya, panjang-pendeknya, detil-singkatnya, bermuara di rumah besar itu. Dengan demikian, kisah-kisah dalam Alquran merupakan bagian tak terpisahkan dari aspek-aspek lain dalam Alquran. Satu sama lain saling melengkapi dalam merealisasikan tujuan luhur diturunkannya Alquran, yakni hudan li al-nâs.

Namun demikian, kisah-kisah dalam Alquran umumnya masih dipandang dan diperlakukan sebagai kisah murni. Padahal sesungguhnya kisah-kisah itu merupakan gambaran jujur tentang segala kondisi masyarakat tertentu dengan segala muatan yang dikandungnya. Ia menggambarkan banyak aspek kehidupan seperti politik, ekonomi, sosial dan budaya. Sementara itu, model pembacaan yang ada sekarang umumnya belum beranjak dari pembacaan yang menyikapi kisah-kisah itu sebagai gejala keagamaan-normatif murni. Ketika kita membaca kisah Nabi Syu’aib as. misalnya, maka wacana yang mengemuka masih didominasi oleh wacana keagamaan murni. Pembangkangan yang dilakukan oleh umat Nabi Syu’aib masih dipandang sebagai pembangkangan dalam bidang akidah-keimanan semata.

Baca juga:  Mengenal Metode Penafsiran Alquran Tematik

Seperti telah disinggung bahwa kisah-kisah itu merupakan gambaran jujur tentang kondisi politik, ekonomi, sosial dan budaya masyarakat tertentu, maka perlu ada perluasan wawasan dan model pembacaan baru atas kisah-kisah itu yang lebih menekankan pada aspek-aspek tersebut. Bukan lagi membacanya sebagai gejala keagamaan murni yang tidak terkait dengan aspek-aspek kehidupan lainnya. Pada setiap kisah yang ditampilkan Alquran terdapat nilai-nilai luhur bagi kehidupan manusia dengan segala aspek yang dikandungnya.

Kisah Nabi ‘Îsâ as.

Nabi ‘Îsâ diutus kepada Banî Isrâ`îl (orang-orang Yahudi) untuk meluruskan penyimpangan-penyimpangan yang mereka lakukan atas ajaran Nabi Mûsâ dan untuk membebaskan mustadh’afîn yang ditindas oleh para pemuka agama, para penguasa dan para pejabat.

Di antara ajaran Nabi Mûsâ untuk Banî Isrâ`îl adalah menghormati hari Sabtu dan mengkhususkannya untuk ibadah. Namun lama-kelamaan hikmah di balik penghormatan terhadap hari Sabtu lenyap. Hari Sabtu kini hanya menjadi lahan untuk menerapkan teks-teks agama secara harfiah dan kaku. Hari Sabtu memang masih disucikan oleh orang-orang Yahudi. Namun mereka mengisinya dengan rangkaian upacara ritual-formalistik yang hampa makna.

Di hari Sabtu, ‘Îsâ pergi menuju kuil Yahudi.  Kuil dipenuhi domba dan burung merpati persembahan para pengunjung untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Setiap langkah di dalam kuil harus dibayar dengan uang. Di kuil ‘Îsâ melihat bahwa satu-satunya nilai yang dipuja pada waktu itu adalah uang. Kekayaan materil merupakan satu-satunya nilai yang diperebutkan oleh semua orang. Entah itu tokoh agama atau tokoh non-agama.

Baca juga:  Timur Tengah dalam Sastra Indonesia: Menimbang Kontribusi Fudoli Zaini (2/2)

Di luar kuil ia melihat orang-orang miskin tidak sanggup membeli hewan kurban dan bagaimana para pendeta memperlakukan mereka layaknya binatang. ‘Îsâ berpikir bagaimana hewan-hewan kurban itu dibakar dan dagingnya menjadi asap di udara, sementara ribuan orang miskin mati kelaparan. Mengapa orang-orang miskin dipaksa membeli hewan kurban kepada para pendeta? Apa yang dilakukan para pendeta itu dengan uang hasil penjualan hewan kurban? Dan di manakah tempat kaum miskin dalam kuil itu? Sebab yang ada di sana hanya orang-orang kaya. Sangat aneh, mengapa orang baru boleh masuk tempat ibadah kalau membawa uang.

Kepada kaum yang keadaannya seperti itu ‘Îsâ diutus. Ia menyeru mereka:

Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad). Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.” (QS al-Shaff/61: 6).

Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia (QS Âli ‘Imrân/3: 51)

Seperti dakwah para nabi lainnya, dakwah ‘Îsâ ditanggapi kaumnya dengan penolakan dan tuduhan. Mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata.” (QS al-Shaff/61: 6). Dan seperti biasa pula, selalu ada kelompok kecil yang menyambut risalah para nabi:

Baca juga:  Kelas Poligami Nasional dan Islam Moderat

Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israil) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?”[34] Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri. Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah)” (QS Âli ‘Imrân/3: 52-53).

Para tokoh agama dan para pembesar kaum yang menolak seruan ‘Îsâ kemudian melaporkan kepada raja kafir pada waktu itu bahwa di wilayah kekuasaannya ada seorang laki-laki yang menyesatkan manusia, memalingkan mereka dari menaati raja, menghasut rakyat, memecah belah hubungan seorang ayah dengan anaknya, dan kebohongan-kebohongan lainnya. Mereka juga mengatakan secara dusta kepada sang raja bahwa laki-laki itu terlahir sebagai anak zina. Mereka berhasil memancing kemarahan sang raja. Maka ia memerintahkan supaya laki-laki itu didatangkan kepadanya untuk disalib dan disiksa. (RM)

 

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top