Sedang Membaca
Ketika Nabi Dicurhati Masalah Ekonomi
Rizal Mubit
Penulis Kolom

Guru Ngaji di Kampung. Pengajar di Universitas Kiai Abdullah Faqih Manyar Gresik, Jawa Timur. Alumni Pusat Studi Qur'an Ciputat dan Pascasarjana IAIN Tulungagung prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir. Menulis sejumlah buku bertema keislaman. Peneliti Farabi Institute.

Ketika Nabi Dicurhati Masalah Ekonomi

Di dalam Sunan Abi Dawud disebutkan Kanjeng Nabi SAW bertanya kepada seorang laki-laki Anshar yang sowan menemui beliau. Agaknya orang ini sedang terhimpit masalah ekonomi sehingga membutuhkan solusi untuk mengatasinya.

Setelah lelaki Anshar tersebut mengutarakan niat sowannya, Kanjeng Nabi bertanya, “Ada sesuatu di rumahmu, Kang?”

Sesuatu yang ditanyakan Kanjeng Nabi maksudnya adalah barang yang bisa dijual.

Ia menjawab, “Ya, Kanjeng Nabi. Di rumahku ada sehelai kain hilas; sebagiannya kami jadikan pakaian dan sebagiannya lagi kami jadikan alas (tikar), dan sebuah cangkir yang biasa kami gunakan untuk minum.”

“Bagus. Bawa kedua barang itu kemari!” perintah Kanjeng Nabi.

Ia pun pulang ke rumahnya. Sesaat kemudian dia kembali membawa kedua barang yang disebutkan.

Setelah bertemu, Kanjeng Nabi mengambil keduanya lalu berkata kepada beberapa sahabat yang berada di sana.

“Siapa yang sudi membeli kedua benda ini? Harganya satu dirham,” kata Kanjeng Nabi.

Salah satu sahabat berkata, “Aku akan membeli keduanya.”

Kanjeng Nabi bersabda lagi, “Siapa berani lebih dari satu dirham?”

Beliau mengulangi pertanyaannya dua sampai tiga kali hingga seorang sahabat lain berkata, “Aku membelinya dua dirham”.

Kanjeng Nabi pun memberikan kedua barang itu kepada sahabat yang membeli dan mengambil dua dirham darinya.

Kemudian, Rasulullah memberikan dua dirham kepada laki-laki Anshar dan bersabda, “Kang, gunakan satu dirham untuk membeli makanan, lalu berikan kepada keluargamu. Gunakan satunya lagi untuk membeli kapak lalu berikan kapak itu kepadaku.”

“Nggih, Kanjeng Nabi. Siap!”

Baca juga:  Jejak Tasawuf (4): Masa Tasawuf Sunni dan Falsafi

Sahabat Anshar itu membeli kapak sebagaimana perintah Kanjeng Nabi. Dia membawa ke ndalem Kanjeng Nabi. Di saat yang sama, Kanjeng Nabi mengikat kayu dengan tangannya lalu bersabda kepada laki-laki itu, “Pergilah, Kang! Ubahlah kayu ini menjadi kayu bakar agar bisa dijual. Jika sudah layak, juallah kayu bakar itu dan jangan menemuiku selama 15 hari!”

“Nggih, Kanjeng Nabi. Siap!”

Laki-laki itu pergi, mengolah kayu pemberian Nabi menjadi kayu bakar, kemudian menjualnya. Dari penjualan kayu bakar itu, sahabat Anshar tersebut mendapatkan 10 dirham. Sebagiannya dia belikan baju dan sebagian lainnya dia belikan makanan. Lalu dia mendatangi Rasulullah SAW. Setelah 15 hari. Dia menceritakan apa yang dilakukannya selama 15 hari dengan kayu bakarnya.

Mendengar apa yang dilakukannya, Kanjeng Rasulullah SAW bersabda, “Nah, Kang. Itu lebih baik bagimu daripada meminta-minta yang akan membuatmu malu pada hari kiamat kelak.”

Demikian cara Kanjeng Nabi menghadapi sahabat dari lapisan terlemah dalam masyarakat. Bukan saja memotivasi “Orang paling baik adalah orang yang memakan makanan dari hasil usahanya sendiri dan Nabi Dawud sungguh selalu makan dari hasil usahanya sendiri” (HR Bukhari), Nabi juga memberi solusi nyata untuk mewujudkannya.

Kanjeng Nabi dekat dengan Allah. Seandainya beliau mau berdoa agar diturunkan uang langsung, bisa saja Allah akan mengabulkannya. Namun ternyata bukan demikian yang terjadi. Beliau justru memberikan pelajaran konkret tentang bekerja.

Baca juga:  Menari Bersama Kekasih (3): Laku Thariqah

Dari kisah ini pula kita bisa mengambil pelajaran bahwa keterbatasan bukan alasan untuk bergantung pada orang lain. Justru keterbatasan itulah yang akan menjadikan orang bekerja semakin giat dan tepat.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
4
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top