Sedang Membaca
Budi Pekerti Nabi
Penulis Kolom

Guru Ngaji di Kampung. Pengajar di Institut Keislaman Abdullah Faqih Manyar Gresik, Jawa Timur. Alumni Pusat Studi Qur'an Ciputat dan Pascasarjana IAIN Tulungagung prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir. Menulis sejumlah buku bertema keislaman. Peneliti Farabi Institute.

Budi Pekerti Nabi

Ketika Nabi Muhammad berada di bilik salah seorang istrinya, pernah ada sekelompok orang Arab pedalaman datang dan memanggil beliau dengan suara keras dan lantang. Saat itu juga Allah menegur mereka melalui wahyu yang diturunkan kepada Nabi: 

“Sesungguhnya orang-orang yang memanggilmu dari luar kamarmu kebanyakan mereka tidak mengerti dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka sesungguhnya itu lebih baik bagi mereka dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang.” (QS. Al-Hujurat [49]:4-5. Ini adalah suatu langkah budaya luar biasa yang dilakukan nabi kepada orang-orang Baduy.

Nabi juga mengajarkan kepada orang-orang yang sehari-harinya hidup di sekitar beliau  tentang bagaimana adab minta izin dan memberitahu kedatangan. Jabir menuturkan, “Aku datang ke rumah Nabi untuk menagih hutang. Aku mengetuk pintu.”

“Siapa?” tanya Nabi.

“Aku!” jawab Jabir.

“Aku? Aku siapa?” Beliau kelihatan tidak senang.

Begitulah Nabi mengajari Jabir menyebutkan namanya ketika ditanya dari balik pintu. Sebab aku bukan nama melainkan kata yang menunjuk pada diri pembicara. Yang benar adalah seperti yang dilakukan Nabi saat meminta izin masuk ke bilik istrinya. Ketika ditanya, siapa yang mengetuk pintu. Beliau menjawab, “Abul Qosim!”

Pernah seorang lelaki datang ke rumah nabi dan meminta izin masuk. “Bolehkah aku masuk?” kata orang itu. Beliau lalu memanggil pembantunya seraya berkata, “Keluarlah! ajari orang itu tata krama minta izin masuk. Suruh katakan, “Assalamualaikum. Boleh masuk?”

Para sahabat pun memakai tata krama minta izin ini sampai-sampai Abu Musa al-Asy’ari mengeluarkan riwayat bahwa nabi bersabda, “Minta izin cukup tiga kali. Jika diizinkan masuk, masuklah. Jika tidak, pulanglah!” Salah satu adab yang ditunjukkan para sahabat saat mendatangi rumah Nabi adalah mengetuk pintu dengan jari bukan dengan kuku sebagaimana tradisi mereka sebelumnya.

Baca juga:  Ketika Imam Nawawi Belajar Nahwu pada Imam Ibnu Malik

Satu hal menakjubkan tentang bagaimana Nabi mengajarkan permintaan izin dapat kita lihat sepulang beliau dari salah satu peperangan. Begitu rombongan mendekati batas kota Madinah, Nabi memerintahkan segenap pasukan berhenti sejenak. Lalu diutuslah seseorang menemui istri-istri beliau untuk menyampaikan kabar kedatangan dengan maksud agar mereka benar-benar siap memberikan penyambutan.

Rasulullah bersabda, “Jika kamu lama meninggalkan rumah jangan sampai pulang malam. Namun bila terpaksa, hendaknya kita tidak langsung masuk sebelum istri bersolek dan menyisir rambutnya yang kusut.”

Jika nabi masuk ke keluarganya beliau mengucap salam. Wajahnya berseri dan senantiasa tersenyum. Beliau menekankan pentingnya hal tersebut. Beliau bersabda, “Jika kamu masuk ke keluargamu, Ucapkan salam niscaya kamu dan seluruh keluargamu akan berkah.”

Sebagaimana Nabi menginginkan terciptanya tenang dan kondusif dalam rumah tangga, setiap muslim. Begitu juga beliau menginginkan tidak adanya faktor luar yang mengganggu suasana tersebut dan mengotori hati. Para sahabat pun meniru bentuk tata krama yang dicontohkan Nabi. Setiap informasi yang mereka ketahui melalui istri-istri beliau langsung mereka praktikkan.

Di antara sifat rumah tangga Nabi yang lain adalah menjaga kehormatan semua yang terjadi di rumah beliau tak lepas dari sifat ini. Sekecil apapun hal yang dicurigai akan merusak kehormatan, pasti nabi hindari. Suatu hari beliau masuk ke biliknya. Di dalamnya, selain dua orang istri beliau dengan busana santai, terdapat juga Ibnu Ummi Maktum. Menyaksikan hal itu beliau marah. Kedua istri Nabi berkata, “Wahai Rasulullah, dia ini buta.”

Baca juga:  Sabilus Salikin (117): Tarekat Syadziliyah

“Apakah kalian juga buta?” Nabi menyembunyikan rasa jengkelnya. Beliau tidak suka ada laki-laki asing yang berkepentingan berada di tempat yang terbaik di sana meski ia hanya seorang buta.

Seorang waria bernama Hit masuk bilik Ummu Salamah. Begitu mendengar kabar itu, nabi berkata, “Abdullah bin Umayyah, kalau Allah berkenan menaklukkan Thaif, kutunjukkan seorang waria. Iya berkemaluan 4 dan berdubur 8.” Nabi di sini hendak mengatakan bahwa ia menyimpan hal busuk dan berpengaruh buruk kepada orang lain. Karena itu beliau lalu berkata kepada istri-istrinya, “Jangan biarkan mereka masuk ke bilik kalian di rumah.”

Dalam segala hal Nabi senantiasa menghiasi diri dengan tata krama yang disusun sejalan dengan konsep kesehatan jasmani dan rohani. Nabi tak pernah makan sambil bertelekan tetapi selalu duduk lurus. Begitu rasa lapar hilang, beliau segera berhenti. Beliau mengajari sahabat, “Jika kalian makan, sebutlah nama Allah yang Maha Tinggi. Nabi melarang keluarganya meniup makanan atau minuman yang panas, tak pernah mencela makanan. Jika disukai beliau makan. Jika tidak beliau tinggalkan.

Beliau juga mengajari keluarganya kebersihan. Kalau bersin beliau menutup mulut dengan tangan atau baju biar tidak mengganggu yang lain. Saat akan berangkat tidur Rasulullah berwudhu terlebih dahulu kemudian mengipas alas tidurnya dengan ujung sarung. Rasulullah memulai setiap pekerjaan dengan tangan atau kaki sebelah kanan seperti makan, minum, berwudhu, berpakaian dan berjalan. Sementara ketika masuk kamar kecil beliau menggunakan yang kiri.

Baca juga:  Membaca Nasruddin Hoja, Tokoh Muslim Paling Lucu

Rumah tangga Nabi Muhammad berhias adab, menjaga dan mensyukuri nikmat. Beliau mengarahkan semua istrinya untuk menghormati dan menghargai dengan sungguh-sungguh. Setiap istri Nabi mendapat pelajaran tata krama dari beliau sendiri di bawah bimbingan dan asuhan beliau. Mereka tidak menunjukkan pembicaraan kecuali yang baik.

Usai melangsungkan perkawinan dengan Zainab binti Jahsy, Rasulullah lalu mengunjungi kamar Aisyah kemudian Rasulullah berkeliling ke bilik istri-istri beliau. Kehidupan keluarga Nabi berjalan mulus. Tak ada ketegangan antara Nabi dan semua istri beliau. Mereka memperlakukan Nabi secara manusiawi dalam segala hal. Ini menandakan bahwa Nabi adalah seorang manusia, kecuali saat nabi menerima wahyu. Dalam situasi itu beliau benar-benar menyatukan diri.

Salah satu bukti kemanusiaan Nabi adalah mencintai istri-istrinya. Kadang di depan beliau mereka adu mulut dan berteriak-teriak kecil tetapi tentu saja hal itu dilakukan dengan baik tidak keluar dari batas kesopanan.

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Umar pernah masuk ke rumah beliau kebetulan beberapa istri beliau sedang terlibat adu mulut begitu melihat Umar datang mereka sontak berhenti dengan heran. Umar berkata,

“Kalian takut kepadaku tetapi tidak takut pada Rasulullah Saw.

Mereka menjawab, “Ya karena kau lebih keras daripada Nabi!”

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top