Sedang Membaca
Dua Prinsip Mencari Sekolah yang Tepat bagi Anak
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Dua Prinsip Mencari Sekolah yang Tepat bagi Anak

Rijal Mumazziq Z

Ketika mencari TK, lalu MI untuk menyekolahkan Avisa Aurora Baldatina, anak sulung, mula-mula saya cari sekolahan yang secara ideologis, harakah dan amaliah-ilmiah berkaitan dengan prinsip dasar keislaman versi saya: Ahlussunnah wal Jamaah Annahdliyyah. Sebab, ada beberapa sekolah yang mengajarkan ayat-ayat qital (perang) kepada anak didiknya yang belum baligh. Saya merasa ngeri-ngeri sedap membayangkan anak saya ditempa bukan dengan ayat akhlak dan kasih sayang, tapi dengan ayat perang di dalam kondisi negara yang aman dan damai seperti ini.

Prinsip kedua. Saya mencari lingkungan sekolah ada tiang pengibar merah putih, ada upacara bendera, ada lambang Pancasila, foto presiden-wapres, foto pahlawan nasional, dan tentu saja anak-anak diajak riang gembira dengan menyanyi.

Saya nggak muluk-muluk. Saya pengen anak saya tumbuh dalam fitrah kanak-kanaknya: menyanyi dengan riang, bergerak aktif, dan mulai mengenal kecintaan terhadap bangsanya, negaranya, para pahlawan yang sudah berkontribusi untuk tanah airnya. Ini fondasi penting. Sebab, banyak sekolah yang hanya menekankan aspek keIslaman lantas mengenyampingkan ke Indonesiaan. Akhirnya, anak didik tumbuh dalam kepercayaan diri sebagai muslim, tapi minder sebagai bangsa Indonesia. Efek samping lain, pluralitas dan multikulturalisme Indonesia tidak menjadi titik poin penting dalam pembinaan karakteristik dasar siswa.

Baca juga:  Surat Yasin, kisah Nabi Yusuf dan Inspirasi Teknologi Pasca Panen

Saya orang NU yang tidak pernah memisahkan antara mencintai Islam dan Indonesia, sebagaimana ajaran para ulamanya. Keduanya melebur, tidak bisa dipisahkan. Islam adalah ruh, Indonesia adalah jasad.

Karena itu, bagi saya, yang paling penting dalam merancang masa depan anak adalah bagaimana mengenalkan mereka kepada Islam dan Indonesia secara bersamaan. Mencintai keduanya, sekaligus dididik untuk berkontribusi memajukan dua kutub ini.

Foto di atas adalah ruang guru di MI Nurul Huda, Gondangrejo, Cakru, Kencong Jember, yang saya potret sewaktu saya diminta memberikan ceramah dalam rangka perpisahan siswa, Sabtu (22/5), silam. Perhatikan, selain ada logo NU dan potret KH. Hasyim Asy’ari serta Bupati-Wabup, ada juga lambang Pancasila dan foto presiden-wapres (tidak terpotret), dan foto Bung Karno!

Ini penting, bagi saya. Bagaimana kecintaan terhadap para pendiri bangsa diperkenalkan sejak dini. Sukarno, peletak dasar Marhaenisme, memang secara idiologis berbeda dengan NU. Namun lembaga ini tidak menafikan jasanya bagi Indonesia. Saya bergembira, karena setelah memdengarkan Indonesia Raya, gendang telinga saya bergetat ditabuh mars Syubbanul Wathan yang dilafalkan secara meriah oleh para murid MI ini. Mars patriotik ciptaan salah satu pahlawan nasional, KH. A. Wahab Chasbullah.

Anda boleh berbeda prinsip dengan saya. Silahkan. Tapi masa depan Islam-Indonesia ada di tangan anak-anak kita. Memperkenalkan KeIndonesiaan akan membuat pribadi mereka mencintai tanah airnya. Sedangkan mendidik mereka dengan ajaran Islam akan membuat mereka tumbuh menjadi muslim yang baik yang berkontribusi memajukan bangsa dan negaranya.

Baca Juga

Ya, mendidik mereka menjadi, dalam istilah KH. Abdul Wahid Hasyim, orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang tinggal di Indonesia. Yaitu, mereka yang bersyukur dan mendayagunakan segala potensi dan berbagai anugerah yang dilimpahkan oleh Allah kepada bangsa Indonesia, bukan mereka yang hanya menumpang hidup di negeri ini, lantas atas nama agama mencampakkan identitas kebangsaanya.

Kasus WNI yang bergabung dengan ISIS di Suriah, lalu setelah kalah mereka ingin kembali ke Indonesia, adalah cuontoh nyata. Pengen punya generasi parasit seperti ini? Jika tidak, ayo cari sekolah yang tepat buat buah hati kita. Yang mengajarkan keIslaman dan KeIndonesiaan secara seimbang.

WAllahu A’lam Bisshawab. (RM)

Lihat Komentar (0)

Komentari