Sedang Membaca
Ulama Banjar (65): KH. Abd. Muthalib Muhyiddin
Redaksi
Penulis Kolom

Redaksi Alif.ID - Berkeislaman dalam Kebudayaan

Ulama Banjar (65): KH. Abd. Muthalib Muhyiddin

Kh. Abd. Muthalib Muhyiddin

(L. 18 Agustus 1918 – W. 1974)

KH. Abd. Muthalib Muhyiddin adalah seorang cendekiawan muslim di Kalimantan Selatan. Pemikiran cemerlang beliau telah banyak membawa perubahan bagi perkembangan pendidikan Islam. Beliau dilahirkan di Amuntai, tanggal 18 Agustus 1918 dan merupakan putera kedua belas dari tiga belas bersaudara dari keluarga petani yang taat beribadah.

Jenjang pendidikan beliau adalah Inlandse School kelas V di Amuntai (1927). Kemudian meneruskan ke Madrasah Arabische School, sekarang dikenal dengan Perguruan Rakha di Amuntai hingga kelas VII (1938). Pada tahun 1939 meneruskan studinya ke Kweekschool Islam Pondok Modern Gontor Ponorogo hingga selesai tahun 1942. Disamping pendidikan formal yang didapatnya dari bangku sekolah, H. Abd. Muthalib Muhyiddin juga aktif mengaji kitab-kitab agama. Kegiatan tersebut dilakoninya kurang lebih 12 tahun (1927-1939) di Lok Bangkai dan Sungai Banar.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Setelah menyelesaikan studinya di Gontor, H. Abd. Muthalib Muhyiddin membuka pengajian khusus untuk kaum wanita yang mengambil tempat bagian belakang rumah paman beliau. Berbasis pengajian tersebut, maka pada tahun 1942 dibangunlah madrasah khusus untuk kaum wanita yang diberi nama Madrasah Al Fatah. Di Madrasah inilah beliau mengajar sampai tahun 1945. Sejak tahun 1942 sampai akhir hayatnya (1974) beliau aktif mengajar di Perguruan Islam Rakha Amuntai.

Di samping itu beliau juga menjadi guru agama pada Sekolah Menengah Pertama Negeri Amuntai (1948-1949), Pembimbing Ruhani KODIM HSU (1949-1950), guru agama pada Sekolah Menengah Atas Negeri Amuntai (1961-1967), mengajar di Sekolah Menengah Islam Rakha Amuntai (1964-1974) dan dosen di Fakultas Ushuluddin IAIN Antasari (1961-1974).

Baca juga:  Ulama Banjar (137): Drs. H. Rusdiansyah Asnawi, SH

Disela-sela kesibukannya sebagai pengajar, H. Abd. Muthalib Muhyiddin menjabat Wakil Direktur Perguruan Rakha (1945), dan pada tahun 1949 menjadi direktur menggantikan KH. Idham Chalid yang ditangkap NICA. Tahun 1951 menjabat Wakil Pengasuh pada perguruan tersebut sampai akhir hanyatnya (1974). Pada tahun 1954 menjabat Ketua I Badan Pendukung berdirinya Sekolah PGA IV tahun, dan merangkap Wakil Kepala Sekolah tersebut. Ketua Direkturium Sekolah Persiapan IAIN sampai penegeriannya (1966-1967), Tahun 1970 menduduki jabatan Wakil Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Antasari, pejabat Sementara Dekan Fakultas Tarbiyah Rakha Amuntai (1971), Pejabat sementara Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Antasari.

KH. Abd. Muthalib Muhyiddin juga aktif di Ittihadul Ma’ahidil Islamiyah (Ikatan Madrasah Islam) yang beranggotakan 69 Madrasah yang tersebar di berbagai Kabupaten di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, beliau menduduki jabatan Wakil ketua Majelis Luhur yang membidangi pendidikan dean pengajaran. Pada tahun 1952 Ittihadul Ma’ahidil Islamiyah (IMI) bersatu dengan Serikat Perguruan Islam (SERPI) ddi Banjarmasin menjadi Persatuan Madrasah Islam Indonesia (PMII). Dalam organisasi pendidikan baru ini beliau dipercaya menduduki jabatan Ketua II Majelis Syura, dan merangkap anggota bidang pendidikan dan pengajaran Majelis luhur PMII.

Ittihadul Ma’ahidil Islamiyah telah mengutus beliau sebagai peserta Kongres Muslimin Indonesia yang pertama (20-25 Desember 1949) di Yogyakarta. Beliau salah seorang dari tim 10 yang membidani lahirnya Ikatan Keluarga Alumni Pondok Modern Gontor Ponorogo yang dipimpin langsung oleh KH. Imam Zarkasyi (17 ke 18 Desember 1949) di Yogyakarta.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Di zaman revolusi, menjelang terbentuknya ALRI Divisi IV A tanggal 13 Oktober 1948 semua kelaskaran (gerakan bersenjata) menyatukan kekuatan dalam wadah ALRI Divisi IV A dibawah pimpinan Hasan Basry. Salah satu dari kelaskaran itu bernama B. N. 5/S Kuripan Jaya (Benteng Nasional Amuntai Selatan). Dalam B. N. 5/S ini beliau adalah salah seorang staf markas dan salah seorang penasehat markas B. N. 5/S. Surat kabar “Obor Perjoeangan” yang diterbitkan oleh markas pedalaman B. N. 5/S adalah atas gagasan dari H. Abd. Muthalib Muhyiddin. Obor Perjuangan ini merupakan kelanjutan dari Harian Trompet Rakyat dan Menara Indonesia di bawah pimpinan wartawan Hamran Amberi dan Yusni Antemas yang diberangus oleh penjajah, dalam penerbitan tersebut beliau termasuk salah seorang pimpinan redaksi. Karena jasa dan perjuangan itulah beliau diberi pangkat Sersan oleh Ajudan Jenderal Territorium VI/Tanjung Pura.

Baca juga:  Ulama Banjar (14): KH. Usman

Telah banyak pengabdian yang diberikannya untuk bangsa dan Negara. Tahun 1950 beliau menjadi Anggota DPRD Kabupaten Hulu Sungai (sekarang telah mekar menjadi Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Tapin, Tabalong dan Balangan), Anggota DPDS (1952-1956), Anggota DPRD Sementara Kabupaten Hulu Sungai Utara (1952), Anggota DPD Peralihan (1956-1958), Anggota DPRD Peralihan (1956), Anggota DPRD Swatantra Tingkat II Hulu Sungai Utara. Pada tahun 1960 menjadi Anggota BPH (Badan Pemerintah Harian) bagian sosial ekonomi, juga pernah menjadi Pj. Bupati Urusan Otonomi Daerah Kabupaten Hulu Sungai Utara (2 Mei s. d. 13 September 1964).

Sebelum itu, pada tahun 1951 H. Abd. Muthalib Muhyiddin adalah seoarang pelopor dan pengurus PETIR (Penyatuan Tindakan Rakyat). Petir ini menuntut pembentukan Kabupaten Hulu Sungai Utara, dan tuntutan tersebut berhasil diwujudkan pada tahun 1952. Atas jasa yang telah diberikannya Bupati Hulu Sungai Utara Bihman Villa memberikan penghargaan kepada beliau pada Hari Ulang Tahun ke-24 HSU tahun 1976.

Sebagai seorang ulama dan cendikiawan yang berkecimpung dalam dunia pendidikan, banyak sekali pokok-pokok pikiran serta ide-ide yang telah beliau tuangkan melalui karya tulisnya antara lain Sendi Islam (memuat pembahasan Rukun Islam secara mendasar), Sendi Iman (menguraikan pokok-pokok akidah), Pengetahuan Agama Islam (berisikan pembahasan Keimanan, Fikih, Sejarah dan Akhlak), Risalah Ushuluddin (berisikan pengantar Ilmu Kalam), Mendidik dan Mengajar (ditujukan untuk para pendidik dan pengajar), At Tasawuful Islamy (berupa diktat berbahasa Arab), Ilmu Tauhid (juga berbahasa Arab), Phase Kehidupan, Majmu’ al-‘ad’iyah (merupakan kumpulan bermacam-macam do’a).

Baca juga:  Ulama Banjar (97): KH. Abdullah Madjerul

Begitu pula karya tulis, Tujuh belas Tahun Kabupaten Hulu Sungai Utara (memuat sejarah perjuangan dan perkembangan daerah Kabupaten Hulu Sungai Utara, dalam penyusunannya beliau bersama-sama Yusni Antemas dan Amir Husaini Zamzam), Lima puluh Tahun Perguruan Islam Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai Kalimantan Selatan 1922-1972 (memuat sejarah perkembangan perguruan Rakha, dalam penyusunannya beliau sebagai Ketua Dewan Redaksi dan Ketua Panitia Penyusunan), Mudzakarah Tasawuf. Disamping itu, ada beberapa diktat yang menyangkut Tata Hukum dan Tata Negara, serta 99 naskah khotbah Jum’at yang pernah di khotbahkan sejak tahun 1962 sampai akhir hayat beliau tahun 1974.

Sumber Naskah: Tim Penulis LP2M UIN Antasari Banjarmasin dan MUI Provinsi Kalimantan Selatan.

Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top