Sedang Membaca
Ulama Banjar (23): Tuan Guru H. Muhammad Yusuf
Penulis Kolom

Redaksi Alif.ID - Berkeislaman dalam Kebudayaan

Ulama Banjar (23): Tuan Guru H. Muhammad Yusuf

Kh. Muhammad Yusuf

(L. 1904 – W. 1961)

Salah seorang qari terkenal di di Kalimantan Selatan adalah H. Muhammad Yusuf yang tinggal di Nagara, Hulu Sungai Selatan. Kepiawaiannya di bidang seni baca Al-Qur’an menurut cerita dari mulut ke mulut. Bila ia sedang melantunkan ayat-ayat suci Alquran, orang-orang yang berlalu di depan rumahnya dipastikan berhenti untuk mendengarkan bacaannya dan menikmati kemerduan suaranya.

H. Muhammad Yusuf lahir pada tahun 1904, anak tunggal dari pasangan Ahmad dengan Bahjah. Latar belakang pendidikannya adalah Pondok Pesantren dan sempat tinggal di Mekkah Al-Mukarramah untuk menimba ilmu pengetahuan, terutama di bidang Alquran. Dari perkawinannya dengan Zahrah ia dikaruniai 7 orang anak masing-masing bernama Ibrahim, H Abdussamad, Zubadah, H. Umi Kalsum, H. Nor Muhammad, Muhammad Yunus, dan Zapura Zaitunah.

Kepiawaiannya di bidang seni baca Alquran dimulainya sejak kecil dengan bekal suara yang merdu yang dianugerahkan Allah kepadanya. Belajar seni baca Alquran ketika masih berada di Pondok Pesantren kemudian dikembangkannya ketika ia berada di Mekkah, Saudi Arabia. H.M. Yusuf belajar Alquran di bidang tajwid berguru dengan Habib Zainal Abidin, Perak, Malaysia, dan beberapa guru lainnya di Mekkah termasuk bidang fashahah, lagu, dan qira’at.

Ia sangat menguasai seni baca Alquran, lebih lagi pada spesifikasi keahliannya di bidang tajwid, fashāhah, dan qira’at. Keahliannya membaca Alquran diperkuat dengan kemampuan vokal dan suara yang memukau. Sulit mencari tandingannya ketika itu qari bersuara emas ini sering diundang untuk melantunkan ayat suci Alquran dalam berbagai acara dan kegiatan keagamaan maupun Haflah Tilawatil Qur’an, terutama di Kalimantan Selatan.

Baca juga:  Ulama Banjar (143): Ir. H. Ahmad Gazali

Menurut penuturan cucunya, Drs. Samdani M, Ag, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Antasari Banjarmasin, kakeknya itu pernah diundang ke Sumatera dan Sulawesi dan sempat melakukan rekaman piringan hitam, tapi sekarang sudah tidak ditemukan lagi.

Pengetahuan yang dimiliki H. Muhammad Yusuf ini disosialisasikan kepada masyarakat yang berminat mendalami seni baca Alquran. Ia ajarkan dirumahnya sendiri dan di beberapa tempat lainnya baik di Hulu Sungai Selatan maupun di daerah-daerah lainnya di Kalimantan Selatan. Pada waktu itu banyak sekali orang berguru kepadanya dan menjadi qari terkenal.

Nama H. Muhammad Yusuf sangat masyhur dan menjadi idola masyarakat Kalimantan Selatan pada masa hidupnya. Pemeritah Daerah Hulu Sungai Selatan dan Provinsi Kalimantan Selatan menaruh perhatian atas keahlian dan pengabdiannya itu, dan memandang perlu untuk memberikan penghargaan atas jasa-jasanya dalam mengembangkan seni baca Alquran.

Selain sebagai qari, H. Muhammad Yusuf juga aktif sebagai khatib Jum’at di beberapa masjid di daeahnya, antara lain di Masjid Ibrahim dan Masjid Jami’ Al-Thahiriyah. Juga sebagai muballigh dan mengisi Majelis Taklim di Nagara.

Qari kebanggaan Kalimantan Selatan itu kini telah tiada dipanggil menghadap Allah SWT (meninggal dunia) pada tahun 1961 dalam usia sekitar 57 tahun dan jenazah beliau dimakamkan di Nagara. Semoga Allah menempatkan arwahnya dalam limpahan rahmat dan maghfirah-Nya.

Baca juga:  ­Ulama Banjar (15): KH. Muhdar

Sumber Naskah: Tim Penulis LP2M UIN Antasari Banjarmasin dan MUI Provinsi Kalimantan Selatan.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top