Sedang Membaca
Sajian Khusus: Ngaji Qiraah Sab’ah

Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Redaksi
Penulis Kolom

Redaksi Alif.ID - Berkeislaman dalam Kebudayaan

Sajian Khusus: Ngaji Qiraah Sab’ah

1 A Alfayyadl

Dalam satu vidio di Youtube Prof. Dr Sayid Aqil Munawwar tampak menentang pembacaan ayat suci Al-Qur’an dengan langgam Jawa, waktu itu yang dilakukan Qari Yasir Arafat dari Jogja. Kira-kira, bekas menteri agama itu mengatakan bahwa Al-Qur’an tidak boleh dibaca sembarangan, ada aturannya, ada pakemnya, ada riwayatnya. Sayid Agil yang berbicara di depan para ulama Aceh tidak menyinggung secara khusus tentang Qiraah Sab’ah, namun ia menekankan sekali tentang “pakem”. Dan kurang lebih ia ingin menegaskankan bahwa langgam Jawa dalam bacaan Al-Qur’an tidak dibenarkan.

Sajian Khusus kali ini menyajikan tema “Qiraah Sab’ah”, bukan lagu atau nagham. Dua hal itu bisa kita bedakan dengan relatif mudah. “Qiraah Sab’ah” itu berdasarkan riwayat “tujuh imam” yang sudah terkenal dalam kajian ilmu Al-Quran. Sementara lagu itu disandarkan pada, sederhananya “kreasi” dan “kesepakatan” para qari yang jumlahnya bisa sangat banyak, dan tiap wilayah dapat punya lagu atau nagham tersendiri.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Sekali lagi, yang kami sajikan adalah Qiraah Sab’ah. Kenapa Qiraah Sab’ah?

Kami merasa bahwa tema ini penting sekali dikemukakan hari-hari ini di tengah girah masyarakat umum belajar Al-Quran. Bahkan, ada semacam dorong di masyarakat untuk menghafal Al-Qur’an. Kita menyaksikan bersama, para hafalan Al-Quran dilombakan di televisi, sesuatu yang tak terbayangkan 20 tahun lalu. Atau para orang tua tidak asing lagi saling bertanya hafalan Al-Qur’an anak-anak: “Sudah juz berapa Bu? Alhamdulillah anak saya yang kelas 4 SD sudah juz 11 dan adiknya yang masih TK sudah lancar juz Amma”

Baca juga:  Pembangkit Hidup Tenaga Matahari

Mengetahui Qiraah Sab’ah penting karena ada semangat belajar, tidak hanya berhenti pada pelafalan. Dengan ngaji Qiraah Sab’ah etos belajar sangat ditekankan, belajar dasar-dasar, belajar sanad, belajar sejarah, belajar perbandingan. Dan yang sangat penting lagi adalah belajar “berbeda”. Pendek kata, dengan ngaji Qiraah Sab’ah, kita tidak hanya belajar Al-Qur’an.

Untuk mengupas itu, Alif.ID mengundang M. Tholhah Alfayyad, seorang mahasiswa Universitas Al-Azhar. Sebelumnya ia belajar di Pesantren Madrasatul Quran Tebuireng Jombang, Pesantren Asy Syadzili IV Gondanglegi, Malang, Ponpes Lirboyo, Kediri, dan di Pesantren Murottil al Quran Kodran, Kediri.

Meski masih muda, lahir di Malang 15 AGustus 1996, ia mendalami tema ini. “Doakan buku tentang Qiraah Sab’ah segera terbit,” demikian Alfayyadl yang masih keturunan Kiai Muhammad Munawwir Krapyak, ulama yang masyhur dengan julukan “macan Al-Quran”. Alfayyadl mengambil sanad Al-Qur’an riwayat Hafsh dari Imam Ashim kepada Kiai Muhammad (Pengasuh Pesantren Asy-Syadzili IV), Kiai Maftuh Bastul Birri (Pengasuh Pesantren Murottil al Quran). Sementara itu, mengambil riwayat Syu’bah dari Imam Ashim kepada Syekh Nabil Muhammad, (Syaikhul Qurro’ Diyar al Mishriyyah). Qiro’ah Sab’ah al Masyhurah kepada Kiai Maftuh Bastul Birri (Pengasuh Murottil al Quran). Dan sekarang sedang menempuh Qiroah Asy’roh kepada Syekh Nabil Muhammad (Syaikhul Qurro’ Diyar al Mishriyyah).

Baca juga:  Kado Natal dari Lucy (Catatan Perjalanan dari Melbourne)

Edisi Qiraah Sab’ah juga dilengkapi esai Muhammad Autad An Nasher yang membahas salah satu literatur terkait. Autad, redaktur Alif.ID juga konsen pada ilmu-ilmu Al-Quran.

Secara khusus edisi ini disiapkan Hamzah Sahal, Rizal Mubit, dan Alif Nurul Fajri (ilustrator). Terima kasih kepada Tutik Nurul Jannah dan Kholili Kholil yang menyambungkan kami dengan Alfayyadl.

Akhirul kalam, semoga sajian ini berfaedah. Selamat menikmat..

Apa Reaksi Anda?
Bangga
4
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
2
Scroll To Top