Penulis Kolom

Redaksi Alif.ID - Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pentingnya Tawakal dalam Menuntut Ilmu

Pengasuh Pondok Pesantren Zain Al-Makki, Bogor, Jawa Barat, KH Ahmad Busyairi menjelaskan tentang pentingnya tawakal atau memasrahkan segala sesuatu kepada Allah dalam menuntut ilmu. Ia kemudian mengutip pendapat Imam Zarnuji dalam Kitab Ta’limul Muta’alim bahwa para penuntut ilmu itu wajib bertawakkal setelah melakukan jerih-payah dalam menuntut ilmu.

Kewajiban untuk bertawakal itu ditulis oleh Imam Zarnuji setelah pembahasan tentang keutamaan menuntut ilmu, keutamaan para ulama terdahulu, dan berbagai upaya yang harus dilakukan oleh para penuntut ilmu seperti melakukan perjalanan jauh serta menyeleksi guru pembimbing, memilih teman baik untuk bisa menambah energi dan semangat menuntut ilmu.

Kemudian, upaya yang harus dilakukan oleh para penuntut ilmu adalah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Bahkan, diharuskan pula untuk meninggalkan kampung halaman, berpisah dengan kerabat dan keluarga.

“Setelah semua itu, beliau kemudian melanjutkannya dengan pembahasan tentang tawakkal yakni berpasrah setelah ikhtiar, setelah segala upaya dan daya dikeluarkan untuk mencapai tujuan. Setelah itu barulah kita bertawakkal kepada Allah,” tutur Kiai Busyairi, dalam Pesantren Digital Majelis Telkomsel Taqwa (MTT), Senin (9/8/2021).

Sebagai gambaran, Kiai Busyairi menjelaskan tentang perjuangan Nabi Muhammad untuk mencapai cita-cita dan menggapai harapan dalam menegakkan kalimat Allah. Rasulullah banyak mengalami kepayahan dalam proses perjuangannya.

Baca juga:  Tema-tema "Bahtsul Masail" Munas Alim Ulama di Banjar

“Kadang berupa darah menetes dari lemparan batu orang-orang Thaif, gigi geraham beliau yang tanggal dalam peristiwa Perang Uhud, dan tidak kurang ada 17 usaha pembunuhan kepada Nabi Muhammad. Ada yang berupa makanan yang diracun oleh perempuan Yahudi pada peristiwa Khaibar dengan alasan ingin membuktikan Muhammad benar seorang nabi atau nabi palsu. Inilah perjuangan dan pengorbanan Nabi,” terang Kiai Busyairi.

Setelah semua jerih-payah itu dilakukan dengan berdarah-darah dan berpeluh keringat, barulah Nabi Muhammad memasrahkan segalanya kepada Allah. Sepulangnya dari Thaif, Rasulullah bermunajat dengan sebuah kepasrahan secara total lantaran dakwah yang tidak berhasil dilakukan, padahal segala upaya telah dikerahkan.

Ungkapan kepasrahan itu diungkapkan setelah melewati proses yang melelahkan karena harus menempuh perjalanan sekitar 120 kilometer ke Negeri Thaif untuk berdakwah dengan berjalan kaki. Dalam berdakwah yang hanya ditemani oleh seorang sahabat Zaid bin Haritsah itu, Nabi mendapat sambutan berupa batu-batu yang dilemparkan, sehingga kaki dan tubuh Nabi Muhammad penuh luka.

“Tidak ada satu pun yang menjawab dakwah Nabi Muhammad dan tidak ada satu orang pun mau masuk Islam. Akhirnya, Nabi pulang dengan kesedihan. Sampai-sampai kesedihan itu direspons oleh Jibril, datang mencegat Rasulullah dalam perjalanan pulang di Tsaniyatul Wada,” terang Kiai Busyairi.

Baca juga:  Nahdliyin Inggris Salurkan Zakat untuk Warga Difabel

Jibril datang dengan ditemani malaikat gunung. Kedatangan Jibril kali ini bukan untuk tujuan biasa menyampaikan wahyu, tetapi justru menawarkan fasilitas kepada Nabi Muhammad untuk menghancurkan orang-orang Thaif karena telah mendustakan dakwah Islam.

“Wahai Muhammad jika engkau berkehendak maka aku bisa timpakan dua gunung yang ada di Mekkah ke atas penduduk Thaif sehingga mereka mati semua,” kata Jibril kepada Nabi Muhammad, dibahasakan ulang oleh Kiai Busyairi.

Nabi menjawab seraya berpasrah, “Bukan itu yang aku harapkan. Karena justru yang aku harapkan akan lahir dari keturunan mereka orang-orang yang akan menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya. Kalau seandainya dengan usahaku semua ini, Engkau tidak murka Ya Rabb, maka aku tidak peduli dengan apa yang aku alami, yang aku rasakan seperti darah yang menetes, gigi yang tanggal, kening yang terluka, asalkan Engkau ridha aku tidak peduli dengan apa yang terjadi.”

Ditegaskan Kiai Busyairi bahwa yang dilakukan Nabi Muhammad itu merupakan bentuk kepasrahan total dan tawakal mutlak yang hanya diserahkan kepada Allah setelah melalui serangkaian kepayahan dalam berproses.

“Itulah makna tawakal, setelah berdarah-darah setelah berkorban, barulah memasrahkan semua usaha itu kepada Allah. Begitulah gambaran total bagi seorang penuntut ilmu,” pungkas Kiai Busyairi.

Baca juga:  1379 Santri dan 40 Desainer dari Berbagai Daerah di Indonesia Bersaing di Rangkaian Duta Santri Nasional 2021
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
2
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top