Sedang Membaca
Pemenang Lomba Menulis Ramadan Berkah (12): Guru Ama Jena dan Keteladanannya
Redaksi
Penulis Kolom

Redaksi Alif.ID - Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pemenang Lomba Menulis Ramadan Berkah (12): Guru Ama Jena dan Keteladanannya

Lomba Menulis Ramadan Berkah Umum

Adapun tulisan pemenang ketiga lomba menulis Ramadan Berkah kategori Umum adalah Julfakar. Jul adalah pegiat kajian keislaman dan kebudayaan asal Manggarai, Flores Barat, NTT.  Selamat ya, Jul. Berikut tulisannya. Selamat menyimak!

Penulisan sejarah Islam Nusantara masih jauh dari kata tuntas. Terutama pada daerah-daerah yang Muslimnya minoritas. Di Manggarai, Flores Barat, NTT misalnya, masih belum pernah dilakukan penelitian serius untuk menggali kearifan-kearifan yang ada dimasa lalu tersebut.

Padahal, NTT adalah provinsi dengan tingkat toleransi terbaik di negeri ini. Bagaimana umat Muslim di Manggarai ini mengamalkan ke-Islam-annya? Sehingga dapat hidup damai berdampingan dengan umat lain, hampir tak terungkap secara ilmiah.

Sejarah Islam di Manggarai ini perlu dipertimbangkan, begitu pula dengan daerah-daerah yang lain, yang memiliki nasib yang sama seperti Manggarai. Ini penting diselami, agar kita mampu memahami aneka macam suara kemajemukan di seantero negeri ini.

Semakin memperkaya peradaban Indonesia dengan suara-suara kemajemukan dari pelosok-pelosok negeri, dengan ekspresi yang berbeda-beda dan praktek keagamaan yang unik-unik, yang bisa jadi sangat bermanfaat bagi keberlangsungan keberagaman Indonesia.

Kesultanan Bima dan Guru Ama Jena

Saya mencoba menelusuri kisah hidup salah satu tokoh Muslim dalam sejarah masa lalu Islam Manggarai. Dari penelusuran itu, beliau diketahui hidup pada akhir abad ke-19 sampai akhir abad ke- 20 (sekitar 1883-1983). Kisah hidupnya menarik untuk kita dalami.

Guru Ama Jena, begitulah beliau sering disebut masyarakat setempat. Pemilik nama lengkap Abdurrahman Bin Sono ini wafat di Ronting pada sekitar 1983, ada juga yang menyebutnya pada 1982. Pada usia sekitar 90-an tahun, ada juga yang menyebutnya 100 tahun, bahkan hingga 110 tahun.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Guru Ama Jena hidup di akhir pengaruh Kesultanan Bima di Manggarai dan saat Belanda mulai menggantikan kekuasaan Kesultanan Bima tersebut. Lalu kemudian digantikan lagi oleh pemerintahan Indonesia yang baru saja berdiri.

Masa hidup Guru Ama Jena melewati dua masa transformasi (peralihan) kekuasaan yang cukup berpengaruh ini, yaitu; (1) Peralihan dari Kesultanan Bima ke Belanda, dan (2) Peralihan dari Belanda ke pemerintahan Indonesia. Inilah gambaran besar kehidupan Guru Ama Jena di Manggarai.

Sejarah Islam di Manggarai, erat hubungannya dengan Kesultanan Bima. Langkanya catatan yang membicarakan sejarah Kesultanan Bima di Manggarai, membuat pelajaran pada masa lalu sejak lama menguap begitu saja. Tak banyak yang dapat kita jadikan inspirasi dari masa lalu untuk membangun masa depan kita hari ini. Sungguh sebuah ironi bagi kita semua.

Baca juga:  Ketika Gus Dur Menulis Cak Nur, Pak Amien, Buya Syafi'i

Dengan “sok mampu”, dari kegelisahan akan hal tersebut diatas, saya mencoba mengumpulkan puzzlepuzzle sejarah tentang Islam di Manggarai ini. Mencari petunjuknya dibanyaknya literatur yang membicarakan tentang kesejarahan Kesultanan Bima dan kesejarahan Manggarai itu sendiri.

Kesulitan itu mengharuskan saya untuk lebih banyak lagi membaca catatan-catatan tentang keduanya tersebut, dan berdiskusi dengan banyak orang lagi. Menelusuri kisah hidup Guru Ama Jena mungkin dapat menjadi pintu masuk bagi penelusuran yang lebih jauh.

Sejak kapan persisnya Manggarai masuk wilayah kekuasaan Kesultanan Bima belum diketahui secara pasti. Sumber lokal Abdullah (1981/1982: 23-24) menyebutkan pada masa Pemerintahan Manggampo Donggo pada sekitar abad ke-14, sementara dari sumber VOC (Daghregister), pada tahun 1661 Manggarai dicatat sebagai wilayah kekuasaan Bima (Coolhaas 1942: 162).

Luas Kerajaan Bima sebagaimana tercantum dalam penjelasan kontrak antara Gubernur Celebes en Onderhoorigheden (Gubernur Sulawesi dan daerah sekitarnya) dengan Sultan Bima pada tahun 1886 di Pulau Flores Barat (Manggarai) seluas 84,5 mil persegi (Morris 1890: 176-177).

Wilayah Kerajaan Bima di Pulau Flores Barat atau Manggarai ini terdiri atas daerah Reo dan Pota, yang masing‑masing diperintahkan oleh seorang pejabat bergelar naib yang bertindak sebagai wakil raja atau sultan (Coolhaas 1942: 170). Para naib ini membawahi para galarang, para dalu, dan kepala – kepala kampung. Wakil resmi Kesultanan Bima tersebut berada di Reo dan Pota.

Guru Ama Jena hidup dibawah pengaruh Kesultanan Bima selama kurang lebih 25 tahun lamanya, jika dihitung sampai Belanda mulai menjalankan kekuasaan administratifnya di Manggarai pada 1908. Dan selama 46 tahun lamanya jika dihitung sampai pada resminya Kesultanan Bima meninggalkan Manggarai pada 1929.

Guru Ama Jena kecil dibesarkan di tempat yang menjadi pusat belajar Islam dan pendidikan Islam saat itu. Dengan konteks Manggarai, Kampo Ngaji yang terletak di Reo – Manggarai ini memainkan peran besar tersebut. Kenapa demikian?

Pengaruh Bima dan Islam dapat jelas terlihat dari penamaan tempat ini dengan Kampo Ngaji. “Kampo” adalah bahasa Bima dari kampung, sementara “Ngaji” juga bahasa Bima dari mengaji. Kata “Ngaji” kalau dalam tradisi pesantren merupakan bentuk kata kerja aktif dari kata “Kaji” dalam bahasa jawa. Sehingga “mengaji” bisa juga disinonimkan dengan kata “mengkaji”.

Baca juga:  Mari Mengenal Debat dalam Tradisi Islam

Kata “ngaji” memiliki makna dasar yang merujuk pada aktivitas membaca Al-Qur’an. Tetapi makna kata “ngaji” itu sendiri tak sebatas itu. Kata ngaji ini juga dapat merujuk pada aktivitas belajar tentang Al-Qur’an yang lebih dalam dari hanya sekedar membaca atau tentang Islam yang lebih dalam; seperti tasawuf (mistisisme).

Misalnya, masih dalam bahasa Bima dalam istilah “Ngaji Kampo”. Kata “Ngaji” dalam istilah “Ngaji Kampo” ini merujuk pada aktivitas mempelajari Islam yang lebih dalam. Ada juga misalnya para orang tua dulu menyebutnya dengan istilah lain, seperti; ngaji iu (ngaji rasa), ngaji eda (ngaji lihat), ngaji ruku (ngaji tingkah), ngaji rawi (ngaji laku), ngaji ringa (ngaji dengar), dan lain-lain.

Ngaji-ngaji ini merujuk pada aktivitas belajar tentang Islam yang lebih dalam, apa saja yang dirasakan, dilakukan, dilihat, didengar, dan seterusnya. Semuanya, apapun itu perlu di-ngaji-kan.

Dilihat dari pemaknaan diatas, Kampo Ngaji dapat dipahami sebagai sebuah perkampungan belajar, dimana aktivitas-aktivitas belajarnya banyak dilakukan masyarakatnya. Belajar yang dimaksud bukan hanya dipermukaan, tetapi turut menyelam dalam kedalaman lautan ilmu (Islam).

Kampo Ngaji di masa kekuasaan Kesultanan Bima memainkan peran penting dalam pengembangan pendidikan Islam di Manggarai. Ditempat ini, tak hanya belajar persoalan membaca Al-Qur’an yang baik dan benar, tetapi juga ikut mengembangkan belajar tentang mistisisme Islam atau yang kemudian lebih dikenal di masyarakat setempat dan sekitarnya dengan istilah “Ngaji Kampo”.

Kisah Keteladanan Guru Ama Jena

Dari hasil belajarnya di Kampo Ngaji, Guru Ama Jena dewasa (pada masa tuanya) memiliki cerita-cerita yang menggambarkan kesalehan kepribadiannya. Misalnya; kisah beliau tentang sikapnya terhadap sesama. Guru Ama Jena ketika mendapati ada pencuri yang mengambil hasil taninya di kebunnya, beliau tak menegurnya. Malah sebaliknya, beliau membiarkan si pencuri mengambil sesukanya, lalu ia bersembunyi dibalik pepohonan atau rerumputan atau beliau pulang ke rumahnya tak ingin mengganggu si pencuri.

Jika ditanya pada beliau apa yang menyebabkan beliau seperti demikian, Guru Ama Jena menjawabnya “kombi wunga hido na, ain hako, maja sia pea, ede ntau Ruma mena, lain ntau ndai”. Artinya, yang mencuri (mungkin) sedang lapar, jangan ganggu, saya tak ingin membuat ia merasa malu, itu semua milik Tuhan, bukan milik kita.

Baca juga:  Nasruddin Hoja dan Seekor Kucing

Tentu sikap yang ditunjukkan Guru Ama Jena dalam kisahnya diatas bukan respon tiba-tiba, atau sikap yang hadir begitu saja. Itu menggambarkan kualitas pengetahuannya yang dalam, yang diejawantahkan beliau dalam sikapnya yang nampak diluar. Apa yang nampak diluar (sebagai sebuah tindakan atau sikap), tak lain adalah gambaran apa yang tersembunyi didalam diri seseorang (sebagai sebuah pikiran atau pengetahuannya).

Jika yang nampak diluar adalah sikap penuh kelembutan dan kasih sayang, itu karena yang bersemayam dalam pikiran dan hati orang tersebut dipenuhi dengan pengetahuan tentang kelembutan dan kasih sayang. Begitupun sebaliknya, jika yang nampak diluar adalah sikap yang penuh kekasaran dan kebencian, juga menggambarkan bahwa didalam pikiran dan hati orang tersebut bersemayam monster kekasaran dan kebencian.

Selain itu, dalam kisahnya yang lain, Guru Ama Jena ketika menemukan batu yang menghalangi jalan, beliau mengambilnya dan menempatkannya ditempat yang kira-kira tak dapat menghalangi pejalan lagi. Cara menempatkan batu tersebut ialah; Beliau mengambilnya dan tak meletakkan begitu saja (yang penting diluar jalan) atau melemparnya jauh.

Guru Ama Jena meletakkan batu tersebut ditempat dimana pepohonan atau rerumputan tak tumbuh. Beliau sama sekali bukan saja tak ingin batu tersebut menghalangi pejalan (manusia), tetapi juga tak ingin menghalangi tumbuhan atau mengganggu tumbuh- kembang rerumputan atau pepohonan disekitar itu. Dicarilah olehnya sela-sela diantara rerumputan atau pepohonan untuk meletakkan batu tersebut.

Dalam kisah Guru Ama Jena yang kedua ini, secara implisit beliau ingin menjelaskan kepada kita semua, bahwa tak hanya kepada sesama manusia kita bersikap lemah lembut dan penuh kasih sayang, tetapi juga mestinya pada makhluk hidup lainnya.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Kedua sikap Guru Ama Jena pada dua kisah yang berbeda diatas ingin menyampaikan kepada kita untuk berlemah lembut dan berkasih sayang kepada seluruh makhluk. Guru Ama Jena berhasil menembus batas kemanusiaan hingga menerobos masuk sampai pada kemakhlukkan.

Manusia dengan segala perbedaan yang dimilikinya tetap saudara dalam kemanusiaan, pun juga dengan seluruh makhluk hidup, tetap saudara dalam genus kemakhlukannya atau yang paling jauh semuanya saudara sebagai ciptaan Tuhan semua. Tak heran jika sebagian manusia memperlakukan semua makhluk sebagaimana ia memperlakukan dirinya sendiri.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top