Sedang Membaca
Mencari Esais Muda Pesantren (1): Tekad Alif.ID Cetak Penulis Muda Santri Ma’had Aly
Penulis Kolom

Redaksi Alif.ID - Berkeislaman dalam Kebudayaan

Mencari Esais Muda Pesantren (1): Tekad Alif.ID Cetak Penulis Muda Santri Ma’had Aly

Whatsapp Image 2021 11 09 At 21.28.26

Sejak Alif.ID dirancang pada akhir tahun 2016, lalu diluncurkan pada Agustus 2017, keberadaan santri Ma’had Aly muncul sebagai segmen yang “digarisbawahi”. Santri Ma’had Aly bukan segmen pembaca pada umumnya. Sebab, mereka adalah pelajar atau santri yang memiliki tradisi literasi keagamaan yang kuat. Mereka menjadi standar kami untuk membuat konten-konten berkualitas.

“Jika konten Alif.ID memenuhi standar kualitas Ma’had Aly, maka kami tidak akan melakukan kesalahan mendasar. Berbeda pandangan tentu saja bisa terjadi (dan itu menjadi suatu hal yang lumrah), tapi tidak boleh ada kesalahan argumen atau kelemahan dalam berdalil,” begitu kira-kira logika kami dalam menjadikan Ma’had Aly sebagai standar. Yang kami pakai adalah logikanya, pijakannya, bukan semata-mata materinya.

Lebih dari itu, kami punya angan-angan, Ma’had Aly bisa menjadi patner dalam berdiskusi dan memproduksi konten-konten keislaman yang lebih dari biasanya. Umumnya, website keislaman memproduksi konten tentang “apa hukum puasa Tasu’a dan Asyura?”—lebih ke fikihnya—, maka Alif menyajikan asal-usul atau sejarah puasa sunnah tersebut. Konten keislaman yang biasa menyajikan tulisan apa itu hukum main musik, maka Alif lebih dari itu, dengan menyajikan literatur yang komprehensif, Alif mengkreasi tulisan dari pertanyaan yang masih tanda tanya—sekedar contoh:

Kenapa ada ulama yang mengharamkan musik? Kenapa ada ulama yang membolehkan musik? Jika kebanyakan masyarakat umum mengenal Imam Malik bin Anas atau Imam Asy-Syafi’i sebagai imam mujtahid dalam bidang ushul fikih dan fikih, maka kami mengenalkan beliau-beliau sebagai pakar Bahasa, sebagai penyair, sebagai orang yang memiliki basis sosial di mana keduanya berpijak. Siapa kelompok “santri/kaum muda” yang mampu menulis hal-hal lain yang bersifat filosofis, historis, dan human interest dalam bidang keislaman?

Baca juga:  Sajian Khusus: Islam Banjar dan Politik

Jawaban kami, antara lain adalah santri Ma’had Aly. Mengapa santri Ma’had Aly?

Karena adalah “kita”. Karena Ma’had Aly adalah santri yang diberi kesempatan dan keistimewaan untuk belajar agama di atas rata-rata: mereka berguru langsung pada ulama terpilih, membaca literatur luas, memiliki tradisi akademik, dan dibekali visi keagamaan yang kuat. Dari sini, kami mengimajinasikan santri Ma’had Aly bukan saja menjadi standar kualitas konten atau menjadi pembaca, tapi juga bersama-sama menghasilkan karya keagamaan yang bisa dinikmati masyarakat luas.

Ke depan, santri Ma’had Aly menjadi komunitas dan jaringan intelektual, baik Alif terlibat langsung ataupun tidak. Langkah menjadi komunitas ini mulai dirintis dengan aktif berkomunikasi secara virtual (Facebook, WA, Twitter, IG, dll) dan memuat karya mereka.

Tahun 2021: Merayakan Kembali Hari Santri dengan Menulis

Melihat antusiasme para santri yang terlibat dalam program mencari Esais Muda tahun 2020 kemarin yang sangat membludak, kami patut berbangga. Selain peserta yang terlibat sangat banyak, hingga ratusan, di sisi lain berbagai pihak mengapresiasi adanya program tersebut. Menarik dan kreatif. Tradisi tulis menulis di kalangan para santri memang patut dilestarikan, jangan sampai padam. Hal ihwal inilah yang menjadikan kami, para redaksi Alif.id, terus bersemangat untuk memoles para penulis di kalangan santri Ma’had Aly.

Baca juga:  Mencari Esais Muda Pesantren (3): Sekapur Sirih tentang Karya Santri Ma’had Aly 2020

Sebagaimana diketahui, Santri Ma’had Aly bukanlah segmen pembaca pada umumnya. Sebab, mereka adalah pelajar atau santri yang memiliki tradisi literasi keagamaan yang kuat. Mereka menjadi standar kami untuk membuat konten-konten berkualitas. Terutama dalam hal tradisi turats-nya.

Hal tersebut bisa dilihat dari 25 esai yang telah dihasilkan oleh para peserta Esais Muda tahun 2020. Pembacaan kitab kuningnya yang matang telah diakui oleh para pembimbing. Namun yang perlu diasah lagi adalah analisis (critical thingking) dan penguasaan literatur asing berbahasa Inggris. Diakui, untuk kedua hal tersebut, butuh pendampingan dan proses yang tidak sebentar.

3 buku yang saat ini menunggu untuk dilaunching, dengan hadirnya program ini—yang semoga menjadi agenda tahunan—akan menjadikan kompetisi dan semangat dari para santri kian tumbuh. Selain mencetak para penulis, harapan kami dalam program ini, mereka akan mengeluarkan argumen dan gagasan ‘nakal’ di setiap diskusi dan karya tulis yang dihasilkan. Sehingga tulisan yang diterbitkan, syukur-syukur bisa menjadi sumbangsih dan cara pandang baru dalam dunia keislaman.

Mengingat Ma’had Aly adalah santri yang diberi kesempatan dan keistimewaan untuk belajar agama di atas rata-rata: mereka berguru langsung pada ulama terpilih, membaca literatur luas, memiliki tradisi akademik, dan dibekali visi keagamaan yang kuat. Dari sini, kami mengimajinasikan santri Ma’had Aly bukan saja menjadi strandar kualitas konten atau menjadi pembaca, tapi juga bersama-sama menghasilkan karya keagamaan yang bisa dinikmati masyarakat luas.

Baca juga:  Sajian Khusus: Jejak Tasawuf

Kami berharap, program ini efektif dalam memberikan ruang pada mereka, punya atsar yang jelas, dan daya guna ke masyarakat lebih kuat.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top