Sedang Membaca
Ulama Banjar (12): KH. Abdul Qadir Hasan
Redaksi
Penulis Kolom

Redaksi Alif.ID - Berkeislaman dalam Kebudayaan

Ulama Banjar (12): KH. Abdul Qadir Hasan

Kh. Abdul Qodir Hasan Png

(L.1891 – W. 1978)

KH. Abdul Qadir Hasan dilahirkan di desa Tunggul Irang sekitar tahun 1891, ayah beliau adalah Hasan Ahmad. KH. Abdul Qadir Hasan terkenal dengan panggilan “Guru Tuha” beliau belajar agama di Pesantren Tebu Ireng Jombang pimpinan Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari dan pondok pesantren Salafiyah Bangkalan Madura pimpinan Kyai Kholil.

Beliau juga belajar agama di Madrasah Salatiah, Mekkah, Arab Saudi. Di kampung halamannya beliau belajar agama dengan Tuan Guru Abdurrahman (Guru Adu) dan Tuan Guru Kasyful Anwar, Mu’assis Pesantren Darussalam Martapura.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Disamping pernah belajar agama di beberapa tempat, KH. Abdul Qadir Hasan juga mempunyai pengalaman di bidang pendidikan dan politik. Di bidang pendidikan beliau pernah menjadi tangan kanan KH. Kasyful Anwar dalam mengelola Pondok Pesantren Darussalam Martapura (1922-1940) dan menjadi pimpinan umum periode ke-4 pondok pesantren tersebut menggantikan KH. Kasyful Anwar yakni tahun 1940-1959.

Di masa kepemimpinan beliau, pendidikan di Pondok Pesantren Darussalam Matapura menggunakan sistem tingkat, yaitu tingkat “tahdiri” (tiga tahun), tingkat ibtidaiyah (3 tahun), dan tingkat tsanawiyah (3 tahun).

Di bidang politik beliau ikut mendukung gerakan gerilya Kalimantan pimpinan Hasan Basri. Meskipun beliau tidak secara langsung bergerilya secara fisik, sebagai sesepuh beliau menggerakkan dan menganjurkan kepada masyarakat Banjar khususnya para santri Darussalam agar ikut ambil bagian dalam bergerilya melawan orang-orang kafir (penjajah Belanda). Pada tahun 1950-an beliau bersama Tuan Guru Zainal Ilmi turut aktif dalam pemulihan keamanan di desa Dalam Pagar Martapura. Beliau pernah juga menjabat anggota DPRD Tingkat I Kalimantan Selatan dari unsur NU (1960-1970). Di NU sendiri beliau pernah duduk sebagai a’wan Syuriah NU Kalimantan (1952), anggota Syuriah PWNU Kalimantan Selatan dimasa kepemimpinan Ridwan Sjahrani tahun 1953, dan anggota syuriah Pengurus Besar NU. Beliau adalah orang yang pertama kali mendirikan NU di Kalimantan, yakni Jam’iyyah Nahdhatul Ulama di Martapura pada tahun 1928.

Baca juga:  Ulama Banjar (122): Prof. H. Basran Noor

Sumber Naskah: Tim Penulis LP2M UIN Antasari Banjarmasin dan MUI Provinsi Kalimantan Selatan.

Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
1
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top