Sedang Membaca
Humor Gus Dur: Kiai yang Tak Mampu Bayar Eternit
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Humor Gus Dur: Kiai yang Tak Mampu Bayar Eternit

Redaksi
​Kiai As'ad Ingin Terkenal 1

Gus Dur sebagai seorang cendekiawan sekaligus pekerja sosial yang aktif dalam wacana “pembangunanisme” (developmentalism) di masa Orba, tentu sangat paham mengenai permasalahan eksistensial modernisasi yang sedang berlangsung di negeri ini.

Sebagai orang yang lahir, tumbuh dan dibesarkan dalam komunitas tradisional, tentu saja beliau menjadi bagian paling depan dari apa yang disebut target transformasi yang dilancarkan oleh pemerintah. Komunitas Islam, Pesantren dan NU, tentu dianggap (mula-mula) sebagai agama dan institusi-institusi yang berada di garda depan dalam menolak transformasi tersebut dan menjadi benteng bagi kekolotan dan konservatisme.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Dengan konteks seperti ini, bisa dipahami bila kiprah Gus Dur dan pemikirannya selalu bergulat dengan problematika modernitas dan proses modernisasi serta eksistensi “life world”, meminjam istilah Juergen Habermas, bernama dunia pesantren dan NU! Tak pelak jika literatur-literatur kritis dari kelompok kritis Frankfurt School dan intelektual lain seperti Paolo Freire, Albert Camus menjadi rujukan dalam menjawab tantangan tersebut. Bersama-sama para aktivis seperti Romo Mangun, Ibu Gedong, mas Johan Efendi, Cak Nur, Dawam Rahardjo, untuk menyebut beberapa nama, Al-Maghfurlah sangat inten melakoni wacana dan praksis modernisasi. Hasilnya sangat spektakuler: bukan saja NU menampilkan diri sebagai institusi tradisional yang tetap memiliki relevansi dalam proses modernisasi, tetapi juga tampil sebagai salah satu leading sectors dalam perubahan.

Baca juga:  Lagi dan Lagi, Abu Nawas Mengkritik Orang Kikir

Program Keluarga Berencana (KB), misalnya, tak mungkin akan sukses dan membuat Indonesia menjadi contoh keberhasilan dunia, tanpa dukungan NU dan para ulamanya. Di sektor politik, kreatifitas para Kyailah yang menemukan kompromi antara azas tunggal Pancasila dan akidah Islam sehingga dapat dihindarkan konflik ideologis yang pasti berdampak sangat sistemik. Di sektor ekonomi, NU dan lembaga-lembaga sosial ekonominya (mabarrod) aktif dalam melakukan berbagai kegiatan advokasi dan pemberdayaan masyarakat, termasuk yang dirintis Mbah Kyai Sahal Mahfudz melalui LSM-LSM yang beliau dirikan.

Bahkan NU melalui organisasi perempuannya seperti Muslimat, Fatayat dan IPPNU termasuk paling awal dalam perjuangan persamaan gender di negeri ini. Walhasil, NU berhasil menjawab tantangan modernitas dan modernisasi tanpa harus kehilangan “identitas” atau jati diri, apalagi keterasingan diri dari lingkungannya. Kekhawatiran Horkheimer dkk dapat ditepis melalui interpretasi ulang yang kreatif oleh Gus Dur dan Kyai-kyai NU terhadap khazanah yang dimiliki NU. Misalnya, untuk mengompromikan masuknya keharusan perubahan dan tradisi, Gus Dur selalu mengulang kaidah “Al Muhafadzatu ‘alal Qodiimis Shalih, wal Akhdzu bil Jadiidil Ashlah,” (mempertahankan yang lama yang masih baik dan mengambil yang baru yang lebih baik lagi).

Dari kaidah ini, modernitas dan modernisasi kemudian dilihat sebagai sesuatu yang baru yang harus dikaji dan dipertimbangkan, apakah ia memiliki nilai tambah (added values) atau tidak. Dengan metode ini fleksibilitas dan kelenturan NU dapat mengawal perubahan dengan meminimalisasi ekses negatif.

Baca juga:  Nasruddin Hoja: Aku Ulama Sakti

Tapi Gus Dur juga mengingatkan bahwa sering kali saking ingin berubah cepat, maka orang-orang di dalam NU suka salah paham sehingga membuat orang lain bingung. Contohnya, kata Gus Dur, suatu hari beliau didatangi tamu dari salah satu kecamatan di bagian timur Jawa Timur. Sang tamu, konon, adalah Rois Syuriah MWC NU yang ingin lapor kemajuan NU di kecamatannya:

“Alhamdulillah Gus, sekarang MWC NU di tempat saya sudah punya kantor sendiri.” Kata sang tamu.

“Wah, Alhamdulillah, Yai..” Sambut Gus Dur dengan gembira.

“Tapi ini masih ada masalah, Gus.” Kata Pak kyai dengan logat Madura Pedalungan yang kental.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

“Lho, masih ada soal apa lagi, Yai?” Tanya Gus Dur.

“Ya itu soal pembayaran eternitnya. Mahal Gus. Kalau Kantor cuma nyewa sejuta setahun, lha ini eternitnya sampai seratus ribu sebulan.” Kata sang tamu.

“Kok bisa ya Kyai. Eternit kan termasuk rumah, masak pakai mbayar sendiri.” Kata Gus Dur bingung.

“Itu lho Gus, yang dipakai cari informasi di komputer itu, kan eternit yang sewanya mahal..” Kata Pak Kyai.

“Ooo, Masya Allah, maksud panjenengan Internet toh…” Kata Gus Dur sambil ngakak.

Jadi karena saking cepetnya ingin berubah dan maju, kadang-kadang orang NU juga suka membuat kesalahan yang aneh-aneh. Sehingga hal-hal yang begini membuat orang menjadi kurang respek karena seolah-olah orang NU kurang memahami permasalahan. Padahal semangat perubahan itu memang sudah ada dan malah ingin cepat, tetapi karena kurang perhatian masalah detil jadinya malah salah paham.

Baca juga:  Ketika Gus Dur Meriwayatkan Sebuah Kuburan

Gus Dur mengajarkan pada saya bahwa modernitas dan perubahan adalah suatu hal yang pasti di dunia, sehingga menolak perubahan adalah sama dengan menolak Sunnatullah. tetapi bagaimana mengembangkan strategi mengelola perubahan itulah kunci bagi keberhasilan kita. Modernitas dan modernisasi tak perlu dikutuk seperti yang dilakukan oleh Adorno dkk, yang perlu adalah dikelola dan dijawab sebagaimana mestinya. (RM)

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

 

(Sumber: Buku Gus Durku Gus Dur Anda Gus Dur Kita, Penulis Muhammad AS Hikam, Penerbit Yrama Widya, 2013)

Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top