Sedang Membaca
Begini Respon GUSDURian terhadap Pelengseran Gus Dur
Redaksi
Penulis Kolom

Redaksi Alif.ID - Berkeislaman dalam Kebudayaan

Begini Respon GUSDURian terhadap Pelengseran Gus Dur

Virdika Rizki Utama penulis buku Menjerat Gus Dur menjadi salah satu narasumber pada acara Festival GUSDURian, Ziarah Pemikiran Gus Dur: Pelengseran Gus Dur sebagai diskusi utama pada acara yang diselenggarakan secara virtual melalui media zoom dan live streaming di laman fanpage KH. Abdurrahman Wahid (12/12/2020).

Penulis yang juga berprofesi sebagai jurnalis itu pun menceritakan awal mula dirinya menulis buku tersebut yaitu ketika ia meliput di salah satu gedung partai politik Jakarta tepat pada bulan Oktober 2017 lalu. Ia menemukan sebuah tumpukan dokumen yang dibuang sengaja oleh petugas kebersihan, karena merasa penasaran dengan dokumen tersebut tanpa berpikir panjang ia bertanya dan meminta izin untuk membawa dokumen itu pulang yang kemudian ia jadikan bahan riset.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

“Saya melakukan riset itu kurang lebih satu tahun sepanjang tahun 2018, dan dari situ saya mulai merasakan adanya ancaman. 2019 saya mulai melakukan wawancara sebagaimana seorang jurnalis pada umumnya sebagai bentuk konfirmasi. Dan setelah buku terbit ancaman berubah menjadi sesuatu yang cukup menggiurkan.” tuturnya.

Virdika juga menerangkan bahwa ada beberapa pihak yang meyodorkan sebuah amplop yang berisikan sejumlah uang tunai ketika buku itu rampung ia tulis. Namun, semua itu ia tolak dengan alasan karena mempunyai tugas moral, sosial, dan intelektual yang melatarbelakanginya selaku lulusan pendidikan sejarah.

Baca juga:  Anugerah Kebudayaan 2019 bagi 59 Penerima: dari Djudjuk Srimulat hingga Purwa Tjaraka

“Gus Dur menurut saya ingin menjalankan cita-cita reformasi, mendorong sejauh mungkin proses demokratisasi yang salah satunya adalah memberantas korupsi, dan supremasi sipil di mana TNI harus kembali ke barak.” Tambah Virdi.

Penulis buku Menjerat Gus Dur itu juga menegaskan meskipun Gus Dur hanya menjabat selama 20 bulan, namun, nilai pencapaiannya sampai sekarang tidak tertandingi, dan semua ini merupakan warisan yang berharga bagi kita.

“Bahwa sangat penting mewariskan ingatan, karena berbicara sejarah sama halnya berbicara tentang pewarisan ingatan.” terang Virdi.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Dalam diskusi pagi tadi Virdi juga mengusulkan sebuah pemikiran cerdas tentang pentingnya meluruskan narasi-narasi sejarah terkait pelengseran Gus Dur yang selama ini kita temukan di bangku SD,SMP, hingga SMA. Untuk kemudian dimasukkan pada kurikulum nasional, atau minimal data-data yang ia masukkan bisa masuk dalam Lembaga pedidikan NU (Nahdlatul Ulama).

Dimenit-menit terakhir forum yang berlangsung selama kurang lebih dua jam itu Virdi juga mengungkapkan dengan memberikan pesan kepada anak-anak muda dalam, meneliti dan meriset sejarah tidak perlu takut terhadap stigma-stigma yang dimunculkan oleh orang kepada kita karena menurutnya, “Ketika sejarah formal membentuk suatu peristiwa menjadi tanda titik, maka tugas generasi kita adalah mengubah itu menjadi tanda koma.” Ungkapnya tegas.

Baca juga:  Geliat Ekonomi pada "New Normal" Agar Ciptakan Kesempatan Kerja

Pewarta : Syifa Arrahmah

Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top