Sedang Membaca
Abah Rosyid, Penganjur Toleransi dari Maumere
Redaksi
Penulis Kolom

Redaksi Alif.ID - Berkeislaman dalam Kebudayaan

Abah Rosyid, Penganjur Toleransi dari Maumere

Ia adalah Abdul Rosyid Wahab, penerima MAARIF Award 2018. Ia adalah penganjur toleransi dari Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Dewan juri memilih Rosyid di antara lebih dari 30  nama yang diajukan oleh publik, setelah investigasi mendalam mengenainya. “Keputusan juri yang hanya memilih satu nama yakni Abah Rosyid tentu melalui pertimbangan yang sangat matang dan sangat ketat,” demikian disampaikan oleh Rahmawati Husein mewakili dewan juri.

Abdul Rosyid Wahab dikenal sebagai sosok pelintas batas primordial dan promotor toleransi antar umat beragama di Maumere, Sikka, NTT. Jejaknya merentang dari pencegahan konflik SARA, pendampingan bencana alam Rokatenda, hingga mempelopori lembaga pendidikan Muhammadiyah di Maumere, yang 80 % pelajarnya adalah Katolik dan Kristen. “Pluralisme Abah Rosyid adalah pluralism in action,” terang Sudhamek AWS, anggota dewan juri juga.

Malam Penganugeran MAARIF Award 2018 ini dihelat pada hari Minggu, 27 Mei 2018, di Grand Studio Metro TV. Hadir pada kesempatan tersebut beberapa tokoh nasional seperti Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, Menkominfo Rudiantara, Mendikbud Muhadjir Effendy, dan para juri yang meliputi Sudhamek AWS, Clara Joewono, Arif Zulkifli, Rahmawati Husein, dan Masril Koto. Hadir juga Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Dr Abdul Mu’ti, M.Ed. yang menyampaikan orasi kebudayaan.

Baca juga:  Wayang, Medium Komunikasi dan Dakwah Lintas Kelas

MAARIF Award 2018 yang memunculkan nama Abah Rosyid ini bagai angin sejuk setelah peristiwa bom bunuh diri di beberapa gereja di Surabaya beberapa waktu lalu,  tragedi yang sungguh mengoyak ikatan kemanusiaan kita. Di tengah upaya merajut solidaritas anak bangsa dalam kemajemukan, kita mesti menghadapi peristiwa keji para penghayat “teologi maut” itu, tindakan intoleran yang telah mencoreng bangunan kebangsaan kita.

Tahun politik

Tahun 2018 sering disebut juga sebagai “tahun politik”. Hajatan besar pemilihan umum kepala daerah di sejumlah daerah kunci akan dihelat pada tahun ini. Tak hanya sekedar Pilkada, sebab perhelatan itu juga menjadi pertaruhan untuk agenda 2019 (pemilu legislatif dan pilpres).

Pada momen ini, rakyat akan disuguhi berbagai akrobat dan intrik politik. Pelibatan SARA dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 yang lalu, telah mengoyak rajutan kebinekaan, dan dikhawatirkan akan dijadikan pola dalam perhelatan politik tahun ini. Tentu fenomena ini merupakan sebuah kemunduran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, apalagi semua itu telah menciptakan adanya intimidasi, persekusi, diskriminasi dan laku intoleransi yang dilakukan terhadap sesama warga negara.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

“Tahun 2018 sebagai tahun politik sepatutnya dapat dijadikan momentum memerkuat persaudaraan kebangsaan, dengan melahirkan para pemimpin yang mampu merajut harmoni antar sesama anak bangsa tanpa tersekat batas-batas primordialitas, terlebih baru saja kita dihadapkan pada peristiwa teror yang mengoyak rasa kemanusiaan kita”, tegas Muhammad Abdullah Darraz, Direktur Eksekutif MAARIF Institute dalam siaran pers.

Baca juga:  PCINU Jepang Rayakan Maulid Nabi Serentak di Tiga Kota

Maarif Award: sebuah apresiasi

Maka itu, hadirnya MAARIF Award menjadi penting. Ajang pemberian penghargaa yang diprakarsai oleh MAARIF Institute sejak 2007 itu hadir untuk mengapresiasi dan memberi pengakuan terhadap model kepemimpinan lokal yang kreatif dan autentik. Mereka yang terpilih adalah sosok-sosok, baik individu maupun lembaga yang diakui telah berhasil melakukan perubahan sosial di masyarakat dan komunitasnya dengan menghidupkan harapan dan optimisme melalui kerja-kerja dan komitmen tinggi pada nilai-nilai toleransi, kebinekaan, dan keadilan sosial.

“Ibarat oase yang menyuntikan harapan baru (new hope) dan menumbuhkan model-model alternatif (role models), para pemimpin ini diharapkan dapat melakukan penguatan dan pemberdayaan masyarakat sipil dalam upaya pencegahan kekerasan sektarian dan sekaligus mampu menjembatani hubungan antar-agama di kalangan masyarakat akar rumput. Mereka merupakan pejuang kemanusiaan dan penggerak proses perubahan sosial di tingkat akar rumput dengan komitmen tinggi terhadap toleransi, pluralisme, moderasi, dan keadilan social,” lanjut Darraz.

 

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top