Al-Intishar wat Tarjih: Kristologi Jawa-Pegon Karangan Muhammad Humaidi Shalih al-Jawi (1930)

Ahmad Ginanjar Sya'ban

Kitab ini berjudul al-Intishar wa al-Tarjih lid Dinis Shahih war Radd ‘ala Mudda’i Atba’il Masih (Kemenangan dan Penguatan Argumen atas Agama yang Benar dan Menolak Para Pengaku Pengikut al-Masih) karangan seorang ulama Al-Azhar Kairo asal Semarang (Jawa Tengah), Syaikh Muhammad Humaidi Shalih al-Jawi.

 

Kitab ini berisi kajian kritis atas agama Kristen (Kristologi) dan ditulis dalam bahasa Jawa aksara Arab (Pegon) yang diselesaikan penulisannya di Kairo pada 1348 H (1930 M) lalu dicetak di kota yang sama pada 1350 H (1932 M) oleh Mathba’ah Dar Ihya al-Kutub al-‘Arabiyyah.

 

Dalam sampul kitab, tertulis teks demikian:

الانتصار والترجيح/ للدين الصحيح والرد على مدعي أتباع المسيح/ تأليف خادم السنة ومن علماء الأزهر الشريف بمصر/ العبد الفقير صاحب العجز والتقصير/ الحاج محمد حميدي صالح/ تغكيري صلاتكا سمارغ جاوه – غفر الله له ولوالديه وللمسلمين/ الجزء الأول باللغة الجاوية المريكية

 

Kitab al-Intishar wa al-Tarjih lid Dinis Shahih war Radd ‘ala Mudda’i Atba’il Masih karangan seorang pelayan sunnah dan salah satu ulama al-Azhar al-Syarif di Mesir, seorang hamba yang fakir dan pemilik kelemahan serta kekurangan, Haji Muhammad Humaidi Soleh Tingkir Salatiga Semarang Jawa–semoga Allah mengampuninya, kedua orang tuanya, dan semua orang Muslim. Juz pertama dalam bahasa Jawa Mriki.

 

Dalam kitab ini, pengarang mengetengahkan sejarah perkembangan agama Kristen, lahirnya doktrin trinitas, serta pandangan ketuhanan dan kenabian pada sosok Nabi Isa AS. menurut keyakinan Kristiani. Pengarang juga mengemukakan argumen-argumen yang dibangunnya untuk mengkritisi ajaran agama tersebut secara ilmiah.

Baca juga:  Inilah Kitab “Sejarah Besar Nahdlatul Ulama” Karangan Kiai Abdul Halim

 

Dalam bentangan sejarah literatur Islam yang ditulis oleh ulama Nusantara sebelum pertengahan abad ke-20, tidak banyak kitab yang berisi kajian perbandingan agama (muqaranatul adyan). Kitab al-Intishar wat Tarjih karangan Syaikh Muhammad Humaidi Soleh ini adalah salah satu dari yang sedikit itu.

 

Kitab ini juga mendapatkan kalimat sambutan (taqrizh) dari beberapa ulama Nusantara yang mengajar di Al-Azhar Mesir kala itu, juga dari ulama-ulama Arab di Al-Azhar lainnya, seperti Syaikh Yahya Zakariyya as-Syafi’i yang diidentifikasi sebagai “ulama Al-Azhar dan kepala Ruwaq Jawi (Pemondokan Nusantara) di Al-Azhar, juga Syaikh Muhammad Ta’ib ‘Abd al-Mu’in as-Syirbuni (dari Cirebon), Syaikh ‘Abdul Qahhar Mudzakkir dari Yogyakarta yang diidentifikasi sebagai al-‘alim al-khabir min ahl Jukjakarta al-Indunisi bi Dar al-‘Ulum al-‘Ulya bi Mishr (seorang cendikiawan besar dari Yogyakarta Indonesia di Fakultas Dar al-‘Ulum, Universitas King Fuad [kini Universitas Kairo] Mesir), juga dari Syaikh Muhammad Farid Ma’ruf Yogyakarya dari Departemen Pembinaan dan Dakwah al-Azhar.

 

Taqrizh Syaikh Abdul Qahhar Mudzakkir itu berbunyi demikian:

نقريظ آخر لأخينا النحرير الزكي الشهير الزعيم الكبير الشيخ عبد القهار مذكر حفظه العالم الخبير من أهل جوكجاكرتا بالإندويسي بدار العلوم العليا بمصر وكتبه باللغة الجاوية المريكية بقوله:

بسم الله الرحمن الرحيم

سالرسيفون كتا فرا مسلمين اندونيسيا فونفا ماليه مسلمين اغ تانه جاوى ساغت حاجتفون دانغ وواهوسان كتاب2 اغكغ امائداهي توين انمبيهي كاوروه كيتا. كتاب2 ببكن أكامي إسلام. تسكيه سكديك ساغت اغكغ ديفون ودالكن ماوى تمبوغ كيتا. وواهوسان اغكغ سانيس2 اوكي تكسيه ديريغ انيكافي. مناوي كيت مندغ دانغ تانه ووته راو كيت سدايا يقين

Baca juga:  Sabilus Salikin (70): Tata Cara Baiat Tarekat Qadiriyah

 

Selain nama-nama di atas, pengarang juga menyebut beberapa nama cendikiawan Nusantara lainnya yang berkarier di Al-Azhar Kairo pada masa itu yang memberikan sambutan untuk karyanya tersebut, seperti Muhammad Burhanuddin, wakil Syaikh Ruwaq Jawi al-Azhar, Ismail Abdul Wahhab ketua al-Jam’iyyah al-Khairiyyah al-Jawiyyah bi al-Azhar (Organisasi Kebajikan Nusantara di Al-Azhar), Muhammad Nur al-Ibrahimi Aceh, Zain Hamzah Aceh, Ali Rawi Jombang, dan lain-lain.

Baca Juga

 

Menariknya, dalam kitab ini, banyak digunakan nisbat al-Indunisi (Indonesia) untuk merujuk pada kawasan Nusantara. Hal ini menunjukkan kemunculan sebuah identitas baru bagi wilayah dan penduduk kawasan Kepualaun Nusantara (Asia Tenggara) dalam publikasi karya tertulis di Timur Tengah (dalam hal ini di Kairo, Mesir), setidaknya sejak 1925 ke atas. Sebelumnya, wilayah Nusantara dikenal dalam literatur Timur Tengah dengan sebutan Jawah atau Jawi. Para ulama Nusantara yang mengarang karya dan diterbitkan di Timur Tengah juga menisbatkan diri mereka dengan identitas al-Jawi (orang Jawi, orang Nusantara).

 

Para cendikiawan dan pelajar asal Nusantara yang berkedudukan di Kairo sejak awal abad ke-20 M memulai mewacanakan gerakan kemerdekaan bagi kalangan Bumi Putra dan kawasan Nusantara. Pada 1925, mereka mendirikan surat kabar bernama Seruan al-Azhar yang ditulis dalam bahasa Melayu aksara Arab dan dicetak di Kairo. Surat kabar ini banyak memuat warta, opini, dan tulisan lainnya yang menyerukan gerakan kebangkitan nasional dan kemerdekaan, serta mulai memakai istilah “Bangsa Indonesia”.

Baca juga:  Sabilus Salikin (16): Suluk dalam Pandangan Ibnu Taimiyah

 

Dua tahun berikutnya, 1927, para pelajar Nusantara di Kairo menerbitkan surat kabar lainnya, yaitu Merdeka, yang ditulis dalam bahasa Melayu aksara Latin. Surat kabar ini berjejaring dengan surat kabar “Bintang Timur” yang diterbitkan oleh para pelajar Nusantara di Belanda. Di antara tokoh cendikiawan Nusantara yang aktif di Kairo pada paruh pertama abad ke-20 M adalah Jinan Taib, Mahmud Yunus, Fathurrahman Kafrawi, Tahir Jalaluddin, Abdul Qahhar Mudzakkir, Ismail Abdul Wahhab, Muhammad Zain Hassan, dan lain-lain.

 

Para cendikiawan Nusantara yang menempa pendidikan di Al-Azhar Kairo pada paruh pertama abad ke-20 M kemudian melahirkan sebuah identitas gerakan pemikiran Islam yang berbeda dari “saudara tua” mereka, yaitu para cendikiawan Nusantara yang menempa pendidikan di Hijaz (Makkah-Madinah) pada kurun masa yang sama.

 

Dari Kairo lahir gelombang baru gerakan pemikiran Islam Nusantara yang lebih berhaluan modernis, sementara dari Hijaz terus mengalir arus pemikiran Islam Nusantara yang berhaluan tradisionalis. Para lulusan Kairo kelak banyak yang mengisi kursi-kursi kajian keislaman di perguruan tinggi Indonesia pasca kemerdekaan, sementara lulusan Hijaz lebih banyak mengisi kursi-kursi kajian keislaman di lembaga pendidikan Islam tradisional (pesantren).

Lihat Komentar (0)

Komentari