Sedang Membaca
Romansa, Sastra, dan Kontekstualisasi Kasih Sayang
Purnawan Andra
Penulis Kolom

Pegawai negeri sipil pada Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Lulusan Seni Tari Institut Seni Indonesia Surakarta

Romansa, Sastra, dan Kontekstualisasi Kasih Sayang

sastra

Kasih sayang adalah suatu nilai universal yang ada dalam kehidupan manusia. Ia menjadi dasar logika, tuntunan perilaku dan tujuan kualitas rasa yang hendak dicapai dalam kehidupan.

Untuk itulah kasih sayang dimanifestasikan dengan berbagai macam hal. Sebuah tanggal, 14 Februari) ditahbiskan sebagai momentum Hari Valentine, momentum perayaan cinta dan kasih sayang. Diungkapkan dengan berbagai cara, mulai dari peluk cium, acara istimewa seperti makan malam, memberi coklat atau kado lainnya.

Tidak lupa dibumbui dengan kata-kata indah mesra yang biasanya merupakan kutipan dari karya-karya sastra terkenal. Lirik atau syair puisi, petikan cerita novel atau buku sastra lainnya dikutip untuk mengungkapkan kasih sayang. Sastra seperti beroleh makna lebih sebagai pengungkap rasa cinta dan kasih sayang.

Karya sastra seperti puisi-puisi Chairil Anwar, Rendra, Sapardi Djoko Damono hingga syair liris Kahlil Gibran, Aan Mansyur, buku-buku roman Tere Liye, Pidi Baiq dan lainnya, jadi referensi, juga dibeli sebagai kado. Karya-karya sastra tersebut mewakili atau mungkin bahkan melampaui rasa cinta dan kasih sayang yang dirasakan.

Cinta dan kasih sayang yang identik dengan hubungan dua orang dalam tensi rasa romantis: sesuatu yang mendebarkan hati, membikin kangen, membangun rindu, tak henti ingin bersama. Kata-kata dalam karya sastra mewakili perasaan tersebut: romansa yang romantis.

Esensi

Tapi kita tahu tidak semua roman berkisah tentang cinta. Kadang ada sesuatu yang hendak disampaikan penulisnya, selain cinta. Sesuatu yang lebih genting, lebih urgent, lebih penting daripada rasa rindu dan ingin ketemu. Mungkin tentang problem sosial, psikologi, lingkungan, politik, hingga religiusitas. Cinta hanyalah salah satu cara untuk mengungkap esensi di balik cerita.

Baca juga:  Keistimewaan Siti Bariyah, Ketua ‘Aisyiyah Pertama (2, Bagian Akhir)

Romantisme cinta di naskah sastra lama sudah hadir diantaranya dalam cerita Ramayana, Serat Sri Tanjung, Serat Pranacitra (Rara Mendut), Serat Jayaprana (Layonsari) hingga cerita Panji. Berbeda dengan cerita Panji yang selalu berakhir bahagia, cerita lainnya berakhir tragis. Romansa tak mesti berakhir bahagia.

Cinta juga tak selalu romantis. Romantika cinta tak hanya tentang hubungan sepasang kekasih, tapi romansanya bisa menjadi representasi kondisi sosial jamannya. Ia menceritakan kondisi jamannya sebagai sebuah respon dan representasi kegelisahan, pemikiran dan sikap penulis atas kondisi jamannya. Ia melampaui arti dirinya sendiri karena ia bisa jadi merupakan konstruksi sosial yang tersirat dalam ceritanya.

Meskipun bercerita kisah cinta Romeo Juliet, Shakespeare sebenarnya bermaksud merefleksikan kehidupan monarki pada masanya. Novel Gone Wind The Wind tidak semata kisah cinta Scarlet O’Hara tapi merupakan refleksi kondisi sosial ekonomi Amerika pada jamannya. Kisah cinta Setadewa dan Larasati hanya sebuah konteks untuk menceritakan kondisi sejarah revolusi dan filsafat psikologi personal dalam roman Burung-burung Manyar karya YB Mangunwijaya.

Romantisme dalam novel atau roman hanya menjadi salah satu wahana untuk membicarakan logika dan konstruksi sosial. Seno Gumira Ajidarma (2021) menyebut Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai (1922) karya Marah Rusli menyuarakan pilihan personal dalam perjodohan sebagai sesuatu yang dilematis antara hormat pada orang tua dan kebebasan manusia. Ini menjadi isu penting dalam proses modernisasi pada masanya.

Begitu juga novel Karmila karya Marga T, mengisahkan seorang perempuan yang diperkosa kemudian menikah dengan pemerkosanya. Roman ini melampaui logika dan pertimbangan etis lewat pertarungan konflik batin dalam personalitas seseorang.

Seksualitas memang kerap menjadi sarana pengungkapan romansa dalam karya sastra. Bahkan pada masa Reformasi, karya-karya Ayu Utami dan Djenar Mahesa Ayu yang kerap menggambarkan seksualitas seolah menjadi pembebasan ekspresi tentang romantisme. Padahal seksualitas disini tak hanya merupakan ungkapan cinta, tapi juga menegasikan hasrat penindasan dan pameran kekuasaan. Ada masalah sosial besar di balik ekspresi seksualitas dalam karya sastra.

Baca juga:  Mengenal Resepsi Qur’an HB Jassin: “Alquran Itu Kitab Puitis!” (1)

Lebih lanjut dikatakan Seno, novel Telembuk: Dangdut dan Kisah Cinta yang Keparat karya Kedung Darma Romansha misalnya, penuh adegan seks dan kata-kata kasar vulgar. Tapi dibalik kisah cinta Safitri-Mukimin itu, ia sebenarnya berbicara mengenai pengetahuan lokal, etnografi religiusitas dan fakta sosial masyarakat yang aktual. Bahwa seksualitas itu tidak selalu berkaitan dengan percintaan, tapi juga penindasan, penyiksaan, kesakitan, trauma. Dititik inilah roman hadir tanpa sisi romantiknya, sastra merepresentasikan impian sebagai apa yang ada dibalik romansa itu. Pemaknaan ini penting diantara berbagai kasus seksual yang terjadi belakangan ini.

Kontekstual

Darinya kita sadar bahwa romansa juga hadir di pinggiran, di sistem nilai yang kerap tidak kita perkirakan, di lingkungan orang-orang yang barangkali tidak bisa menggambarkan rasa cinta dengan bahasa bersayap. Tapi ia menggambarkan realitas, yang kadang tidak diakui oleh ukuran sastra yang ada. Dan itulah keindahannya, yang tidak terletak pada romantismenya, tapi kadang dibaliknya.

Kemampuan literasi macam ini, seturut Anindita S Thayf (2023), bukan hanya sebatas perihal keberaksaraan, melainkan juga ajakan untuk terus belajar, berpikir kritis, serta mengasah nalar dan kepekaan sosial. Melalui literasi, seseorang akan mendapatkan ilmu pengetahuan yang sejati, yaitu pengetahuan penting dalam kehidupan yaitu tentang bagaimana dia harus menjalani hidup di muka bumi ini tanpa meninggalkan tugasnya sebagai manusia yang berakal budi dan berhati nurani, juga berakhlak dan berbudaya.

Baca juga:  Muhammad Ali dan Kampanye Islam Damai di Amerika

Dengannya kita bisa memaknai makna romantika cinta dengan lebih kontekstual. Ada sesuatu yang lebih besar dibalik romansa yang disampaikan dalam sastra, yaitu masalah kemanusiaan. Bahwa romantisme cinta dalam sastra adalah ekspresi simbolis kualitas nilai-nilai kehidupan. Dan dengan memahami makna cinta, kita jadi bisa memaknai kehidupan.

Erich Fromm, seorang psikoanalis Jerman, mendefiniskan cinta sebagai kekuatan aktif yang bersemayam dalam diri manusia; kekuatan yang mampu meleburkan tembok yang memisahkan manusia dengan sesamanya. Cinta mampu mengatasi problem keterpisahan dan isolasi manusia tanpa mengorbankan integritas serta keunikan diri masing-masing (nilai paradoksal cinta: become one yet remain two). Dari kata-kata; kekuatan aktif, mampu melebur, mampu mengatasi, dapat diketahui bahwa cinta adalah sesuatu aktivitas aktif dan bukan sesuatu yang pasif.

Sejajar dengannya, makna cinta dalam Islam sendiri juga sangatlah suci. Cinta haruslah didasari oleh kasih sayang dan dibuktikan dengan perbuatan. Dan apa- apa yang kita cintai di bumi ini haruslah karena Allah Ta’ala. Cinta sesungguh tidaklah pernah didasari oleh hawa nafsu.

Pemahaman ini penting dalam memahami spirit cinta dan kasih sayang dalam kehidupan, terlebih di negara yang masih kerap muncul friksi sosial, ekonomi, politik lewat isu disidentitas, diorientasi bahkan hingga disintegrasi ini. Literasi membuat kita jadi bisa mengerti bahwa romantisme itu bukan hanya kata-kata indah. Cinta bukan reaksi kimiawi perasaan lelaki dan perempuan, tapi rasa tanggung jawab, kepedulian, respek, pemahaman tentang manusia lain, kehendak untuk melestarikan kehidupan. Cinta adalah makna kehidupan itu sendiri.

 

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top