Penulis Kolom

Penulis Lepas. Ustadz di Pondok Pesantren Futuhiyah Mranggen Demak

Karya dan Cara Mengajar Kiai Muslih Mranggen

E0c13fbe C192 4d09 B456 2c33c3a0625e

Kiai Muslih adalah putra Kiai Abdurrahman bin Qashidil Haq yang lahir di Mranggen Demak, Jawa Tengah, pada tahun 1914 dan wafat di Mekah pada tahun 1981. Beliau merupakan pengasuh Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen dan mursyid tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN). Bila membaca sejarah tarekat di Indonesia, khususnya di pulau Jawa, nama Kiai Muslih akan sangat akrab di telinga kita.

Martin van Bruinessen (Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat, 2012: 268) menyebut Kiai Muslih sebagai tokoh sentral TQN pada tahun 1970-an, bersama dengan Abah Anom di Suryalaya, Kiai Thohir Falak di Pagentongan, Bogor, dan Kiai Mustain Romly di Rejoso, Jombang. Murtadho Hadi (2012) menyebut Kiai Muslih sebagai “Guru Sufi Tanah Jawa” bersanding dengan Abuya Dimyati Banten dan Kiai Romli Tamim Rejoso Jombang.

Kiai Muslih adalah kiai yang “al-mutabahhir”, nyegoro atau luas ilmunya. Beliau ahli dalam banyak bidang ilmu seperti nahwu, sharaf, balaghah, arudh, tauhid, tasawuf, tarekat, fikih, hadis, dan tafsir. Keahlian Kiai Muslih terbukti dari kepiawaian beliau dalam mengajarkannya dan karya-karya yang dihasilkannya.

Beberapa karya beliau adalah “Hidayatul Wildan” yang kemudian diterjemah oleh menantunya, Kiai Ridwan, dan terkenal dengan nama “Sullamu Sibyan” (kitab Nahwu berupa syair berjumlah 164 bait), “Inarotu Dzolam” (tauhid), “Umdatus Salik”, “Al-Futuhat Ar-Robbaniyah”, “Tuntunan Thariqoh” (2 Jilid), tiga kitab terakhir membahas tentang tarekat. Adapula kitab manaqib Syaikh Abdul Qodir Al-Jailany, syarh dari kitab “Al-Lujain Ad-Dani”, yakni “An-Nur Al-Burhany” yang terdiri dari dua jilid, dan “Yawaqitul Asany” yang baru diterbitkan 2009 lalu. Kiai Muslih juga menulis “Wasailu Wushulil Abdi Ila Maulah” (2 jilid) yang merupakan syarah kitab “Al-Hikam” karya Ibnu Athaillah As-Sakandari.

Baca juga:  Mun’im Sirry: Mujtahid Mazhab Revisionis

Karya-karya tersebut sebenarnya belumlah lengkap karena ada beberapa naskah yang belum ditemukan dan belum diterbitkan. Naskah yang belum ditemukan adalah “An-Nur Al-Burhany” jilid ketiga dan keempat. Naskah itu diduga hilang saat terjadi banjir di Semarang, dan waktu itu naskah tersebut berada di percetakan “Toha Putra”.

Kiai Muslih juga diyakini menulis syarh “Alfiyah Ibnu Malik” namun tulisan ini hingga kini belum ditemukan. Adapun naskah yang belum diterbitkan berjudul “Inarotu Ad-Daijur wa Ad-Duja fi Nadzmi Safinatin Naja” yang merupakan penjelas Kiai Muslih yang ditulis dalam bentuk syair atas kitab “Safinatun Naja”. Manuskrip itu masih disimpan oleh putra beliau, Kiai Hanif Muslih (Pengasuh Pesantren Futuhiyyah sekarang).

Kitab-kitab tersebut belum termasuk karya Kiai Muslih yang berupa doa dan wirid. Setidaknya ada tiga karya kumpulan doa beliau, yakni “Tsamrotul Qulub”, “Nasru Al-Fajr”, dan “Al-Munajat”. Tsamrotul Qulub sampai sekarang terus diamalkan secara kolektif oleh santri Futuhiyyah setiap bakda salat maktubah sedangkan dua yang terakhir diamalkan tetapi secara individual.

Ada satu pola yang dilakukan oleh Kiai Muslih yang itu membuktikan kalau beliau memang sangat ahli dalam ilmu arudh, yakni beliau sering kali mengutarakan pikiran dan doa dalam bentuk syair. “Hidayatul Wildan”, “Inarotu Dzolam”, dan “Inarotu Ad-Daijur wa Ad-Duja” adalah di antara bukti-buktinya. Bukti lain adalah beberapa syair munajat sebelum belajar, syair asmaul husna, dan syair “mali wala” yang terdapat dalam kitab Tsamrotul Qulub. Bahkan saat memberi catatan untuk tulisan karya Kiai Masruhan Mranggen, Kiai Muslih menulisnya dalam bentuk syair.

Baca juga:  Potret Perjuangan Ulama (5): Demi Ilmu, Ikhlas Jomblo

Kiai Muslih juga beberapa kali mengijazahkan doa-doa pada santrinya. Pada tahun 1963 saat hama tikus merebak, seperti diceritakan Kiai Shodiq, Kiai Muslih mengijazahkan doa pengusir tikus. Begitu juga saat geger G30 S/PKI pada tahun 1965, Kiai Muslih mengijazahkan amalan agar bisa terhindar dari kejahatan musuh. Hal itu, kata Kiai Shodiq, adalah bukti bahwa Kiai Muslih sangat peduli dengan santrinya.

Cara Mengajar Kiai Muslih

Menurut Kiai Ghazali Ihsan, salah satu murid Kiai Muslih, cara beliau mengajar sangat enak. Saking enaknya, lanjut Kiai Ghazali, sampai-sampai kalau ada yang pernah mengaji dengan Kiai Muslih maka ia akan ketagihan alias ingin mengaji lagi. Itulah sebabnya, masih kata Kiai Ghazali, pada tahun 1970-an banyak putra kiai dari Jawa Timur mengaji pada Kiai Muslih setiap Ramadan tiba. Di antara kiai yang pernah mengaji dengan Kiai Muslih adalah Kiai Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Kiai Miftahul Akhyar (Sekarang Rais Am PBNU), dan Kiai Masbuhin Faqih (pengasuh pesantren Mambaus Sholihin Gresik).

Kiai Muslih, seperti ditulis dalam “Sejarah Seabad Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen”, biasanya memulai pengajian Ramadan pada 17 Sya’ban sampai dengan 17 Ramadan. Di antara kitab yang pernah di-balagh Kiai Muslih adalah “Al-Mizan Al-Kubra”, “Shohih Bukhori”, “Shohih Muslih”, Jam’ul Mrangge, Al-Muhadzab, Al-Muwatha’, dan “Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid”.

Baca juga:  Perjalanan Intelektual dan Kelebihan Kiai Maimoen Zubair

Kiai Abdul Latif (murid beliau) mengatakan bahwa Kiai Muslih dalam membaca kitab sangat lantang dan jelas. Sehingga kalau hujan dan berisik pun, kata Kiai Latif, empat puluh orang masih bisa mendengar suara Kiai Muslih dengan jelas. Padahal, imbuh Kiai Latif, saat itu belum ada pengeras suara.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
5
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
1
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top