Sedang Membaca
Le Grand Voyage: Haji dan Kisah Perjalanan Spiritual Lainnya

Le Grand Voyage: Haji dan Kisah Perjalanan Spiritual Lainnya

Mohammad Pandu

Pada 1325, seorang muslim dan pengembara muda bernama Ibnu Battuta pergi meninggalkan kampung halamannya di Tangier, Maroko. Ia menyusuri pesisir Afrika Utara dengan menunggangi kuda menuju Makkah untuk berhaji.

Ia menempuh jalur darat hingga tiba di Kairo, lalu menyeberang dan bergabung dengan serombongan kafilah di Damaskus. Pemuda yang kelak singgah di Samudra Pasai itu menghabiskan waktu enam bulan untuk tiba di tanah suci Makkah.

Ibnu Battuta melakukan rihlah panjang ribuan kilometer bukan tanpa halangan dan cerita. Ia sempat dirampok dan ditawan bandit, di samping menyempatkan diri menikah dan bertemu dengan para alim, ahli zuhud, juga para sufi.

Transformasi berlangsung. Kemajuan moda transportasi momotong waktu berkali lipat para jamaah haji yang ingin menyempurnakan rukun Islamnya. Kini, kita tak perlu lagi bertemu bandit di jalan, perompak di laut, apalagi menikahi gadis-gadis di sepanjang perjalanan. Jalur udara adalah cara paling cepat, praktis, efektif dan efisien, meski belum tentu mampu memberi pelajaran hidup yang berharga.

Hal inilah yang mendorong Ismaël Ferroukhi, sutradara dan penulis naskah berkebangsaan Prancis-Maroko, menciptakan Le Grand Voyage (2004), sebuah film tentang perjalanan haji yang menyentuh hati.

Penonton Indonesia mestinya tak asing dengan film tahunan yang selalu tayang di teve nasional ketika musim haji tiba ini.

Le Grand Voyage (Perjalanan Agung) memang tak berkisah tentang Ibnu Battuta. Film ini menceritakan seorang ayah yang memutuskan pergi haji dari kotanya di Provence, Prancis Selatan menuju Makkah. Sang ayah (Mohamed Majd) bersikukuh meminta anak remajanya, Réda (Nicolas Cazalé) untuk mengantarkannya dengan mengendarai sebuah mobil tua.

Baca juga:  Rohani Manusia Haji

Seperti Ibnu Battuta, mereka mengambil jalan darat dengan jarak tempuh ribuan kilometer. Mereka menyusuri jalan-jalan besar berbagai negara Eropa mulai dari Italia, Slovenia, Kroasia, Yugoslavia, Bulgaria, Turki, dan terus ke selatan sampai Suriah dan Yordania, sebelum akhirnya tiba di Arab Saudi.

Film ini menjadi menarik karena dibangun oleh banyak faktor. Pertama, Le Grand Voyage adalah cerita tentang perjalanan (menuju Makkah) sebelum perjalanan lainnya (ritual haji). Kedua, ia menggambarkan bagaimana dua entitas dalam keluarga yang terkenal paling sulit mengungkapkan kasih sayangnya, ayah dan anak laki-laki, saling berdamai dalam hubungan yang rumit.

Ketiga, film ini menjadi simbol ketegangan antargenerasi di kalangan masyarakat imigran Prancis: orangtua yang religius dan masih menganut nilai-nilai lama, berhadapan dengan anaknya yang dibesarkan oleh sekularisme dan cenderung menganut nilai-nilai yang lebih modern.

Réda bukanlah remaja yang dekat dengan keluarga, tidak tertarik dengan kultur warisan leluhurnya, dan lebih menikmati kehidupannya di lingkungan luar.

Di rumah, jarak paling lebar tercermin dalam relasinya dengan sang ayah. Mereka sangat jarang mengobrol. Kalaupun harus, ayahnya –yang otoriter dan konservatif– lebih suka berkomunikasi dengan bahasa Arab-Maroko, lalu Réda akan menjawabnya dengan bahasa Prancis.

Tapi apa daya, nasib mengharuskan mereka berada dalam satu mobil untuk perjalanan sangat jauh. “Saya pikir jika saya dapat mengunci dua karakter dalam perjalanan 3.000 mil, mereka harus berkomunikasi,” kata Ferroukhi.

Sepanjang perjalanan menuju Makkah, Réda dan ayahnya banyak menjumpai orang-orang baru, pengalaman pahit, dan pelajaran berharga. Mereka bertemu dengan penipu di Istanbul, orang aneh di Sofia, dan janda miskin di Damaskus. Réda juga mulai belajar tentang arti kehidupan, memperbesar sifat altruisnya, dan terlebih memahami ayahnya sendiri.

Baca juga:  Ikan Asin, Terasi, Epidemi di Hijaz

Hingga suatu ketika, Réda menanyakan alasan ayahnya memilih berhaji lewat jalur darat, alih-alih membeli tiket pesawat saat di Prancis. Sang ayah pun menjawab,

“Air laut menguap saat ia naik menuju awan. Dan saat air laut menguap ia menjadi tawar. Itulah alasan mengapa lebih baik menempuh perjalanan haji dengan berjalan kaki daripada mengendarai kuda, dan lebih baik mengendarai kuda daripada naik mobil, dan lebih baik naik mobil daripada naik perahu, dan lebih baik naik perahu daripada naik pesawat terbang.”

Baca Juga
Merasakan Denyut Muslim Beijing 4

Ismaël Ferroukhi menggarap film ini cukup lama dan matang. Sutradara yang mengaku dirinya sebagai seorang Muslim kultural itu, melihat film ini lebih menggambarkan perjalanan spiritual ketimbang perjalanan religi.

Dalam proses penggarapan Le Grand Voyage, Ferroukhi memiliki perjalanannya sendiiri. Dia menulis skenario film ini pada tahun 1998, dan butuh lima tahun untuk benar-benar menyelesaikannya. Ferroukhi lalu mengirim naskah itu ke duta besar Arab Saudi di Paris, dan berhasil mendapatkan visa untuk empat kru, tapi dengan syarat: semuanya harus Muslim.

Kesulitan lain datang berjejalan saat kru harus turun ke lapangan dan melintasi beberapa negara. Tahun 2003, mereka sampai di Serbia di malam setelah perdana menteri dibunuh. Di waktu lain, setelah sampai menyeberangi Turki, Perang Irak pecah. Ferroukhi dan teman-temannya sempat ditahan beberapa kali. Pengorbanannya terlengkapi setelah sang produser, Humbert Balsan, bunuh diri karena putus asa telilit hutang. “Aku menyerahkan segalanya untuk membuatnya,” kata Ferroukhi.

Baca juga:  Sekaten Cinta untuk Kanjeng Nabi Muhammad

Kerja keras Ferroukhi dalam menggarap film keempat yang disutradarainya ini akhirnya terbayar tuntas. Le Grand Voyage mendapat dua nominasi di Festival Film Internasional Marrakech pada tahun 2004 dan di BAFTA (Best Film Not in the English Language) pada tahun 2006. Film ini juga mendapatkan penghargaan Luigi De Laurentiis di Festival Film Venesia pada tahun 2004, dan terpilih sebagai film terbaik di Festival Film Mar del Plata pada tahun 2005.

Kita beberapa kali mungkin pernah melihat berbagai film dokumenter berlatar di Makkah, atau mendokumentasikan ibadah haji. Tapi Ferroukhi patut berbangga, bahwa The Grand Voyage menjadi film fiksi pertama yang direkam di Makkah saat proses haji berlangsung.

Saat perilisannya di Prancis, Le Grand Voyage bertahan di bioskop selama enam bulan. Bahkan promosi film ini lebih besar digerakkan oleh mulut-ke-mulut. Sebuah pencapaian yang luar biasa.

Di arena festival, film ini sudah malang melintang dari Belgia sampai Argentina, dari Italia sampai negara-negara Arab dan Afrika. Di Maroko, lebih dari 4.000 orang menontonnya di layar raksasa di alun-alun Djemaa el-Fnaa, Marrakech. Film ini juga ditayangkan di pemutaran film lintas agama di London, yang diselenggarakan oleh Pusat Rekonsiliasi dan Perdamaian St. Ethelberger. (atk)

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top