Sedang Membaca
Hijrah dan Hal-hal yang Tak Boleh Luput
Penulis Kolom

Aktif di Komunitas Santri Gus Dur. Belum lama lulus kuliah di salah satu kampus negeri di Jogja. Bekerja sebagai peneliti dan penulis lepas.

Hijrah dan Hal-hal yang Tak Boleh Luput

Whatsapp Image 2020 05 30 At 12.23.20 Pm

Di lini masa Twitter, belakangan muncul perdebatan tentang pencapaian ideal orang di usia 25 tahun. Ada yang menganggap pencapaian orang tak bisa saling dibandingkan. Masing-masing punya jalannya sendiri. Ada pula yang bercerita tentang cara memandang kehidupan di masa-masa quarter-life crisis itu, yang sangat berbeda dengan cara pandangnya sekarang.

Menarik sebenarnya. Manusia selalu berubah. Mereka tumbuh dari tempaan berbagai faktor: lingkungan tempatnya tinggal, buku yang dibaca, bahkan pencarian spiritual yang intim. Setiap individu mempunyai pengalaman subjektif yang selalu berbeda dengan yang lain. Itulah kenapa, pada dasarnya saya tak merasa bermasalah ketika fenomena hijrah muncul di Indonesia.

Fenomena ini muncul sebagai bagian dari kegelisahan masal, terutama bagi jiwa-jiwa muda yang haus pencarian. Pelaku hijrah adalah bagian dari pribadi yang berubah, juga jiwa yang bertumbuh. Sesuatu yang sangat wajar terjadi.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Saya tak akan berpanjang lebar mengupas terminologi kata “hijrah” di sini. Namun perlu diketahui, term “hijrah” yang berkembang di masyarakat hari ini merupakan metafora dari pertaubatan seseorang. Dari pribadi yang dulunya sering melanggar perintah agama, berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

Ya, lebih baik. Istilah ini sebenarnya tricky. Naif kalau kita mengatakan selesai dengan istilah “lebih baik” saja, tanpa mempertanyakan: lebih baik yang seperti apa? Toh, Hitler membasmi orang-orang Yahudi tak bersalah demi Jerman yang lebih baik. NIIS yang melakukan berbagai teror di Suriah dan Irak juga berlatar belakang alasan demi Islam yang lebih baik.

Baca juga:  Kiai Sahal, Mendayung di antara Liberalisme dan Fundamentalisme (1)

Dari situlah penting menyelami hijrah dengan sangat berhati-hati. Pentingnya memilih guru yang tepat dan membuka diri lewat dialog juga menjadi faktor yang tak boleh dilewatkan. Sebab, jika dua elemen itu diabaikan, bisa saja hijrah yang dilakukan seseorang berujung pada keburukan yang lain. Lebih parah lagi, keburukan ini menjadi relatif aman karena bersembunyi di balik selimut agama.

Kita barangkali pernah melihat, seorang artis mendadak berubah menjadi ahli agama setelah berhijrah. Masalahnya, karena keilmuan yang belum memadai, ia menjelaskan agamanya dengan salah karpah. Di sisi lain, ada pula seorang pelaku hijrah yang kemudian merasa paling benar dan gampang menyalahkan, bahkan menyesatkan orang lain. Dua hal ini saya kira adalah efek samping negatif yang muncul dalam fenomena hijrah. Dua hal ini bisa saja terjadi karena ketidaksadaran, tapi bukan berarti tidak bisa diperbaiki.

Pertama, tentang dakwah yang tak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Saya memahami bahwa seorang yang mendalami agama setelah berhijrah, akan muncul perasaan ingin mendakwahkan agamanya. Tentu saja itu adalah niat yang baik. Tapi dakwah butuh lebih dari itu. Dakwah butuh keilmuan agama yang cukup. Sebab, setiap pesan dan landasan yang disampaikan oleh pendakwah selalu berdampak pada arah perilaku orang banyak. Kalau sampai salah menyampaikan, artinya kita juga ikut menyesatkan orang lain.

Baca juga:  Pendidikan Bebas Prasangka

Kedua, tentang perasaan lebih unggul setelah berhijrah. Ini jebakan yang halus sebenarnya. Jujur saja saya pernah berada di masa-masa seperti ini: menganggap diri paling benar, menyesatkan kepercayaan orang lain, bahkan rela membela agama demi ancaman-ancaman yang sebenarnya tidak ada. Tapi setelah saya pikir-pikir lagi dan mencoba membuka diri dengan dialog, saya menyadari bahwa sayalah yang masih tersesat.

Hijrah bukan hanya soal pejalanan religiusitas saja, tapi juga spiritualitas. Ia bukan hanya perihal memperbaiki tampilan menjadi lebih islami, tapi juga memperbaiki hati dan tindakan menjadi lebih manusiawi. Sekali lagi, hijrah adalah hak. Tapi setelah berhijrah, bukan lantas berhenti untuk introspeksi diri. Kita boleh berubah, tapi tak boleh berhenti bertumbuh.

Saya sepakat dengan apa yang pernah disampaikan Prof. Quraish Shihab dalam satu kesempatan: “Hijrah itu tidak lantas saat ini langsung hijrah, karena hijrah itu butuh perjuangan dan introspeksi diri. Maka harusnya itu dilakukan bertahap. Itulah sebabnya Islam dulu diterima dan masih bertahan sampai saat ini.”

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top