Sedang Membaca
Pemetik Puisi (27): Ajip Rosidi dan Pengemis Senen
Penulis Kolom

Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah

Pemetik Puisi (27): Ajip Rosidi dan Pengemis Senen

Ajip Rosidi

Cerita-cerita masih tersampaikan selama puluhan tahun bertokoh pengemis. Pada setiap Ramadan atau menjelang Lebaran, kehadiran pengemis di makam, depan masjid, ruang publik, pertokoan, atau kampung biasa bertambah. Mereka menjadi pihak “dikasihani” dalam hari-hari bagi umat Islam beribadah dan berbagi. Pengemis belum terlalu dipahami masalah di mata birokrasi. Tahun demi tahun, pengemis-pengemis menandai peristiwa di hari atau bulan sakral berurusan dengan duit atau makanan terberikan. Cerita perlahan berubah oleh kebijakan-kebijakan pemerintah tentang gelandangan, pengemis, dan sosok-sosok teranggap memicu masalah sosial, keindahan, dan ketertiban kota.

Larangan-larangan dibuat bagi pengemis. Larangan berlaku pula bagi pihak-pihak ingin memberi duit, makanan, atau benda. Pada 2021, jumlah pengemis di perkotaan berkurang setelah aparat-aparat pemerintah rajin mengadakan operasi. Pengemis memicu kesibukan. Pemerintah tak mau ada lagi pengemis. Sekian gagasan ingin diterapkan tapi ada situasi kesilaman dan khazanah cerita agak membingungkan dalam mengerti pengemis. Di pelbagai tuturan lisan atau teks sastra, pengemis sering diceritakan: bukan selalu pakaian lusuh dan meminta-minta. Sekian tokoh pengemis malah memiliki peran-peran bersinggungan politik, ekonomi, sosial-kultural, dan agama. Sosok itu memicu pula kiasan-kiasan diwujudkan dalam lagu. Kita sulit mengerti pengemis seperti tatapan birokrasi.

Masa demi masa, predikat dan pemaknaan pengemis bisa berubah. Pada masa 1950-an, Ajip Rosidi mengisahkan pengemis di kota melalui puisi berjudul “Pengemis Senen”. Indonesia sedang mau maju, revolusioner, dan gagah. Keberadaan pengemis-pengemis di kota dan kampung menjadi aib dari seribu seruan menjadikan Indonesia makmur, memusnahkan kemiskinan, mengharamkan kelaparan. Ajip Rosidi menulis: begitu mereka memandang kepadaku, tadjam dan hina/ tubuh ditumpuki beban, terdekap pada bumi/ terkatja dimatanja tangan maut pandjang dan tadjam/ akan menerkam daku. Pada suatu cerita, pengemis-pengemis bila sudah diberi duit kadang mengucapkan kata-kata sebagai bentuk terima kasih dan mendoakan. Kita menganggap ada sentuhan religius. Kata dan doa selalu sama disampaikan ke pihak-pihak memberi. Kebiasaan itu memunculkan anggapan pengemis memiliki penampilan lusuh, kalem, dan memelas. Pemahaman agak berubah bila membaca larik-larik Ajip Rosidi.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Baca juga:  Manuskrip Arab tertua: Kitab karya Abu Ubaid al-Qasim ibn Sallam

Pengemis bisa “menakutkan” dan menampilkan sejenis peringatan. Pilihan tempat bagi pengemis dalam mendapatkan uang atau makanan tentu menentukan pilihan tampilan dan bersikap. Di tempat ibadah atau kuburan, para pengemis mungkin “lemah” dibandingkan bila sedang bergerak di pertokoan atau ruang publik di tengah kota. Kita mengikuti lagi pengisahan Ajip Rosidi tentang pengemis di Senen, Jakarta: begitu mereka memandang kepadaku, harap dan bentji/ hidupnja telah dihisap, melondjak napsu didadanja/ aku berkatjakan diri pada mereka dan mereka dalam/ mataku. Pengemis tak selalu pihak lemah dan menerima. Pada pemahaman atas kiasan atau simbol, orang-orang mengetahui bahwa pengemis berhak memiliki pengetahuan, ocehan, dan sikap unik melampaui kewarasan. Pengemis tertentukan nasib bersama hubungan-hubungan tak jelas.

Di kalangan beriman, pesan-pesan untuk berbagi dan mengasihi-menghormati kaum lemah bisa teragukan berhadapan kebijakan-kebijakan pemerintah. Tata cara memberi dan membuat para pengemis tetap hidup menimbulkan dilema makna. Pada akhir puisi, Ajip Rosidi memberi deskripsi peristiwa: aku dan mereka berpisah, mereka pilih rumah sendiri di/ buminja/ tjuma karena tangan nasib mengulur berbeda. Pada masa 1950-an, para pengemis seperti “menguasai” kota dan kampung di Indonesia itu wajar. Hidup di Indonesia sedang ketagihan revolusi berdampak kegagalan orang menikmati hidup dalam batas-batas keumuman. Sekian orang menjadi pengemis atau gelandang. Cara hidup terbukitkan bial bergerak dengan berharap pemberian dibalas sekian ucapan dan doa: berulang, berulang, berulang. Begitu.

Baca juga:  Memahami Intoleransi Secara Struktural: Bercermin dari Kasus Kemendikbud
Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top