Sedang Membaca
Kota Islam (16): Isfahan, Kota Tua yang Sepenuhnya Berisi Keindahan
Avatar
Penulis Kolom

Jurnalis senior, desainer. Tinggal di Depok

Kota Islam (16): Isfahan, Kota Tua yang Sepenuhnya Berisi Keindahan

Unnamed

Musisi jazz dunia Duke Elington dan Billy Strayhorn menulis komposisi lagu berjudul Isfahan dalam album The Far East Suite pada tahun 1967. Komposisi lagu ini terisnpirasi ketika berkunjung ke Isfahan di Iran sebelum melakukan tour dunianya.

Dalam The Penguin Guide to Jazz disebutkan bahwa komposisi Isfahan bisa dibilang adalah salah satu paling indah di seluruh karya Ellington dan Strayhor.

Isfahan adalah kota yang memesona dunia sehingga dijuluki sebagai kota sparuh dunia. Kota ini mempunyai arti yang sangat penting dalam peradaban Islam. Isfahan tidak hanya kesohor sebagai pusat pemerintahan tetapi kota ilmu pengetahuan, perdagangan dan kebudayaan. Letaknya di jalur sutra, menjadikan Isfahan kota yang diperhitungkan dalam perdagangan dunia.

Di era Dinasti Safawi pada abad ke -16, Isfahan mencapai masa puncak kejayaannya ketika dijadikan ibu kota. Shah Abbas I berhasil mendirikan 163 masjid, 48 madrasah, 1801 toko hingga 263 tempat mandi umum. Era ini juga masa kejayaan arsitektur dan seni budaya.

Di Isfahan banyak sekali bolivuard, jembatan beratam, istana, masjid dan menaranya dengan arsitektur menawan. Salah satu yang paling kesohor adalah Masid Shah, Masjid Syikah Lutfallah adalah salah satu peninggalan arsitektur yang sangat mengagumkan. Kerajinan tangan seperti karpet, tembikar, permadani dan tak lupa seni rupa.

Baca juga:  Mitigasi Bencana: dari Syair Gempa hingga Lagu Anak

Kemasyhurannnya membuat Isfahan mendapat julukan sebagai Esfahān nesf-e jahan atau Isfahan adalah setengah dari dunia. Islam masuk Isfahan ketika Bani Abbasyiyah berkuasa saat dipimpin Khalifah al-Mansur. Berturut-turut kemudian beberapa Dinasti Islam menjadikannya sebagai ibu kota sepertti Dinasti Timurid, Buwaih, Seljuk hingga Safawi. Letaknya yang sangat strategis menjadikan Isfahan menjadi kota yang menyebarkan magnet ke seluruh penjuru dunia.

Salah satu peninggalan yang monumental hingga saat ini adalah masjid Persia dan bangunan kubah terjadi ketika Shah Abbas berkuasa pada 1598. Ia rekonstruksi Isfahan dengan matang. Salah satu peningaglannya adalah istana Qopu, masjid Lutfullah, hingga Lapangan Naqsh-e Jahan yang sangat masyhur. Bahkan lapangan ini adalah salah satu peninggalan warisan dunia versi UNESCO.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Rekonstruksi Isfahan dipimpin oleh seorang arsitek bernama Syaikh Bahai atau Bahauddin al-Amili. Tentang Lapangan Nasq e Jahan, seorang komposer Italia bernama Pietro Della Valle mengakui bahwa lapangan tersebut mengalahkan Piazza Navona di Roma kota asalnya.

Bangunan lain yang masyhur di Isfahan adalah masjid “al-Imam”. Masjid ini termasuk juga dalam daftar warisan UNESCO. Dibangun pada abad ke-17 masjid yang dikenal dengan Masjid Shah ini dibangun dalam rentang waktu yang cukup panjang, yaitu 20 tahun dengan menghabiskan batu bata tak kuran dari 18 juta dan 472.500 keping keramik. Konon masjid ini menggunakan teknologi tahan gempa hingga tegak hingga sekarang ini.

Baca juga:  Kota Islam yang Terlupakan (6): Mardin, Kota Tua yang Dinilai Tidak Islam

Maha karya arsitektur Isfahan selanjutnya adalah Istana Ali Qapu. Istana yang memiliki tujuh lantai ini dihubungkan dengan tangga spiral. Di lantai enam terdapat ruang musik dan lukisan dinding karya Persia yang paling kesohor: Reza Abassi.

Isfahan dengan segala gemerlap dan keindahannya adalah salah satu bagian penting dalam peradaban Islam terutama di Jalur Sutra. Banyak peninggalan dan artefak Islam yang masih bisa dilihat hingga sekarang. Namun, dengan segala keindahannya, Isfahan juga menjadi saksi, tak sedikit orang mati digantung.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
2
Senang
0
Terhibur
1
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top