Sedang Membaca
Membaca Pendapat Para Ulama Tentang Bulan Sya’aban

Membaca Pendapat Para Ulama Tentang Bulan Sya’aban

Nur Khalik Ridwan

Kita sudah memasuki bulan Sya’ban, bulan sesudah Rajab dan setelahnya adalah bulan suci Ramadan. Kenapa dinamakan bulan Sya’ban? Mari kita tengok pendapat Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari.

“Dinamakan Sya’ban karena orang-orang Arab berpencar mencari air atau berpencar di gua-gua setelah lepas bulan Rajab,” demikian kata Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, versi Maktabah as-Salafiyah, jilid IV: 213. Karena itu, bulan ini kadang dilupakan, setelah bulan Rajab sebagai bulan haram dan menanti bulan Ramadan.

Orang sering lupa, bulan Sya’ban ini adalah bulan yang memiliki keutamaan penting, sehingga banyak para ahli ibadah dan pegiat amal-amal kebaikan memanfaatkan bulan ini untuk diisi dengan berbagai kebaikan. Sebenaranya ada apa di bulan Sya’ban?

Salah satu jawabannya, dapat ditemukan dalam hadis Nabi Muhammad yang diriwayatkan Imam an-Nasai:

“Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Ya Rasulallah! Saya tidak pernah melihat engkau berpuasa dalam satu bulan di banding bulan-bulan lain seperti engkau berpuasa di bulan Sya’ban?” Rosulullah shollallohu `alaihi wasallam menjawab: “Itu adalah bulan yang banyak manusia melalaikannya, (bulan yang ada) terletak antara bulan Rajab dan Ramadhan. Dia adalah bulan amalan-amalan di angkat menuju Rabb semesta alam. Dan saya suka jika amalanku diangkat dalam keadaan saya sedang berpuasa.”

Riwayat di atas, disebut oleh Imam an-Nasa’i pada hadis No. 2357. Saya merujuk pada Sunan an-Nasai melalui Syarah Jalaluddin as-Suyuthi wa Hasyiyah Imam as-Sindi (versi Maktabah al-Islamiyah bi Halab, jilid IV: 201).

Baca juga:  Ketika Sastra Alpa dari Bangku Sekolah

Dalam kitab syarah ini ada keterangan apa yang dimaksud “syahrun turfa`u biha al-a’mal ila Robbil alamin”, dijelaskan dengan mengutip pendapat seorang syekh:

“Syekh Waliyuddin berkata: ‘Apabila engkau berkata apa artinya ini, bersamaan sesungguhanya juga telah ditetapkan dalam hadits-hadis Shahihain bahwa Allah mengangkat (catatan) amal-amal malam sebelum amal siang (pagi), dan amal-amal di siang sebelum amal-amal malam hari (sore). Saya berkata: ‘Ini mengandung 2 perkara, salah satunya, adalah amal-amal seorang hamba itu dikembalikan kepada Allah setia hari (pagi dan sore), kemudian dikembalikan kepada-Nya amal-amal Jumat (kumpulan mingguan) di dalam setiap hari Senin dan Kamis. Kemudian dikembalikan kepada-Nya (catatan) amal-amal setahun di bulan Sya’ban…” (IV: 202).

Menurut keterangan hadis di atas, dan penjelasan dalam syarah as-Suyuthi atas hadis itu, keutamaan bulan Sya’ban berkaitan dengan catatan amal-amal manusia, yang dicatat oleh malaikat pencatat, yang dalam setahun dilaporkan kepada Allah. Dalam Alquran disebutkan:

“Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan” (QS al-Qomar [54]: 52-53).

Amal-amal manusia di tiap saat ada dalam buku catatan amal, tak pernah dilupakan barang sedikitpun, dicatat oleh malaikat pencatat.

Sebenarnya juga bukan hanya soal catatan amal saja yang dilaporkan tahunan pada bulan Syaban, tetapi juga masih banyak keutamaan yang lain.

Baca juga:  Peran Generasi Milenial Bagi Duka Ibu Pertiwi

Oleh karena itu, Nabi diriwayatkan banyak berpuasa pada bulan ini, untuk menyambut Sya’ban, mendekati banyak jumlahnya dengan bulan Ramadhan: kadang sebulan penuh kadang tidak, agar tidak dianggap sebagai puasa wajib.

Baca Juga

Dalam kitab Quttul Qulub (pada Kitab as-Shaum), disebutkan begini: “Suatu waktu beliau suka menyambung shaum Sya’ban dengan Shaum Ramadan tetapi kadang juga memisah Shaum Ramadhan dan Sya’ban (artinya puasa Sya’bannya tidak sebulan penuh).”

Dalam riwayat Sayyidah Aisyah disebut puasanya Nabi:

“Dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sampai kami mengatakan bahwa beliau tidak berbuka, dan berbuka sampai kami mengatakan bahwa beliau tidak berpuasa. Dan saya tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyempurnakan puasa dalam sebulan kecuali di bulan Ramadan. Dan saya tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada bulan Sya’ban…” (HR. Bukhari, No. 1970).

Demikian juga, orang-orang saleh dahulu berupaya menghidupkan Sya’ban: siangnya berpuasa dan melakukan amal amal lain, kemudian malamnya banyak salat, terutama pada malam Nisyfu Syaban.

Tentu tidak hanya puasa dan salat, tetapi juga semua amal kebajikan sangat bernilai pada bulan ini. Sampai-sampai Nabi Muhammad pun ingin pada bulan Sya’ban ini dicatat sebagai sedang berpuasa.

Baca juga:  Mengupas Novel Perdana Goenawan Mohamad

Karena keutamaan bulan Syaban itu, sebagaian ulama kemudian menulis soal itu, di antaranya adalah Syaikh Salim as-Sanhuri al-Maliki dengan judul Risalatul Kasyfi wal Bayan `an Fadha’ili Lailati Nishfi Sya’ban (versi Dar Jawami`il Kalim, Kairo) dan Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki yang menulis Ma Dza fi Sya’ban (Silsilah Idhoh yang ke-6, 1424 H.). Wallahu a’lam.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top