Strategi Dakwah Rasulullah Saw Menghadapi Kafir Quraisy

Nur Hasan

Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi kenapa kaum Quraisy Mekkah, menolak dakwah yang dibawa oleh Rasulullah saw. Apa saja faktor?

Menurut Ahmad Syalabi dalam kitabnya Al-Mausu’ah Al-Tarikh Al-Islamiyah Fi Ushul Al-Ushtha, faktor pertama yang menjadi pemicu ditentangnya dakwah Rasulullah saw yaitu; para pemimpin Quraisy tidak bisa menerima tentang ajaran yang dibawa oleh Rasulullah saw, yaitu tentang kebangkitan kembali dan pembalasan di akhirat nanti.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Mereka mengira bahwa tunduk kepada seruan Nabi Muhammad saw, berarti tunduk kepada kepemimpinan Bani Abdul Muthalib, karena kaum Quraisy tidak bisa membedakan antara kenabian dan kekuasaan.

Kemudian faktor lainnya, yaitu takut kehilangan mata pencaharian sebagai pemahat patung dan penjual patung. Karena hal tersebut, merupakan mata pencaharian kaum Quraisy Mekkah pada waktu itu.

Kaum Quraisy dari kalangan bangsawan tidak setuju dengan ajaran yang didakwahkan oleh Rasulullah saw, yaitu tentang kesetaraan antara hak hamba sahaya dan kaum bangsawan. Dan yang terakhir adalah kepercayaan yang sangat kuat kepada nenek moyang mereka. Faktor inilah yang menjadikan kaum Quraisy melawan, dan menentang dakwah Rasulullah saw ketika berada di Mekkah.

Kaum Quraisy dengan segala caranya, menentang dakwah Rasulullah saw ketika berada di Mekkah. Upaya pertama adalah dengan membujuk Abu Thalib, yang merupakan paman Nabi Muhammad saw yang sangat disegani, sekaligus pelindung dakwah beliau.

Pada waktu itu, kaum Quraisy menawarkan dua pilihan kepada Abu Thalib, yaitu memerintahkan Nabi Muhammad saw untuk menghentikan dakwahnya atau menyerahkan beliau kepada mereka untuk dibunuh.

Baca juga:  Bagaimana Orde Baru Merancang Hoaks Seputar Pancasila?

Abu Thalib yang mendapat ancaman tersebut, memberi tahu Nabi Muhammad saw untuk menghentikan dakwahnya. Akan tetapi Nabi Muhammad saw menjawabnya demikian:

“Demi Allah, saya tidak berhenti memperjuangkan amanat allah ini. Walaupun seluruh anggota keluarga dan sauadara saya akan mengucilkan saya.”

Mendengar jawaban dari keponakannya tersebut, Abu Thalib merasa terharu, dan kemudian berkata; “Teruskanlah, demi Allah aku akan terus membelamu.”

Baca juga:

Karena langkah awal yang digunakan merasa gagal, kaum Quraisy kemudian menggunakan langkah selanjutnya untuk menentang dakwah Rasulullah saw. Mereka mengutus Walid bin Mughirah dengan membawa Umarah bin Walid sebagai ganti untuk Rasulullah saw.

Umarah bin Walid adalah seorang pemuda gagah dan tampan, yang menjadi alat tukar untuk mendapatkan Rasulullah saw. Akan tetapi, utusan kaum Quraisy yang ingin menukar Umarah bin Walid dengan Rasulullah saw di tolak oleh Abu Thallib.

Karena gagal merayu Abu Thalib, kaum Quraisy langsung membujuk Rasulullah saw untuk menghentikan dakwahnya dengan iming-iming tahta, wanita, harta. Akan tetapi semua tawaran tersebut ditolak oleh Rasulullah saw, beliau mengatakan kepada mereka.

“Demi Allah, biar pun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan ditangan kiriku. Aku tidak akan berhenti melakukan ini, sehingga agama ini menang atau aku binasa karenanya.”

Karena gagal dengan cara membujuk, kemudian para pemimpin Quraisy melakukan cara-cara intimidasi. Para pemimpin Quraisy melakukan tindakan kekerasan yang lebih intensif, dengan menyerukan menyiksa para anggota keluarga dari kelompok mereka yang masuk Islam, dan juga menyiksa para budak yang masuk Islam sampai mereka kembali keluar dari agama Islam (murtad).

Baca juga:  Membeli Tiang Masjidil Haram

Melihat perlakuan yang dilakukan oleh kaum Quraisy kepada umat Islam, Rasulullah saw mengatur strategi supaya bisa mengindarkan umat Islam dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kaum Quraisy. Strategi yang dilakukan oleh Rasulullah saw untuk menghindarkan kaum muslim dari intimidasi kaum Quraisy Mekkah pada waktu itu adalah memerintahkan mereka untuk hijrah ke Habasyah (Ethiopia).

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Tercatat dalam rombongan pertama hijrah, yaitu di tahun kelima kerasulannya. Ada sekitar 15 orang, yang terdiri dari 10 laki-laki 5 perempuan yang hijrah ke Habasyah dibawah komando Utsman bin Affan, termasuk Rukyah binti Muhammad yang merupakan istri Utsman bin Affan.

Kemudian pada rombongan kedua, ada sekitar 81 orang yang terdiri dari 80 laki-laki dan 1 perempuan. Perempuan tersebut adalah Ummu Habibah, yang merupakan putri Abu Sofyan.

Umat Islam diterima oleh raja Habasyah yang bernama Negus (Najasyi), yang merupakan seorang Kristen. Kaum muslimin diterima dengan baik oleh seorang raja, yang beragama Kristen.

Apa yang dilakukan oleh raja Habasyah adalah sebuah tauladan Ukhuwah Insaniyah, atau tali persaudaraan atas nama kemanusiaan yang sangat dijunjung tinggi dalam ajaran Islam, dan selalu diajarkan oleh Rasulullah saw kepada umatnya. Ketika ada sesama manusia yang mendapat perlakuan zalim. Maka perlu menolongnya, tanpa melihat latar belakang agama yang dipeluknya.

Raja Habasyah yang menerima dengan baik kaum muslimin yang hijrah ke negerinya diketahui oleh para pemimpin kaum Quraisy, sehingga mereka mengirim Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ untuk membujuk raja Negus (Najasyi) agar menolak kehadiran umat Islam di sana.

Baca juga:  Sisi Kelam Khalifah Harun ar-Rasyid: dari Suka Mabuk hingga Kejam

Akan tetapi permintaan tersebut ditolak oleh raja Negus. Walaupun kekejaman terhadap umat Islam meningkat, justru dua orang kuat dari kaum Quraisy malah masuk Islam, yaitu Hamzah dan Umar bin Khattab.

Rasulullah saw berhasil menyelamatkan umat Islam dari intimidasi dan kekerasa dari kaum Quraisy, dengan hijrah ke Habasyah. Akan tetapi, kaum Quraisy tidak menyerah untuk selalu berusaha menentang dakwah Rasulullah saw, yang semakin hari semakin diterima banyak kalangan.

Upaya kaum Quraisy untuk menghentikan dakwah Rasulullah saw, setelah berbagai upaya yang dilakukan gagal adalah dengan memboikot seluruh keluarga Bani Hasyim. Mengapa?

Karena menurut mereka, kekuatan Nabi saw terletak pada keluarganya yang melindunginya, baik yang sudah masuk Islam maupun yang belum masuk Islam. Sehingga, mereka memutus semua hubungan yang berkaitan dengan Bani Hasyim.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Semua penduduk Mekkah dilarang untuk melakukan jual beli dengan Bani Hasyim. Akibatnya ada di antara dari keluarga mereka menderita kelaparan. Tindakan pemboikotan ini berlangsung sekitar tiga tahun, yaitu dari tahun 7 kenabian hingga tahun ke-10 menjelang wafatnya Abu Thalib dan Siti Khadijah.

Nabi Muhammad adalah teladan bagi para dai atau mubalig dalam menyebarkan nilai-nilai Islam yang rahmmata lil alamin, dengan penuh kegigihan, rendah hati, dan kesabaran,

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top