Sedang Membaca
Menyimak Gaduhnya Wacana Sains dalam Islam

Menyimak Gaduhnya Wacana Sains dalam Islam

Nur Hasan

Perkembangan sains dan teknologi di era modern seperti saat ini, berdampak terhadap munculnya problem-problem baru dalam kehidupan umat manusia, termasuk kehidupan keagamaan. Hal tersebut disebabkan wilayah sains telah merambah dalam ranah yang sensitif ,yakni keyakinan manusia. Kemajuan teknologi perihal munculnya rekayasa genetika, bioteknologi memaksa para agamawan mengkaji dan berpikir ulang tentang konsep-konsep yang selama ini telah dianggap mapan.

Beberapa dekade terakhir, agama sering dikonfrontasikan dengan sains atau ilmu pengetahuan dalam konsepsi kontemporer atau modern. Sering juga dilihat secara dikotomis, apakah merupakan suatu harmoni ataukah pertentangan? Benarkah bahwa kemajuan kemajuan sains dan teknologi bisa menjadi ancaman bagi agama? Bagaimana kita harus menjelaskan ketika orang beragama sangat mencurigai, bahkan merasa takut terhadap sains dan teknologi, dan begitu pun sebaliknya. Tidak sedikit para saintis dan ahli teknologi yang cenderung menolak agama dan menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak relevan bagi kehidupan manusia, terlebih khusus dalam pengembangan sains dan teknologi.

Sikap konfrontatif atau kecurigaan tersebut, disebabkan kurangnya pengetahuan dan kompetensi masing-masing mengenai yang terjadi dalam bidang riset ilmiah dan apa yang khas bagi monoteisme otentik. Ian G. Barbour dalam bukunya Issus in science and religion menulis tentang perbandingan metode agama dan sains yang berisi pembahasan mengenai; Pertama, kemiripan agama dan sains yang berisi tentang; pengalaman dan interpretasi, peran komunitas dan analogi serta model.

Kedua, menyangkut tentang partisipasi individu dan iman religious, yang mencakup pembahasan partisipasi individu dan konsentrasi puncak, teologi biblikal dan teologi natural, interaksi Iman (komitmen) dan akal (penemuan) yang sama-sama tidak eksklusif, dan komitmen religius dan pertanyaan reflektif. Ketiga, tentang Wahyu dan keunikan yang menyangkut ketergantungan agama samawi terhadap peristiwa historis, khususnya perbandingan tentang hubungan partikularitas dan universilitas menurut teolog, ilmuwan dan sejarawan.

Pada bagian pertama Barbour menyebutkan bahwa kesamaan metode antara sains dan agama paling tidak terdapat dalam tiga hal yaitu: dalam hubungan pengalaman dan interpretasi, peran komunitas agama dan paradigmanya serta dalam penggunaan analogi dan model. Manusia terdiri atas dua unsur, yaitu jasmani dan rohani yang secara otomatis kedua unsur itu memiliki kebutuhan-kebutuhan tersendiri. Kebutuhan jasmani dipenuhi oleh sains dan teknologi, sedangkan kebutuhan rohani dipenuhi oleh agama dan moralitas. Apabila dua aspek itu terpenuhi, menurut agama dia akan berbahagia di dunia dan di akhirat. Bahkan agama menekankan kebahagiaan rohani lebih penting dan bernilai dari pada kebahagiaan materi.

Baca juga:  Bencana Alam di Mata Habib Luthfi

Barbour kemudian menyebutkan bahwa ketika agama pertama kali berjumpa dengan sains modern pada abad ke-17, ternyata keduanya menikmati perjumpaan tersebut dengan penuh persahabatan yang erat. Pada saat itu, mayoritas penggagas revolusi ilmiah adalah orang-orang Kristen taat yang memiliki keyakinan bahwa tujuan kerja ilmiah pada hakikatnya adalah mempelajari ciptaan Tuhan. Perkembangan pada abad ke-18 diwarnai dengan munculnya beberapa ilmuwan yang berkeyakinan bahwa Tuhan Sang Perancang alam semesta bukan lagi Tuhan yang personal, yang aktif terlibat dalam kehidupan manusia dan alam semesta.

Sedangkan Pada abad ke-19, mulai bermunculan ilmuwan yang mengabaikan pentingnya agama. Walaupun Darwin, sebagai penggagas teori evolusi yang menggemparkan dan berimbas pada krisisnya kepercayaan orang pada entitas Tuhan dan agama, masih tetap berkeyakinan bahwa proses evolusi sesungguhnya adalah kehendak Tuhan itu sendiri. Akibatnya, pada abad ke-20 interaksi antara sains dan agama secara perlahan mengalami keragaman bentuk secara dinamis. Temuan-temuan baru para saintis mengundang respon dari agamawan yang tetap berusaha mempertahankan gagasan-gagasan keagamaan klasik.

Sebagai bentuk respon, sebagian tetap berupaya berpegang pada doktrin tradisional, namun sebagian lain mulai berani meninggalkan tradisi lama, serta sebagian yang lain berinisiatif merumuskan kembali konsep keagamaannya secara ilmiah. Menurut Barbour, memasuki era milenium bermunculan secara masif minat terhadap isu-isu tersebut di kalangan saintis, teolog, media, dan masyarakat umum.

Ian Barbour yang merupakan seorang saintis Kristiani Barat, kemudian memetakan relasi sains dan agama ke dalam empat model: konflik, independensi, dialog, dan integrasi. Dalam tipologi konfliknya, Barbour melihat sains dan agama sebagai dua hal yang selalu bersebrangan dan bertentangan, sehingga tidak ada pilihan bagi kita kecuali menolak agama dan menerima sains sepenuhnya, atau sebalikya, menerima agama secara total dan sembari menolak sama sekali sains. Dalam model konflik ini, salah satu hal yang biasanya dipertentangkan adalah antara materialisme yang dianut sains dengan supranaturalisme agama atau literasi kitab suci.

Baca juga:  NU dan Tradisi Otokritik: KH M. Hasyim Asy'ari Saja Dikritik

Model ini berpendirian bahwa agama dan sains adalah dua hal yang tidak sekadar berbeda, tapi sepenuhnya bertentangan. Karena itu, seseorang dalam waktu bersamaan tidak mungkin dapat mendukung teori sains dan memegang keyakinan agama, karena agama tidak bisa membuktikan kepercayaan dan pandangannya secara jelas, sedangkan sains mampu membuktikannya. Berbeda halnya agama yang mempercayai Tuhan tidak perlu menunjukkan bukti konkret keberadaannya, sains justru menuntut pembuktian semua hipotesis dan teori dengan kenyataan.

Model kedua adalah Independensi, yaitu  melihat sains dan agama adalah dua bidang yang sama sekali berbeda, menggunakan metode dan bahasa berbeda, dan seringkali juga membicarakan tentang persosalan yang berbeda. Bahwa sains berusaha menjelaskan data objektif, umum, dan berulang-ulang. Sementara agama berbicara tentang masalah eksistensi tatanan dan keindahan dunia dan pengalaman seseorang seperti pengampunan, makna, kepercayaan, keselamatan dan lain sebagainya.

Model ketiga adalah model dialog. Model ini bermaksud mencari persamaan atau perbandingan secara metodis dan konseptual antara agama dan sains, sehingga ditemukan persamaan dan perbedaan antara keduanya. Upaya ini dilakukan dengan cara mencari konsep dalam agama yang serupa atau sebanding dengan konsep dalam sains atau sebaliknya.

Model Keempat adalah model integrasi, yang berusaha memadukan sains dan agama secara utuh. Barbour mencontohkan dirinya dan beberapa sarjana Kristen, yang tengah berupaya membangun suatu “teologi evolusioner”, yaitu sebuah teologi baru yang dibangun berdasar teologi tradisional namun telah dibayangi oleh pandangan dunia yang baru, di mana evolusi alam semesta maupun evolusi kehidupan di bumi menjadi salah satu penggerak terpentingnya.

Dalam model konflik, teori evolusi dipandang menyingkirkan Tuhan. Maka dalam model integrasi, evolusi justru dianggap sebagai salah satu cara Tuhan menciptakan alam semesta dan isinya. Integrasi dipandang sebagai yang paling ideal dalam relasi sains dan agama. Model ini berusaha mencari titik temu pada masalah-masalah yang dianggap bertentangan antara keduanya.

Baca Juga

Dalam tradisi Muslim, diskursus tentang relasi sains dan agama juga mengalami dinamika yang menggembirakan dan menyakinkan. Bahkan muncul gagasan- gagasan perlunya penafsiran sains secara Islam melalui apa yang  disebut sebagai “Sains Islam”.

Baca juga:  Harlah Lesbumi ke-56: Kebudayaan Pesantren dan Fungsi Politisnya

Mehdi Golshani misalnya, dalam bukunya versi terjemahan Indonesia “Melacak Jejak Tuhan Dalam Sains: Tafsir Islami Atas Sains” mengatakan bahwa gagasan tentang sains Islam telah beredar sepanjang tiga puluh tahun terakhir lebih. Dalam pandangannya, sains Islam adalah jenis sains yang di dalamnya banyak pengetahuan tentang dunia fisik yang terkandung dalam pandangan Islam.

Sedangkan dalam pandangan Mulla Sadra, sains dan agama ada pada posisi yang sangat harmonis, sehingga cukup memberikan kerangka yang jelas bagi perkembangan pemikiran Islam pada umumnya. Kerangka yang dirancang oleh pemikir Islam kelahiran Persia ini, menjadi gambaran kontras dari perkembangan pemikiran Barat, yang cenderung menempatkan sains dan agama secara konfrontatif, dan bahkan konflik.

Fethullah Gulen, Intelektual Muslim asal Turki memandang ilmu pengetahuan dan iman tidak hanya bersesuaian (compatible) tetapi saling melengkapi. Karenanya, ia mendorong penelitian ilmiah dan pengembangan teknologi demi kebaikan umat manusia

Beberapa isu yang dibahas oleh Fethullah Gülen terkait hubungan Islam dan sains dalam bukunya The Essentials of Islamic Faith diantaranya adalah; pertama, hubungan antara kebenaran ilmiah dan kebenaran agama. Kedua, pandangan Islam atas pendekatan ilmiah modern terhadap alam semesta. Ketiga, pendekatan Alquran terhadap ilmu pengetahuan.

Dalam pandangan Gulen, sampai saat ini umat Islam masih belum mengembangkan konsep sains dalam makna sebenarnya, yang berdasar pada nilai-nilai Islam dan diformulasi terutama dari Alquran dan praktik Nabi SAW. Ia menegaskan bahwa asumsi pemisahan wahyu akal yang selama ini dipahami, sebenarnya merupakan asumsi keliru, justru pertentangan yang seharusnya ada adalah antara pandangan sekuler dan religius.

Sains dan fakta ilmiah adalah benar selama bersesuaian dengan Alquran dan hadis. Sains dan agama adalah dua entitas yang berbeda sebagai sumber pengetahuan dan sumber nilai bagi kehidupan manusia. Meskipun secara filosofis keduanya berbeda, namun secara historis pernah dilakukan upaya-upaya konsolidatif baik dalam konteks kontraproduktif maupun dalam konteks mutualistik. (RM)

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top