Nur Ahmad
Penulis Kolom

Alumus Master’s Vrije Universiteit Amsterdam dan Dosen Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, UIN Walisongo, Semarang.

Inilah Kamus Jawa Kuno yang Tidak Terlalu Kuno

Img 20200516 Wa0017

Pening kepala saya! Apa gerangan yang terjadi? Rupa-rupanya karena Kamus Jawa Kuno karya Zoetmoelder dan Robson yang amat populer itu didasarkan pada karya-karya yang sangat kuno. Masa sebelum Islam hadir. Melalui manuskrip-manuskrip yang selamat sejak masa tulisan ada di Jawa hingga abad ke-15. Rujukannya adalah kakawin-kakawin dan kidung-kidung sebelum Islam

Jadi semua karya sejak abad ke-15 yang mengandung unsur-unsur Islam tidak dijadikan rujukan. Dalam daftar rujukan tidak akan ditemukan karya-karya dalam tembang macapat, yang memang muncul di era Islam. Apalagi suluk-suluk yang jelas-jelas hasil dari kajian kitab-kitab yang dipopulerkan lewat puisi.

Dampaknya tentu saja banyak! Salah satu yang terpenting adalah salah perujukan.

Saya berikan ilustrasi. Kamus itu ditulis didasarkan pada karya-karya Jawa Kuno dari era abad ke-9 hingga abad ke-15. Celakanya, saya, Anda, dan banyak filologi membaca kamus itu sebagai rujukan kata-kata sulit dalam manuskrip Jawa yang berasal dari era Islam, mulai abad ke-16 hingga abad ke-19.

Saya tidak mau terlalu keras. Dalam banyak hal manfaatnya amat besar. Kita jadi tahu kosakata yang kita cari itu. Orang Jawa di masa lalu yang sangat lalu (sebelum abad ke-15) dengan orang Jawa di masa lalu yang lebih dekat (setelah abad ke-15) masih saja sama menyebut ikan dengan “iwak”. Tapi dunia tidak selebar kolam ikan. Perubahan-perubahan penting selama beratus tahun itu pasti ada, bukan?

Di sini saya perlu mewanti-wanti. Misalnya kata “hyang”. Kita bisa maklum kalau kata ini muncul sebelum era Islam diterjemahkan dengan “dewa, dewi, yang dipuja..”. Keyakinan Hindu memang ditandai dengan banyak sekali dewa-dewa. Lagi pula, seperti saya bilang, rujukan kamus ini memang kakawin di masa Hindu itu. Jadi Kamus Jawa Kuno sudah melakukan tugasnya. Tapi akan aneh, jika sebuah kamus Bausasrta Jawa hasil kerja Tim Balai Bahasa Yogyakarta ikut-ikutan mengartikan hyang dengan “sesebutaning dewa”. Jika dia merujuk ke Kamus Jawa Kuno artinya telah terjadi salah perujukan.

Masih baik bahwa Kamus Jawa Kuno memberikan makna “Tuhan” bagi kata itu. Tapi kalau Bausastra Jawa tidak menyebutkan – atau menghilangkan – makna ini? Apalagi Bausastra Jawa dianggap sebagai rujukan kosa-kata bahasa Jawa di masa kini. Artinya Bausastra Jawa enggan merujuk perubahan bahasa yang berlangsung selama 500 tahun sejak Islam hadir di Jawa!

Perubahan itu terjadi sejak Islam masuk. Seluruh naskah kuno Islam, yang kuno tapi tidak terlalu kuno itu, menyebut Tuhan dengan Hyang dan seringkali disertai beragam pasangan sebagai sifat, seperti Widhi, Suksma, dan Agung, serta yang lainnya. Jadi ketika kata Hyang Widhi muncul dalam sebuah kitab puisi untuk menerjemahkan Tuhfatul Mursalah Ilan Nabi, yang dikenal dengan Suluk Tuhfah, adalah bertentangan dengan isi kitab untuk menerjemahkannya dengan dewa, bukan? (Lihat gambar pada baris 7).

Img 20200516 Wa0018
Dok. Nur Ahmad

Jangan seperti beberapa peneliti yang masih saja mencampur adukkan perubahan makna itu. Saya bisa cukup pintar karena membaca Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan oleh Koentjaraningrat. Katanya, ada tujuh unsur universal kebudayaan. Sistem agama adalah unsur yang paling sulit berubah. Ada di urutan pertama. Sedangkan bahasa ada di urutan kelima. Artinya jauh lebih mudah berubah daripada agama. Bila kenyataannya sebuah sistem agama berubah di masyarakat, maka seluruh sistem di bawahnya sangat mungkin berubah searah dengan agama baru. Ini bisa dilihat pada perubahan kakawin ke macapat, mandala ke pesantren, dan lainnya.

Tapi masih ada saja yang berbuat kebalikan. Ini bikin saya tambah pening. Jadi masih keras kepala mengatakan bahasa “hyang” harus kembali ke pemaknaan pada era sebelum masyarakat berubah menjadi Islam. 

Pada Bausastra Jawa, saya tidak mau menaruh curiga berlebih. Toh memang tidak ada Kamus Jawa Kuno Yang Tidak Terlalu Kuno itu. Jadi kamus-kamus yang ada terpenggal sejarahnya. Kamus modern harus merujuk ke kamus kuno, melewati begitu saja masa kamus kuno yang tidak terlalu kuno, sejak Islam hadir. Karya-karya di masa Islam dan pembentukannya sebagai agama keraton di Jawa dan proses kajian pesantren yang memperkaya kosakata Jawa kita, tidak pernah, dan nampaknya tidak bisa, menjadi rujukan.

Ini tugas yang amat dahsyat. Zoetmoelder dan Robson tidak bisa ditandingi tingkat keseriusan dan ketelitian mereka. Semua kosakata yang muncul di Kamus Jawa Kuno pasti dirujukkan pada sebuah karya yang jelas di masa kuno. Jadi, seandainya kita ingin mengecek apakah konteks kata tertentu tepat, kita bisa cari rujukan pada kakawin-kakawin.

Saya tidak pernah tahu kamus-kamus Jawa ditulis dengan sistem semacam ini.

Tapi hal itu bukannya tidak mungkin. Karya-karya baik puisi (berupa macapat), prosa, maupun terjemahan kitab ala pesantren, sejak era Islam masuk sudah cukup banyak yang disunting dan diterjemahkan. Drewes memiliki beberapa suntingan yang amat penting karya yang sudah lahir pada abad ke-16. Purbacaraka juga memiliki Suluk Wujil yang berasal dari era yang sama, namun mengandung isi jauh ke-era Majapahit. Saya juga pikir bisa ikut andil dalam memberikan informasi, membaca manuskrip, dan memberikan masukan pengertian. Misalnya ada beberapa kitab yang dikaji dipesantren sejak era Sultan Agung yang masih bisa ditemukan di Amsterdam, Leiden, London. Saya cukup dibuatkan proyek biar dapat uang dan bisa jalan-jalan untuk akses kitab-kitab itu, bukan?

Tentu saja manfaat kamus semacam ini tidak hanya mengoreksi kosakata. Kosakata kuno yang tidak terlalu kuno juga bisa masuk ke dalam kamus itu. Bila kata “masjid” tidak ada di Kamus Jawa Kuno itu bukan karena kosakata ini tidak muncul di masyarakat Jawa. Ia tidak muncul sebelum Islam hadir. Tapi manuskrip-manuskrip kuno yang tidak dianggap kuno itu sejak era Islam, memberi bukti bahwa kata “masjid” ada sejak lama. (Lihat gambar pada baris 1 “masjid ageng”). Ini belum juga mencakup kosakata-kosakata penting di era sofisme masuk ke dalam bahasa masyarakat Jawa. Sulit bukan membayangkan berbicara tentang tasawuf dengan beragam terminologinya dalam bahasa Jawa modern? Tapi para ulama dan santri-santri mereka telah berusaha melakukan hal ini dengan amat ciamik di masa lalu. Lihat dan bacalah sesekali karya-karya suluk. Bila kesulitan, kita buat kamus jawa kuno yang dianggap tidak terlalu kuno dulu. Tapi ini jadi lingkaran setan tersendiri. Orang malas baca suluk karena bahasanya susah. Belum ada kamusnya. Orang mau buat kamus akan kesulitan karena bahasa suluk masih susah, sebagian tidak ada di Kamus Jawa Kuno.

Aduh!

Tapi tunggu dulu. Saya sudah terlalu pusing. Apalagi jika harus ikut kerja yang amat keras semacam ini. Pasti akan membuat saya semakin pusing. Akan lebih baik saya tidur. Toh di bulan Ramadhan ini, tidur menghasilkan pahala sama banyak dengan bangun. Otak saya juga bisa tahan lama, karena jarang digunakan. Saya bisa berharap hidup lebih lama daripada rata-rata usia harapan hidup manusia di negeri ini.

Tidur juga bisa membuat saya lupa akan urusan yang maha penting itu. Biarlah para pengkaji Sastra Jawa yang kuno namun tidak terlalu kuno itu yang melakukan penelitian. Biar mereka merasakan pening terlebih dahulu. Setelah itu saya akan ajak mereka tidur. Pahala mengajak tidur di bulan puasa saya pikir akan menambah pahala tidur saya. Bahkan kalau saya berhasil mengajak banyak orang tidur, dan menjadikannya ajaran yang diturunkan ke anak-cucu, itu akan menjadi pahala jariyah bagi saya.

“Tidurlah saat pening menghadapi masalah penting, apalagi ketika puasa”, kata anak-cucu saya mengingat kakek-buyut mereka. Dengan demikian, setelah saya mati, pahala itu akan terus mengalir ke kubur saya. Bukan?

Baca juga:  Namaku Asher Lev: Pergolakan Iman Pelukis Besar Yahudi
Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
3
Senang
0
Terhibur
2
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top