Sedang Membaca
Ekspresi Sufistik dalam Puisi Tradisional Jawa (2): Ushul Suluk-Ngaji Ihya Ulumuddin di Era Walisongo
Nur Ahmad
Penulis Kolom

Alumus Master’s Vrije Universiteit Amsterdam dan Dosen Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, UIN Walisongo, Semarang.

Ekspresi Sufistik dalam Puisi Tradisional Jawa (2): Ushul Suluk-Ngaji Ihya Ulumuddin di Era Walisongo

Whatsapp Image 2020 07 07 At 10.56.46 Pm

Kiai Haris Shodaqoh, Pengasuh Pondok Pesantren al-Itqan, Bugen, Semarang, punya “wirid” yang terkenal di antara murid-muridnya. Beliau yang seringkali memakai bakiak kemana-mana ini selalu mengadakan kajian kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam al-Ghazali dari waktu ke waktu. Jika sudah khatam, maka beliau ulangi lagi dari juz satu hingga juz empat. Seperti itu terus. Seperti roda di gerobak.

Dahulu format ngaji rutin ini adalah kilatan. Yaitu, berasal dari kata “kilat”, kilauan cahaya yang muncul di kala hujan. “Kilat” adalah proses di mana terbukti kecepatan cahaya yang lebih cepat daripada suara. Kilatan adalah ngaji cepat, sangat cepat. Tujuannya adalah menyelesaikan pembalahan kitab. Caranya kiai memberikan makna-makna kosakata sulit saja pada satu kitab dengan sangat cepat sehingga selesai dalam jangka waktu yang pendek.

Format kilatan menghendaki kitab sebesar Ihya yang berjumlah empat jilid itu khatam dalam waktu singkat. Untuk itu, beliau seringkali harus ngaji hingga berjam-jam agar kitab selesai dibaca sesuai deadline. “Kuwi biyen pas jek nom-nome”, “Itu dulu ketika (aku) masih muda”, begitu kira-kira tutur Kiai Haris kepada saya ketika saya sowan kemarin. “Saiki wes rak kuat lungguh jam-jaman”, “sekarang, (aku) sudah tidak kuat duduk berjam-jam”, lanjut beliau.

Usia sepuh memaksa beliau untuk ngaji Ihya dalam format yang lebih slow. Sekarang beliau mbalah kitab Ihya setiap hari bakda maghrib, kecuali malam Jumat dan malam Selasa. Kajiannya lebih berpusat pada pemahaman. Beliau akan memberi makna ala pesantren dalam bahasa Jawa dengan metode utawi-iku, lalu beliau akan memberikan penjelasan. Tidak seperti kilatan, yang lebih menekankan cepatnya memberikan terjemahan kata – utamanya pada kosakata sulit. Namanya juga kilatan, diusahakan secepat “kilat”.

Berbeda dengan pengajian Ahad pagi yang diikuti ribuan jamaah umum, dulu pengajian Ihya hanya diikuti belasan atau dua puluhan santri. Saya dulu berpikir. Ini kitab memang khusus. Kitab Ihya itu ibarat kamar presidential suite di hotel berbintang lima. Dia berada di tingkat paling tinggi jajaran kitab akhlak dan tasawuf di pesantren. Ibarat rukun Islam, ngaji Ihya itu seperti pergi haji. Hanya orang-orang yang sudah mampu yang bisa mengkajinya.

Baca juga:  Memahami Pemikiran Al-Ghazali (9): Ilmu Pengetahuan Menurut Imam Al-Ghazal (Part 3)

Saya yang baru masuk pesantren di tingkatan Madrasah Tsanawiyah (sekelas SMP) waktu itu tentu cukup sadar diri. Belum cukup ilmu alat dan belum cukup pengantar kajian kitab yang lebih dasar. Saya lebih dulu harus mengkaji kitab Akhlaq Lil Banin karya Syekh Umar bin Achmad Baradja, Ulama kelahiran kampung Ampel Surabaya pada Mei 1913. Bahkan beredar “mitos” di antara santri-santri pemula, “bisa gila kalau mau mengkaji belum waktunya”.

Saya tidak cukup percaya sebenarnya. Itu hanya cara agar para santri fokus belajar dan tertib sesuai kurikulum kelas diniyah. Santri baru harus menghafal kitab Nazam Aqidatul Awam dulu. Meskipun saya yakin karena sikap egaliter Mbah Yai, panggilan sayang dan hormat kami kepada beliau, akan mengizinkan para santri baru ikut ngaji Ihya. Kalau mengingat sikap Mbah Yai itu, saya jadi menyesal–seperti penyesalan wanita desa nan miskin yang menolak lamaran seorang lelaki desa yang sekarang menjadi direktur perusahaan–mengapa dulu tidak sempat ikut ngaji kitab ini dengan Mbah Yai.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

***

Ihya itu saya bayangkan seperti guru yang amat tua. Seperti guru agama di sekolah dasar yang mengajar ibu, kakak, dan kemudian diriku sendiri. Lebih tepatnya, turun temurun selama berabad- abad. Ihya mengamati mereka yang mempelajarinya dalam perubahan masa yang amat panjang.

Ia seperti menyaksikan kisah-kisah cara santri mengaji. Yang tiduran, sampai benar-benar tertidur sambil ngorok bin ngiler. Yang menggunakan paha, kanan-kiri, sebagai alas ketika memberikan terjemahan. Yang menggunakan meja dari sisa-sisa kayu, ini termasuk mewah di pesantrenku dulu.

Baca juga:  Istighfar ala Sari al-Saqthi

Ia menjadi saksi akan beragam sarana belajar pesantren. Beragam jenis kertas: lontar, daluwang, kertas Eropa, hingga kertas-kertas modern pernah menjadi rumahnya. Dari masa tulis tangan hingga cetak. Melibatkan beragam aksara: pegon, hanacaraka, dan kini latin, serta aksara lokal lainnya.

Ajaran-ajaran Ihya digubah ke dalam macapat, prosa, babad, dan beragam ekspresi lainnya. Diterjemahkan dalam bahasa Jawa, Sunda, Madura, Melayu, dan hampir seluruh bahasa di Nusantara. Rajutan kisah berada di pusaran kitab Ihya di Nusantara sejak lama.

Di Jawa, kita bisa menemukan orang menyebut Ihya mulai masa para Walisongo. Kitab berjudul Ushul Suluk (Prinsip Tasawuf) adalah sebuah kisah berisi wejangan Syekh Bahri. Kitab kuno ini disebut-sebut dikarang, sebagaimana disebut di akhir kitab, oleh Sunan Bonang. Kitab ini terdapat pada sebuah manuskrip yang termasuk paling awal hijrah ke negeri Eropa. Berbulan berada di kapal sejak 1598, hingga akhirnya mendarat di Leiden, Belanda.

GWJ Drewes (1899-1991) pasti girang, seperti anak kecil yang mendapat es krim yang didambanya seminggu, ketika menemukan kitab ini dikaji mahasiswa bimbingannya. Dia tidak puas dengan pembacaan muridnya, lalu melakukan kajian sendiri. The Admonition of Seh Bari, sebuah transliterasi dan terjemah dari teks itu, menjadi satu karya monumentalnya.

Kitab yang ditulis dengan aksara Jawa ini menyebutkan, “wedaling carita saking kitab Ihya’ Ulumuddin”, “Ajaran Prinsip Tasawuf ini didasarkan pada kitab Ihya’ Ulumuddin”. Penyebutan yang sejauh ini tertua untuk kajian kitab Ihya di Jawa, sejak sekira 5 abad yang lalu.

***

Ushul Suluk mengulas saripati dari kitab Ihya. Hal ini sangat penting untuk melihat diskursus keagamaan di masa itu. Pertama, penggunaan bahasa Jawa untuk sebuah karya sufistik-filosofis semacam Ihya menunjukkan betapa kajian agama telah berada di posisi puncak. Proses panjang kajian agama pasti telah terjadi. Seiring waktu, bahasa lokal akhirnya mampu mengungkapkan aspek agama Islam yang paling mendalam, yaitu tasawuf (esoterism).

Baca juga:  Hasna binti Fayruz, Spesialis Tarekat Cinta

Saya sebagai orang Jawa pasti kesulitan untuk mengungkapkan konsep “ketiadaan azali”, “wujud”, “adam”, dan konsep penciptaan yang amat musykil bagi orang awam itu dalam bahasa Jawa. Namun, kitab ini menjadi bukti bahwa orang kuno itu mampu.

Mangka anabda Shehul Bari, he mitraningsun, Abdul Wahid angucap kang liwung den-t(e)gesaken maring ora ikupon kufur, karana t(e)gesing liwung iku suksmaning Pangeran, mahasuci sadya ananira tan ana wikana ing suksmanira, tan lyan piambekira uga, punika reke t(e)gesing kang liwung sadya wruh in suksmanira piambek

“Syekh Bahri berkata, “Wahai saudaraku! Adalah dari kekafiran bahwa Abdul Wahid mengajarkan bahwa “kosong” harus ditafsirkan sebagai “Adam/Non-eksistensi”, karena yang dimaksud dengan “kosong” (liwung) adalah Esensi Tuhan, yang Wujud-Nya itu transenden dan abadi, tidak diketahui oleh seorangpun kecuali oleh-Nya. Apa yang disebut dengan “Kekosongan Primordial” adalah bahwa Dia Maha Mengetahui Dzat-Nya Sendiri”.

Sepanjang karya yang nampak berisi polemik akidah dengan Abdul Wahid dan beberapa tokoh sufi lainnya, kita menjadi sadar akan betapa tinggi kajian akidah dalam masyarakat sehingga mudah saja diungkapkan dalam bahasa Jawa. Bahasa adalah batas dari pengetahuan, kata sebagian pemikir. Jadi jika seorang tak bisa membahasakannya, sesuatu itu tidak masuk mendalam dalam pengetahuannya, apalagi di masyarakat. Melihat kenyataan ini, masyarakat Jawa masa lalu sudah bisa membahasakan konsep-konsep jlimet tasawuf. Sesuatu yang amat sulit ditemukan lagi dalam bahasa Jawa modern.

Lima ratus tahun sudah Ihya’ Ulumuddin menemani masyarakat memperkukuh agamanya. Sampai berapa ratus lagi dia akan bersama masyarakat kepulauan ini? Hanya sejarah yang akan menjawab.

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top