Sedang Membaca
Tempat Bersejarah di Tanah Suci dan Arab Saudi (1): Masjid Quba
Nasrullah Jasam
Penulis Kolom

Kepala Kantor Urusan Haji Indonesia, Konsulat Jenderal Republik Indonesia. Menyelesaikan S3 di Universitas Abd. Malik Al Sa'adi, Maroko, bidang Sejarah Agama dan Peradaban Islam (2010).

Tempat Bersejarah di Tanah Suci dan Arab Saudi (1): Masjid Quba

Tempat Bersejarah di Tanah Suci dan Arab Saudi (1): Masjid Quba

Bagi jamaah haji atau umroh, Masjid Quba adalah masjid yang kerap dikunjungi baik sebagai situs sejarah maupun dengan tujuan untuk ibadah. Masjid Quba adalah masjid yang sering disebutkan dalam buku-buku sejarah sebagai Masjid yang pertama kali dibangun oleh Rasulullah SAW di Madinah al-Munawwarah dan masjid yang pertama kali dibangun dalam Islam.

Quba sendiri asalnya adalah nama sebuah sumur, yang kemudian menjadi nama perkampungan yang dihuni oleh Bani ‘Amru bin ‘Auf. Dinamakan masjid Quba karena ketika Rasulullah SAW hijrah ke Madinah melewati pemukiman Bani ‘Amru bin ‘Auf tepatnya dikediaman Kaltsum bin Hidmi dan mendirikan masjid yang dinamakan masjid Quba.[1]

Masjid ini dibangun oleh Rasulullah SAW dan para sahabat pada tahun pertama Hijriah, terletak di selatan barat kota Madinah dengan jarak kurang lebih 3 kilometer dari masjid Nabawi. Di dalam masjid tersebut terdapat sumur milik Abu Ayub al-Anshori yang dikenal dengan sumur “Mubârak an-Naqoh” yaitu tempat pemberhentian unta Rasulullah SAW ketika masuk ke kota Madinah.

Diriwayatkan dari Ibnu Abi Khaitsumah, ketika membangun Masjid Quba, Rasulullah SAW adalah orang yang pertama meletakkan batu di tempat kiblatnya, kemudian diikuti oleh Abu Bakar, Umar, dan sahabat-sahabat lainnya.  Setelah Nabi Muhammad SAW mendapatkan perintah untuk mengubah arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram, Rasulullah SAW membangun kembali Masjid Quba dengan menyesuaikan arah kiblat sesuai perintah wahyu.

Baca juga:  Masuknya Islam di Nusantara versi Habib Salim bin Jindan

Masjid Quba mengalami renovasi pada zaman Utsman bin Affan. Pada zaman Umar bin Abdul Aziz, beliau membangun menara Masjid Quba untuk mengumandangkan azan, kemudian kembali direnovasi pada masa Sultan Abdul Majid II Daulah Utsmaniyah pada tahun 1245 H. Pada masa pemerintah Kerajaan Arab Saudi, Kementrian Haji dan Waqaf melakukan perluasan Masjid Quba sehingga bisa menampung kapasitas 20 ribu jamaah. Bentuk bangunan Masjid Quba seperti masjid pada umumnya hanya saja bagian tengahnya terdapat ruang lapang yang di atasnya terdapat atap yang bisa dibuka-tutup, masjid Quba memiliki 4 menara untuk mengumandangkan adzan dan 56 kubah. Komplek Masjid Quba juga dilengkapi dengan pemukiman para imam dan muadzin, perpustakaan, dan tempat tinggal para penjaga masjid.

Sampai saat ini Masjid Quba masih diziarahi ribuan umat Islam dari penjuru dunia baik yang sedang menjalankan ibadah haji maupun umroh.

Keutamaan Masjid Quba

Rasulullah SAW bersabda:

”من تطهر في بيته ثم أتى مسجد قباء فصلى فيه صلاة كان له كأجر عمرة”  (رواه إبن ماجه)

“Barang siapa yang bersuci di rumahnya kemudian mendatangi Masjid Quba dan sholat di dalamnya, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala umroh.” (HR. Ibnu Majah).

Rasulullah SAW sering mendatangi Masjid Quba setiap hari Sabtu, terkadang dengan menunggang kendaraan dan terkadang dengan berjalan kaki.

Baca juga:  Merawat Kefitrian Bulan Syawal: Sejarah dan Peristiwa Unik Bulan Syawal

Diriwayatkan dari Umar bin Syabbah dalam kitab Akhbâr Madinah, dari Sa’ad bin Abi Waqash, beliau berkata: sungguh sholat di Masjid Quba 2 raka’at lebih aku sukai daripada mendatangi Baitul Maqdis sebanyak 2 kali, jika mereka mengetahui apa yang terdapat dalam Masjid Quba niscaya mereka akan memukul unta mereka (bergegas) untuk pergi kesana. Masjid Quba juga merupakan masjid yang di dalam al Quran disebut sebagai masjid yang dibangun atas dasar ketaqwaan sebagimana firman Allah swt. dalam surat at Taubah ayat 108:

…لا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا لَّمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِيهِ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَن يَتَطَهَّرُواْ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ…

Janganlah engkau sholat dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya masjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.

Sebagai bandingan dari Masjid Dhiror yang didirikan oleh orang-orang munafiq yang tujuannya untuk menghancurkan Islam. Seperti diceritakan beberapa riwayat bahwa ketika agama Islam sudah mulai menyebar dan kuat di kota Madinah, seorang Kristen yang bernama Abu Amir merasa ditinggalkan banyak pengikutnya sehingga ia meminta bantuan kepada penguasa Romawi untuk memerangi Nabi Muhammad SAW dan kaum muslimin, kemudian Abu Amir menyampaikan pesan kepada kaum munafiq Madinah perihal kabar gembira terkait dengan akan tibanya bantuan bala tentara dari Romawi, dan ia meminta teman-teman munafiqnya di Madinah untuk membangun sebuah pusat informasi sebagai basis kegiatan mereka, mengingat kekuatan Islam begitu kuat di Madinah, tentunya sangat sulit bagi mereka untuk membangun tempat tersebut secara terang-terangan oleh karena itu mereka pun membangun sebuah masjid–sebagai kedok-untuk pusat kegiatan mereka agar tidak dicurigai oleh umat Islam bahkan agar kedok mereka tidak terbongkar.

Baca juga:  Saat Para Habib Berkumpul di Al-Azhar Mengetuk Pintu Langit

Kaum munafiq ini meminta Nabi Muhammad SAW sholat di masjid tersebut dan nabi berjanji akan sholat di masjid itu sekembalinya beliau dari perang Tabuk. Namun Rasulullah SAW mendapatkan wahyu yaitu Surat at-Taubah ayat 107-110 dan beliau pun memerintahkan para sahabat untuk membakar dan meruntuhkan masjid tersebut dan menjadikan lokasinya sebagai tempat pembuangan sampah.

Pelajaran berharga dari peristiwa Masjid Dhiror ini adalah hendaknya umat Islam jangan hanya terpukau oleh hal-hal yang sifatnya permukaan saja, sementara tujuan intinya terabaikan. Mempercantik masjid penting tapi lebih penting lagi bagaimana memakmurkannya dengan berbagai kegiatan keagamaan sehingga yang baik bukan hanya fisiknya tetapi fungsinya juga baik.

[1]  Muhammad Ilyâs Abdul Ghôni, al masâjid al atsariyah fi al Madînah al Munawwaroh, hal:25, al mathâbi’ arrasyidah, Madinah.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top